Teori Perkembangan Kognitif Vygotsky

By | 04/04/2021

AsikBelajar.Com | Lev Semionovich Vygotsky (1896 – 1934) adalah seorang ahli psikologi sosial berasal dari Rusia. Teori perkembangannya disebut teori revolusi sosiokultural (sociocultural-revolution). Hasil risetnya banyak digunakan dalam mengembangkan pendidikan bagi anak usia dini. Seperti eksperimennya tentang eksplorasi pemikiran anak-anak, sebagai beriku: “Disebuah eksperimen Vygotsky menginstruksikan anak- anak dan orang dewasa untuk merespons dengan cara yang berbeda ketika mereka melihat warna yang berbeda, dia menyuruh mereka mengangkat sebuah jari jika melihat warna merah, menekan tombol jika melihat warna hijau, dan seterusnya untuk warna-warna yang lain. Kadang-kadang dia membuat tugas yang sederhana, terkadang membuatnya sulit dan dititik tertentu dia menawarkan bantuan memori ini. Di dalam eksperimen-eksperimen tersebut anak-anak yang paling muda, antara usia 4-8 tahun, bertindak seolah-olah mereka bisa mengingat suatu hal. Entah tugas ini sederhana atau sulit, mereka segera melakukannya setelah mendengar instruksi-instruksi tersebut. ketika para peneliti menawari mereka gambar dan kartu untuk membantu anda mengingat, biasanya #55

mereka mengabaikan bantuan-bantuan itu, atau menggunakannya secara tidak tepat, anak kecil simpul Vygotsky”tidak tahu kapasitas dan keterbatasan mereka’atau bagaimana mereka menggunakan stimuli eksternal untuk membantu mereka mengingat sesuatu. Anak-anak yang lebih tua, biasanya 9 -12 tahun, menggunakan gambar-gambar yang ditawarkan Vygotsky dan bantuan-bantuan ini sungguh menyempurnakan performa mereka. Yang menarik adalah tambahan bagi bantuan-bantuan semacam itu tidak selalu memperbaiki ingatan orang dewasa. Namun bukan berarti ini karena mereka telah kembali lagi menjadi seperti anak kecil dan tidak lagi menggunakan alat-alat memory, lebih tepatnya ini karena mereka sekarang melatih diri memahami instruksi-instruksi dan membuat beberapa catatan mental bagi diri sendiri ke dalam tanpa memerlukan lagi petunjuk-petunjuk eksternal. (Crain, 2007:347)

Teori Vygotsky difokuskan pada bagaimana perkembangan kognitif anak dapat dibantu melalui interaksi sosial. Menurut Vygotsky, kognitif anak-anak tumbuh tidak hanya melalui tindakan terhadap objek, melainkan juga oleh interaksi dengan orang dewasa dan teman sebayanya. Bantuan dan petunjuk dari guru dapat membantu anak meningkatkan keterampilan dan memperoleh pengetahuan. Sedangkan teman sebaya yang menguasai suatu keahlian dapat dipelajari anak-anak lain melalui model atau bimbingan secara lisan. Artinya, anak-anak dapat membangun pengetahuannya dari belajar melalui orang dewasa (guru dan tidak semata-mata dari benda atau objek. Belajar dan bekerja dengan orang lain dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk merespons orang lain melalui saran, komentar, pertanyaan, atau tindakan. Guru harus menjadi seorang ahli pengamat bagi anak, memahami tingkat belajar mereka, dan memper- timbangkan apa langkah berikut untuk memenuhi kebutuhan anak secara individual. Posisi Guru sangat kuat dalam proses ini, baik untuk menjawab pertanyaan maupun lawan bicara bagi anak. Menurut Vygotsky, interaksi sosial inilah kunci dari belajar.

Menurut Vygotsky (1978), ketika anak mengajak bermain mereka mulai memisahkan cara berpikir dari tindakan dan objek serta mengadopsi perilaku mengatur diri (self-regulated). Landasan terpenting dalam bermain #56

menurutnya adalah pengalaman sosial. Bermain merupakan cara sosial pengalaman simbolik. Ketika anak bermain sendiri, mereka dipengaruhi oleh cara-cara dan pengalaman yang berkembang dalam masyarakat dan budaya dengan simbol-simbol sosial. Dari konsep inilah, kemudian dikembangkan beberapa tipe bermain bagi anak usia dini, yaitu bermain sendiri (solitary play), bermain pura-pura (pretent play), dan bermain simbolik (symbolic play) (Masnipal, 2013:61-62). Semua permainan tersebut membutuhkan peran guru untuk membimbing perkembangan anak. Dengan demikian dapat dikembangkan bermain pura-pura dengan orang dewasa dengan teman sebaya. Vygotsky (1930/ 1990 dalam Sawyer et al, 2003) dalam Imagination and Creativity in Childhood menyatakan bahwa anak menggunakan manipulasi objek dalam bermain berperan penting dalam perkembangan kreativitas sebagai mana kapasitas berfikir abstrak. Anak-anak pertama kali berkreasi, manipulasi, belajar tanda dan simbol melalui bermain.

Vygotsky berpendapat bahwa anak-anak mengembangkan konsep- konsep lebih sistematis, logis, dan rasional sebagai akibat dari percakapan dengan seorang penolong yang ahli.

Konsep Zona Perkembangan Proksimal (ZPD)
Zona perkembangan proksimal (ZPD) adalah istilah Vygotsky untuk serangkaian tugas yang terlalu sulit dikuasai anak secara sendirian tetapi dapat dipelajari dengan bantuan dari orang dewasa atau anak yang lebih mampu, jadi batas bawah dari ZPD adalah tingkat problem yang dapat dipecahkan oleh anak seorang diri. Batas atasnya adalah tingkat tanggung jawab atau tugas tambahan yang dapat diterima anak dengan bantuan dari instruktur yang mampu. Penekanan Vygotsky pada ZPD menegaskan keyakinannya akan arti penting dari pengaruh sosial, terutama pengaruh instruksi atau pengajaran terhadap perkembangan kognitif anak.

Vygotsky memberi contoh cara menilai ZPD anak. Misalkan berdasarkan tes kecerdasan, usia mental dari dua orang anak adalah 8 tahun, menurut Vygotsky kita tidak bisa berhenti sampai disini saja. Kita harus menentukan #57

bagaimana masing-masing anak akan berusaha menyelesaikan problem yang dimaksud untuk anak yang lebih tua. Kita membantu masing- masing anak dengan menunjukkan, mengajukan pertanyaan, dan mem- perkenalkan elemen dengan awal dari solusi. Dengan bantuan atau dengan kerjasama dengan orang dewasa ini, salahs atu anak berhasil menyelesaikan persoalan yang sesungguhnya untuk level anak yang berusia 12 tahun, sedangkan anak yang satunya memecahkan problem untuk level anak 9 tahun. Perbedaan antara usia mental dan tingkat kinerja yang mereka capai dengan bekerjasama dengan orang dewasa akan mendefenisikan ZPD. Jadi, ZPD melibatkan kemampuan konitif anak yang berbeda dalam proses pendewasaan dan tingkat kinerja mereka dengan bantuan orang yang lebih ahli. Vygotsky menyebut ini sebagai “kembang” perkembangan, untuk membedakan dengan istilah “buah’ perkembangan, yang sudah dicapai anak secara independen. Salah satu aplikasi konsep ZPD Vygotsky adalah tuutoring tatap-muka yang diberikan guru di slandia baru dalam program reading recovery. Tutring ini dimulai dengan tugas membaca yang sudah dikenal baik, kemudian pelan-pelan memperkenalkan strategi membaca yang belum dikenal dan kemudian menyerahkan kontrol aktivitas keadaan si anak sendiri. (Santrock, 2007:62-63)

1) Konsep Scaffolding
Scaffolding erat kaitannya dengan gagasan zone of proximal development (ZPD) adalah scaffolding. Sebuah teknik untuk mengubah level dukungan. Selama sesi pengajaran orang yang lebih ahli (guru, atau murid yang lebih mampu) menyesuaikan jumlah bimbingan dengan level kinerja murid yang telah dicapai. Ketika tugas yang akan dipelajari si murid adalah tugas yang baru, maka orang yang lebih ahli dapat menggunakan teknik instruksi langsung. Saat kemampuan murid meningkat maka semangkin sedikit bimbingan yang diberikan.

Dialog adalah alat penting dalam teknik ini di dalam ZPD. Vygotsky menganggap anak punya konsep yang kaya tetapi tidak sistematis, tidak teratur dan spontan. Anak akan bertemu dalam konsep yang lebih sistematis, logis dan rasional yang dimiliki oleh orang yang lebih ahli #58

yang membantunya. Sebagai hasil dari pertemuan dan dialog antara anak dengan penolongnya yang lebih ahli ini konsep anak akan menjadi lebih sistematis, logis dan rasional. Kita akan membahas lebih banyak teknik scaffolding dan aspek interaksi sosial lainnya. (Santrock, 2007:63)

2) Bahasa dan Pemikiran
Vygotsky bahwa anak-anak menggunakan bahasa bukan hanya untuk komunikasi sosial, tetapi juga untuk merencanakan, memonitor perilaku mereka dengan caranya sendiri. Penggunaan bahasa untuk mengatur diri sendiri ini dinamakan “pembicaraan batin”(inner speech) atau’pembicaraan privat”? (private speech). Menurut Piaget private speech adalah alat penting bagi pemikiran selama masa kanak-kanak (early childhood).

Vygotsky percaya bahwa bahasa dan pikiran pada mulanya berkembang sendiri-sendiri lalu kemudian bergabung. Dia mengatakan bahwa semua fungsi mental punya asal usul eksternal atau sosial. Anak-anak harus menggunakan bahasa untuk berkomuniaksi dengan orang lain sebelum mereka bisa fokus ke dalam pemikirannya sendiri. Anak-anak juga harus berkomunikasi ke luar menggunakan bahsa selama periode yang agak lama sebelum transisi dari pembicaraan eksternal kepembicaraan bathin (internal) terjadi. Periode transisi ini terjadi antara usia tiga hingga tujuh tahun dan kadang mereka bicara dengan diri sendiri. Setelah beberapa waktu kegiatan berbicara dengan diri sendiri ini mulai jarang dan mereka bisa melakukannya tanpa harus diungkapkan. Ketika ini terjadi, anak telah menginternalisasikan pembicaraan egosentris mereka dalam bentuk inner speech, dan pembicaraan batin ini lalu menjadi pemikiran mereka. Vygotsky percaya bahwa anak yang banyak menggunakan private speech akan lebih kompeten secara sosial ketimbang mereka yang tidak. Dia berpendapat bahwa private speech merepresentasikan transisi awal untuk menjadi lebih komunikatif secara sosial.

Pandangan Vygotsky menentang gagasan Piaget tentang bahasa dan pemikiran, Vygotsky mengatakan bahwa bahasa bahkan dalam bentuk yangpaling awal sekalipun, berbasis sosial, sedangkan Piaget #59
lebih menganggap pembicaraan anak sebagai non sosial dan egosentris. Menurut Vygotsky ketika anak kecil berbicara kepada dirinya sendiri, mereka menggunakan bahasa untuk mengatur perilaku mereka sendiri. Sedangkan Piaget percaya bahwa kegiatan bicara dengan diri sendiri itu mencerminkan ketidak dewasaan (immaturity). (Santrock, 2007:63-64). #60

Sumber:
Khadijah, 2016. Pengembangan Kognitif Anak Usia Dini. Medan: Perdana Publishing. Hal. 55 – 60.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *