Polarisasi Pemikiran tentang Manusia - AsikBelajar.Com

Polarisasi Pemikiran tentang Manusia

AsikBelajar.Com | Banyaknya definisi tentang manusia, membuktikan bahwa manusia adalah makhluk multidimensional, manusia memiliki banyak wajah (Dardiri, 2010). Berdasarkan fakta tersebut, maka Piedade (1986) mencoba membuat polarisasi pemikiran tentang manusia, yaitu pola pemikiran biologis, pola pemikiran psikologis, pola pemikiran sosial-budaya, dan pola pemikiran teologis (Dardiri lebih menyukai menggunakan istilah religius daripada teologis).

a. Manusia Menurut Pola Pemikiran Biologis
Menurut pola pemikiran ini, manusia dan kemampuan kreatifnya dikaji dari struktur fisiologisnya. Salah satu tokoh dalam pola ini adalah Portmann yang berpendapat bahwa kehidupan manusia merupakan sesuatu yang bersifat sui generis meskipun terdapat kesamaan-kesamaan tertentu dengan kehidupan hewan atau binatang. Dia menekankan aktivitas manusia yang khas, yakni bahasa, posisi vertikal tubuh, dan ritme pertumbuhannya. Semua sifat ini timbul dari kerja sama antara #4

proses keturunan dan proses sosial-budaya. Aspek individualitas manusia bersama sifat sosialnya membentuk keterbukaan manusia yang berbeda dengan ketertutupan dan pembatasan deterministis binatang oleh lingkungannya. Manusia tidak membiarkan dirinya ditentukan oleh alam lingkungannya. Menurut pola ini, manusia dipahami dari sisi internalitas, yaitu manusia sebagai pusat kegiatan internal yang menggunakan bentuk lahiriah tubuhnya untuk mengekspresikan diri dalam komunikasi dengan sesamanya.

b. Manusia Menurut Pola Psikolgis
Kekhasan pola ini adalah perpaduan antara metode-metode psikologi eksperimental dan suatu pendekatan filosofis tertentu, misalnya fenomenologi. Tokoh-tokoh yang berpengaruh besar pada pola ini antara lain Ludwig Binswanger, Levis Strauss, dan Erich Fromm. Binswanger mengembangkan suatu analisis eksistensial yang bertitik tolak dari psikoanalisis Freud. Namun pendirian Binswanger bertolak belakang dengan pendirian Freud tentang kawasan bawah sadar manusia yang terungkap dalam mimpi, nafsu, dan dorongan seksual. Freud dengan psikoanalisisnya lebih menekankan faktor internal manusia, sementara pandangan behaviorisme lebih menekankan faktor eksternal. Pandangan psikologi humanistik lebih menekankan kemampuaan manusia untuk mengarahkan dirinya, baik karena pengaruh faktor internal maupun eksternal. Hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak serta merta atau otomatis melakukan suatu tindakan berdasarkan desakan faktor inter- nal, karena desakan faktor internal bisa saja ditangguhkan pelaksanaannya.

c. Manusia Menurut Pola Pemikiran Sosial-Budaya
Manusia menurut pola pemikiran ini tampil dalam dimensi sosial dan kebudayaannya, dalam hubungannya dengan kemampuan untuk membentuk sejarah. Menurut pola ini, kodrat manusia tidak hanya mengenal satu bentuk yang uniform (seragam) melainkan berbagai bentuk. Salah satu tokoh yang termasuk dalam pola ini adalah Erich Rothacker. Dia berupaya memahami kebudayaan setiap bangsa melalui suatu proses yang dinamakan reduksi pada jiwa-jiwa nasional dan melalui mitos-mitos. Reduksi pada jiwa-jiwa nasional adalah proses mempelajari suatu kebudayaan tertentu dengan mengembalikannya pada sikap-sikap dasar serta watak etnis yang melahirkan pandangan bangsa yang bersangkutan tentang dunia, atau weltanschauung. #5

Pengalaman purba itu dapat direduksi lagi. Dengan demikian, meskipun orang menciptakan dan mengembangkan lingkup kebudayaan nasionalnya, kemungkinan-kemungkinan pelaksanaan dan pengembangannya sudah ditentukan, karena semuanya itu sudah terkandung dalam warisan ras. Tokoh lain yang dapat dimasukkan dalam pola ini adalah Ernst Cassirer yang merumuskan manusia sebagai animal symbolicum, makhluk yang pandai menggunakan simbol.

d. Manusia Menurut Pola Pemikiran Religius
Pola pemikiran ini bertolak dari pandangan manusia sebagai homo religiosus. Salah satu tokohnya adalah Mircea Eliade. Menurut Eliade, homo religiosus adalah tipe manusia yang hidup dalam suatu alam yang sakral, penuh dengan nilai-nilai religius dan dapat menikmati sakralitas yang ada dan tampak pada alam semesta, alam materi, alam tumbuh-tumbuhan, dan manusia. Pengalaman dan penghayatan akan Yang Suci ini selanjutnya mempengaruhi, membentuk, dan ikut menentukan corak serta cara hidupnya. Eliade mempertentangkan homo religiosus dengan alam homo non-religiosus, yaitu manusia tidak beragama, manusia modern yang hidup di alam yang sudah didesakralisasikan, bulat-bulat alamiah, apa adanya, dirasa atau dialami tanpa sakralitas. Bagi manusia non-religiosus, kehidupan ini tidak sakral lagi, melainkan profane saja.

Pembahasan hakikat manusia tidak akan pernah selesai apabila hanya berdasarkan pada pandangan-pandangan manusia sendiri yang mengandalkan kemampuan akal semata. Oleh karena itu diperlukan penjelasan dari sumber yang meyakinkan, yaitu sumber yang diperoleh langsung dari Tuhan sebagai Penciptanya yaitu Al-Qur’an. Bagaimanapun harus disadari sepenuhnya bahwa manusia tidak lain adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang memiliki fitrah, akal, kalbu, kemauan, dan amanah.

Manusia dengan segenap potensi (kemampuan) kejiwaan naluriah, seperti akal pikiran, kalbu kemauan yang ditunjang dengan kemampuan jasmaniahnya, manusia akan mampu melaksanakan amanah Allah dengan sebaik-baiknya. Pelaksanaan amanah mendorong pencapaian derajat manusia yang sempurna (beriman, berilmu, dan beramal) manakala manusia memiliki kemauan serta kemampuan menggunakan dan mengembangkan segenap kemampuan. Manusia juga dianggap sebagai khalifah di bumi yang mengemban tanggung jawab sosial yang berat. Sebagai khalifah, manusia merupakan mahluk sosial yang multi- interaksi, memiliki tanggung jawab baik kepada Allah maupun kepada #6

sesama manusia. Hubungan dengan Allah merupakan hubungan yang harus dibina manusia dimanapun ia berada. Hubungan manusia dengan manusia harus dibangun atas dasar saling menghargai atau menghormati agar tercipta suasana ideal, karena sejatinya manusia terbaik adalah manusia yang paling bermanfaat bagi sesamanya (Hasan, 2006). Sebagaimana yang terdapat di dalam Al Qur’an, Islam menegaskan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan, baik sebagai makhluk individu maupun sosial, mempunyai kedudukan yang sama di hadapan-Nya (Herawati, 2012).

Sehubungan dengan itu, Al-Qur’an memperkenalkan tiga istillah kunci (key term) yang digunakan untuk menunjukkan arti pokok manusia, yaitu al-Insan, al-Basyar dan al-Nas. Kata al-Insan dipakai untuk menyebut manusia dalam konteks kedudukan manusia sebagai makhluk yang mempunyai kelebihan-kelebihan, yaitu 1) manusia sebagai makhluk berpikir, 2) makhluk pembawa amanat, dan 3) manusia sebagai makhluk yang bertanggung jawab pada semua yang diperbuat. Kata insan menunjuk suatu pengertian adanya kaitan dengan sikap, yang lahir dari adanya kesadaran penalaran (Asy’arie, 1992) Kata insan digunakan al- Qur’an untuk menunjukkan kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga. Manusia yang berbeda antara seseorang dengan yang lain adalah akibat perbedaan fisik, mental, dan kecerdasan (Shihab, 1996).

Kata al-Insan yang dengan segala bentuk derivasinya dapat disimpulkan bahwa secara proses lahirnya diawali dengan konsep spiri- tual, namun dari aspek fisik mengandung makna jinak sebagai makhluk yang memiliki sifat keramahan dan kemampuan yang sangat tinggi. Istilah lain yang sering digunakan dalam al-Qur’an ialah makhluk sosial dan makhluk kultural (Salim, 2002). Menurut Seha (2010) al-Qur’an secara konsepsional mencanangkan sesuatu bentuk membangun hidup bersama, tolong menolong dalam kebaikan dengan konsep ta‘?wun dalam QS Al-Maidah ayat 2.

Kata al-Basyar dipakai untuk menyebut semua makhluk baik laki- laki ataupun perempuan, baik satu ataupun banyak. Kata ini memberikan referensi kepada manusia sebagai makhluk biologis yang mempunyai bentuk tubuh yang mengalami pertumbuhan dan perekembangan jasmani. Selanjutnya kata al-Nas, mengacu kepada manusia sebagai makhluk sosial. Penjelasan konsep ini dapat ditunjukkan dalam dua hal, yaitu 1) banyak ayat yang menunjukkan kelompok-kelompok sosial #7

dengan karakteristiknya masing-masing yang satu dengan yang lain belum tentu sama dan 2) pengelompokkan manusia berdasarkan mayoritas (Hasan, 2004).

Selain ketiga istilah kunci itu, dikenal pula istilah abd Allah, Bani Adam, Bani Hasyr, dan Khalifah Allah. Konsep Abd Allah menunjukkan bahwa manusia adalah hamba yang segala bentuk aktivitas kehidupannya untuk menghambakan diri kepada Allah. Konsep Bani Adam berarti manusia berasal dari nenek moyang yang sama, yaitu Adam dan Hawa yang terdiri dari berbagai ras. Konsep Bani Hasyr menggambarkan manusia sebagai makhluk biologis terdiri dari unsur materi yang membutuhkan makan dan minum, bukan keturunan makhluk bukan manusia. Konsep Khalifah Allah menunjukkan manusia mengemban tugas untuk mewujudkan serta membina sebuah tatanan kehidupan yang harmonis di bumi (Rakhmat, 2011). #8

Sumber:
Husamah, dkk. 2015. Pengantar Pendidikan. Malang: Penerbitan Universitas Muhammadiyah. Hal. 4-8.

 

Related Posts

AsikBelajar.Com

Blogger biasa yang berdomisili di Banjarmasin dan berharap blog ini bermanfaat buat pelajar, mahasiswa & masyarakat umum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 AsikBelajar.Com - Theme by WPEnjoy · Powered by WordPress