Mana Sensor yang Baik? Nurani atau Logika?

By | 27/12/2020

AsikBelajar.Com | Awalnya artikel ini mau bercerita tentang kondisi dalam diri ini yang terkadang mempunyai dua sisi yang saling bertentangan, seperti hitam – putih, baik – buruk. Untuk mengaktualisasikan dan memberikan kesan yang reality, dibuatlah gambar seperti yang ada dalam artikel ini. Namun dalam perkembangannya, artikel tersebut berubah dikarenakan artikel yang mirip sudah banyak ditulis oleh teman-teman blogger lainnya.

Manusia

Pernahkah kalian mendengar orang berkata: “…gunakan NURANI…” dan ada juga yang lain berkata: “…gunakan LOGIKA…” ketika mau mengambil keputusan dalam kehidupan ini. Nah, tulisan yang kalian baca sekarang adalah merupakan bahasan tentang penggunaan kata NURANI dan LOGIKA yang banyak terjadi ditengah masyarakat kita. Mari kita bahas sama-sama. Perlu kalian ketahui bahwa tulisan ini selain pendapat pribadi penulis juga diambil dari pendapat seorang teman blogger yakni catatanringan [dot] com om Eer.

Nurani menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dalam Kamus versi online/daring (dalam jaringan) di https://kbbi.web.id/nurani.html, adalah:
nu•ra•ni 1 a berkenaan dengan atau sifat cahaya (sinar dan sebagainya): hati — , perasaan hati yang murni yang sedalam-dalamnya; 2 n lubuk hati yang paling dalam: — kita tidak dapat menerima pemberian yang bersumber dari harta curian

Sedangkan Logika menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dalam Kamus versi online/daring (dalam jaringan) di https://kbbi.web.id/nurani.html, adalah:
lo•gi•ka n 1 pengetahuan tentang kaidah berpikir; 2 jalan pikiran yang masuk akal: keterangan saksi tidak ada — nya;
— bernilai majemuk sistem logika yang dalam penafsiran dalilnya mengandung lebih dari dua makna atau secara umum mengandung sejumlah makna pasti atau tidak pasti;
— deduktif alur berpikir dengan menarik kesimpulan mulai dari yang umum menuju kepada yang empiris atau hal yang khusus;
— formal metodologi berpikir yang berkenaan dengan struktur atau bentuk logika melalui abstraksi isi pemikiran yang merumuskan hukum dan asas yang disyaratkan untuk mencapai hasil yang berlaku dalam mendapatkan pengetahuan melalui penarikan kesimpulan yang bagian-bagiannya dipertalikan dengan isi tersebut;
— induktif alur berpikir yang menarik kesimpulan mulai dari pengalaman empiris menuju kepada yang umum atau general;
— matematik penggunaan metode matematik dan suatu bahasa istimewa berupa lambang dan rumus di bidang logika formal;
— simbolik logika matematik

Menurut om Eer (diambil dari chat WA dengan ybs):
[21/12 11:19] Eer CR: logika
[21/12 11:20] Eer CR: serusak rusaknya hati, kita tetap punya kewajiban shalat dll.
kalo akal yg rusak/gila/mabuk/blm akhil balikh maka gugur semua kewajiban.

Secara normatif dan aspek agama, manusia akan diberikan beban tanggungjawab apabila ia dikatakan sebagai orang yang “waras”. Dengan kata lain bahwa dengan kewarasannya, ia akan mampu berfikir secara “benar”, namun sebaliknya bila manusia tersebut tidak waras.

Lalu, dimana kedudukan nurani sebagai sensor dalam kehidupan kita? Simak cerita yang diambil dari detik [dot] com ini:

Artikel yang dikutip dari https://food.detik.com/info-kuliner/d-4777608/miris-ini-5-kisah-hukuman-nenek-pencuri-makanan-yang-menyayat-hati/6/#search adalah sebagai berikut:
Nenek Mencuri Singkong: Penegakan hukum yang menimbulkan kontroversi juga terjadi pada kasus nenek pencuri asal Sidoarjo. Bahkan kisah pencurian yang dilakukan nenek tersebut yang sempat viral di media sosial facebook. Dalam unggahan di facebook itu diceritakan bahwa seorang nenek yang terpaksa mencuri singkong milik orang lain. Bukan tanpa alasan, ia nekat mencuri singkong tersebut untuk memberi makan cucunya.

Kondisi nenek tersebut sangat tidak memungkinkan, ia dan cucunya hidup dalam keadaan yang serba kekurangan. Aksi pencuriannya tersebut diketahui oleh pemilik perkebunan singkong. Oleh karena itu pemilik kebun singkong tersebut langsung melaporkan nenek tersebut ke kantor polisi. Laporannya tersebut membawa nenek pencuri singkong itu dijatuhi hukuman penjara dan denda dengan sejumlah uang.

Namun, ada yang tak kalah menyayat hati dari kasus nenek pencuri ini. Bahkan hakim yang memvonis sampai dibuat tak tega saat memvonisnya. Setelah menjatuhi hukuman, Hakim tersebut membantu nenek tersebut untuk membayar denda yang telah ditetapkan. Hakim meminta semua yang ada di ruangan persidangan membayar denda karena telah membiarkan orang kelaparan sampai harus mencuri.”

Dari artikel tersebut di atas dapat kita ambil pembelajaran bahwa logika tetap ditegaskan, karena logika mempunyai metode berfikir, tetapi nurani juga dapat berperan untuk mengasah diri kita agar peka terhadap lingkungan sekitar kita sehingga hati menjadi lembut dan menjadikan diri kita sebagai manusia yang seutuhnya di muka bumi ini.

Kesimpulannya adalah jadilah manusia yang menggunakan logika akal sehat dan bermartabat tanpa kehilangan rasa perikemanusiaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *