Toddler / Balita (18 bulan -3 tahun) pada Perkembangan Bahasanya

By | 05/11/2020

AsikBelajar.Com | Pada awal tahun kedua, toddler tiba-tiba seperti mengerti apa pun yang kita katakan. Misalnya, jika kita mengatakan “waktunya makan siang”, maka ja akan menunggu di tempat makan; jika kita mengatakan ”kehilangan sepatu”, maka ia akan berusaha mencari dan menemukannya. Pada awalnya, mungkin kita beranggapan bahwa daya tanggapnya yang cepat merupakan hal yang luar biasa. Kadang-kadang kita bertanya apakah ia benar-benar mengerti apa yang kita katakan ataukah ini hanya imajinasi kita saja? Hal itu memang benar terjadi dan perilaku tersebut menunjukkan bahwa ia sedang mengembangkan kemampuan berbahasanya dan kemampuan memahami sesuatu dengan benar.

Lompatan besar perkembangan ini, mungkin akan mengubah cara kita berkomunikasi dengannya. Misalnya dengan mengurangi kata-kata yang biasa kita gunakan sewaktu berbicara padanya, atau menghindari mengeja kata-kata tertentu (misal : e-s-k-r-i-m) yang biasa kita lakukan pada saat kita merasa ia tidak mengerti perkataan kita. Karena ia sangat responsif, kadangkadang kita menjadi sangat antusias berkomunikasi dengannya. Selanjutnya, kita harus mulai mengurangi penggunaan “bahasa bayi” (seperti: ”tutu” untuk mengganti kata ’susu’”) dan tidak perlu lagi menyanyi sendiri dengan suara keras untuk menarik perhatiannya. Sebaliknya, justru kita perlu mencoba berkata dengan suara perlahan tetapi jelas, serta menggunakan kata-kata sederhana dan kalimat pendek, misalnya pada saat mengajarkan nama benda dan bagian tubuh, kita tidak lagi menggunakan kata ganti yang lucu. Memberikan contoh bahasa yang baik kepada anak-anak akan membantunya belajar berbicara dengan cara yang tidak membingungkannya.

Meskipun memiliki pendengaran dan intelejensi yang normal, beberapa anak tetap tidak banyak berbicara meskipun sudah menginjak tahun kedua. Perkembangan kemampuan berbahasa anak laki-laki pada umumnya lebih lambat dibandingkan anak perempuan. Kata-kata pertama yang dikuasainya hanya sedikit, biasanya meliputi nama-nama orang yang dikenalnya, benda- #6.5

benda favoritnya atau bagian-bagian tubuhnya; bahkan mungkin hanya orangtua atau orang-orang di sekelilingnyalah yang mengerti kata-kata yang diucapkannya. Anak-anak kadang menghilangkan atau mengganti suara tertentu, misalnya, anak kecii mungkin menguasai konsonan-konsonan pertama (b,d,t) dan vokal (a,e,i,o,u), namun pada saat menyebutkannya ia membuang kata terakhir atau kata-kata yang ia anggap sulit, misalnya “tidub” untuk kata “tidur”, huruf “r” diganti dengan huruf ”b” karena ia sulit mengucapkan huruf ”r”.

Selanjutnya toddler akan membuat kalimat penuh menurut versinya sendiri yaitu dengan cara mengkombinasikan kata-kata tunggal dengan sebuah gerakan atau bunyi lain. Dia mungkin menunjuk dan mengatakan “bola,” pada saat ia ingin kita menggulirkan bola padanya. Atau ia mungkin membentuk pertanyaan dengan mengatakan “ke luar”, “ke atas?”, sambil meninggikan suaranya di akhir kalimat. Segera ia akan mulai mengkombinasikan kata kerja atau kata depan dengan kata benda untuk membuat pemyataan, seperti “bola ke atas” atau “minum susu,” dan pertanyaan, seperti “apa itu?”. Pada akhir tahun, atau segera setelah itu, dia akan mulai menggunakan kalimat yang berisi dua-kata.

Setelah melewati usia 2 tahun ia akan melewati penggunaan kalimat yang berisi dua atau tiga kata (Misal: “minum jus,” “mama mau kue”) dan beralih kepada kalimat yang berisi empat, lima, atau bahkan enam kata (“Di mana bolanya, ayah ?” atau “Barbi duduk di pangkuanku”). Dia juga mulai , menggunakan kata ganti (saya, kamu, kita, dia, nya) dan mengerti konsep ; “punyaku” (“Aku mau gelasku,” “Aku melihat ibuku”).

Beberapa anak usia Kelompok bermain mengembangkan keterampilan, berbahasa dalam kecepatan yang tetap, sementara anak lainnya tampak seperti menguasai kata-kata tetapi tanpa tujuan yang jelas atau ada juga sebagian anak yang secara alami lebih banyak bicara dibanding anak lainnya. Ini tidak berarti bahwa anak yang lebih banyak bicara lebih pintar, lebih maju atau memiliki kosa kata yang lebih kaya dibandingkan dengan anak yang lebih banyak diam. Pada kenyataannya, anak yang peridiam mungkin lebih banyak memiliki kosa kata, tetapi dia memilih kata-kata yang menurut dia sesuai delam berbicara. Secara umum, anak laki-laki lebih lambat mulai berbicanya daripada anak perempuan. #6.6

Sumber:
Aisyah, Siti. 2008. Materi Pokok Perkembangan dan Konsep dan Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional. Hal. 6.5-6.6.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *