Refleksi Kritis Sistem Pendidikan Nasional

By | July 26, 2022

AsikBelajar.Com | Landasan aksiologis sistem pendidikan nasional bermanfaat untuk menganalisis tentang penerapan teori- teori pendidikan yang terkait dengan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan nasional dirumuskan terutama dalam hubungannya dengan nilai-nilai keluhuran hidup. Landasan aksiologis sistem pendidikan nasional Indonesia adalah nilai-nilai Pancasila. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 Ayat 3 berisi ketentuan bahwa sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Ketentuan ini menempatkan tujuan pendidikan nasional menjadi penting, yaitu sebagai pertimbangan utama untuk merumuskan komponen-komponen pendidikan yang lain terutama untuk mengevaluasi secara lebih baik mengenai tawaran-tawaran teori-teori yang merupakan solusi bagi persoalan-persoalan utama pendidikan.

Bab II Pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta #90

didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Rumusan tentang tujuan pendidikan nasional ini sebagai kesatuan kalimat tidak menunjukkan konsep yang jelas. Susunan kata-katanya terlalu rinci dan tidak jelas hubungannya dengan nilai-nilai Pancasila. Rumusan tentang tujuan pendidikan nasional ini perlu diperbaiki dengan memperhatikan pandangan bangsa Indonesia tentang hakikat manusia sebagai landasan ontologisnya dan nilai-nilai utama landasan aksiologisnya, yaitu nilai- nilai Pancasila. Tujuan pendidikan nasional tentunya tetap bercirikan rasionalitas, tetapi rasionalitas yang berkeadaban. Berpikir rasional yang berkeadaban adalah kemampuan berpikir rasional yang mempertimbangkan nilai-nilai kebenaran, kebaikan, keindahan, dan religius. Perumusan tujuan pendidikan nasional supaya bersifat konseptual, maka penting memperhatikan berbagai teori- teori pendidikan yang ada agar dapat dilakukan perumusan yang komprehensif. Berbagai teori-teori pendidikan yang dijadikan pertimbangan merumuskan tujuan pendidikan adalah esensialisme, tetapi tidak meninggalkan ranah tujuan menurut teori-teori progresivisme perenialisme, dan rekonstruksianisme.
Tujuan pendidikan berdasar teori esensialisme adalah internalisasi nilai-nilai budaya ke jiwa anak didik. Tujuan pendidikan berdasar teori progresivisme adalah agar anak #91

didik mampu berbuat sesuatu dengan pemikiran kreatif untuk mengadakan penyesuaian terus-menerus sesuai dengan tuntutan lingkungan. Tujuan pendidikan berdasar teori perenialisme adalah pertumbuhan jiwa yang rasional agar anak didik dapat menemukan evidensi-evidensi diri sendiri. Tujuan pendidikan berdasar teori rekonstruksianisme adalah tumbuhnya kemampuan untuk secara konstruktif menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan dan perkembangan masyarakat modern.

Rumusan tentang fungsi dan tujuan pendidikan nasional seperti ketentuan Bab II Pasal 3 dapat diperbaiki dengan meliputi unsur-unsur utama sebagai berikut. Fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan berpikir rasional dan membentuk watak yang luhur sesuai nilai-nilai Pancasila, yaitu nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang mampu berpikir rasional dan berwatak luhur, yaitu menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, kebaikan, keindahan, dan religius, serta secara konstruktif dan demokratis menjadi warga negara yang kreatif dan bertanggung jawab untuk memajukan bangsa Indonesia dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan masyarakat modern yang berkeadilan.

Bab X Pasal 37 berisi ketentuan bahwa kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat #92

pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, seni dan budaya, pendidikan jasmani dan olahraga, keterampilan/kejuruan, dan muatan lokal. Kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, dan bahasa. Kurikulum pendidikan dasar dan menengah serta perguruan tinggi tersebut telah diimplementasikan berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006. Struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah serta perguruan tinggi tidak mewajibkan mata pelajaran dan mata kuliah Pendidikan Pancasila dengan pertimbangan digabungkan pada Pendidikan Kewarganegaraan.

Kurikulum pendidikan dasar dan menengah serta perguruan tinggi tahun 2006 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dipertimbangkan untuk dikembangkan dalam arti disesuaikan dengan tantangan dan kompetensi masa depan. Rancangan kurikulum pendidikan dasar dan menengah serta perguruan tinggi yang baru telah disosialisasikan pada 29 November sampai 23 Desember tahun 2012. Rancangan kurikulum baru akan diimplementasikan tahun 2013 dengan dimulai untuk kelas I, IV, VII, dan X di seluruh sekolah. Pelatihan guru dan tenaga kependidikan diselenggarakan pada Maret 2013. Implementasi kurikulum baru dikembangkan untuk kelas I, II, IV, V, VII, VIII, X, dan XI di seluruh sekolah pada tahun 2014. Implementasi secara menyeluruh untuk kelas I sampai XII pada tahun 2015. Rancangan kurikulum #93

Lihat Halaman Selanjutnya [Klik Disini]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *