Perpaduan Konstruktivisme dan Pembelajaran Orang Dewasa

By | 13/05/2020

AsikBelajar.Com | Dalam pembahasan sebelumnya, kita bisa memahami karakteristik konstruktivisme dan pembelajaran orang dewasa. Kedua karakter tersebut akan disandingkan untuk mencari apakah terdapat titik temu antara keduanya. Berikut tebal perbandingan antara kedua karakter tersebut: …188
Konstruktivisme…189

Dari tabel tersebut, diketahui bahwa keseluruhan dari kedua karakter saling komplementer. Artinya, orang dewasa juga melakukan proses belajar seperti dalam konsep konstruktivisme. Oleh karena itu, terdapat beberapa hal yang perlu dipahami. Pertama, orang tua belajar berdasarkan pengalaman. Dalam teori konstruktivisme, belajar merupakan proses aktif, bukan sekadar menerima informasi melainkan memprosesnya dan proses tersebut dilakukan melalui pengalaman belajar Iangsung. Jadi, dalam proses belajar orang dewasa, proses belajar terjadi secara aktif melalui refleksi terhadap banyak pengalaman yang telah dilakoninya.

Perbedaannya dengan proses belajar pada anak-anak, orang dewasa sudah memiliki prior knowledge yang lebih banyak sehingga memungkinkan untuk lebih mudah membangun pengetahuan baru. Sedangkan pada proses belajar anak-anak, prior knowledge yang dimiliki masih terbatas dan konsep dibentuk lebih banyak melalui pengalaman belajar ketika pembelajaran berlangsung.

Kedua, disebutkan bahwa dalam konstruktivisme proses belajar terjadi melalui proses reasoning sedangkan pada orang dewasa proses belajar terjadi melalui refleksi kritis (critical reflection). Menurut Murray dan Kujundzic (2005), yang dimaksud dengan critical reflection adalah proses analisis, mempertimbangkan, dan mempertanyakan pengalaman dalam kaitan isu yang luas. Hal ini menunjukkan …190

bahwa proses reasoning menalar merupakan bagian dari proses refleksi. Belajar melalui proses reasoning terjadi pada anak-anak karena mereka belum memiliki wawasan yang terlalu luas mengenai konteks budaya, agama dan politik sedangkan pada orang dewasa belajar melalui refleksi sudah memungkinkan. Dengan demikian, proses belajar melalui refleksi bersifat konstruktivisme.

Ketiga, dalam konstruktivisme sosial disebutkan pentingnya interaksi sosial dan bimbingan orang lain dalam proses menguasai sebuah pengetahuan. Dalam pembelajaran orang dewasa, interaksi sosial terjadi dalam bentuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman (experience sharing). Jadi, yang pantas dijadikan ciri konstruktivisme dari orang dewasa adalah pembangunan pengetahuan dengan cara berbagi pengalaman dan pengetahuan (experience sharing). Hal ini terjadi karena orang dewasa memiliki pengalaman dan pengetahuan yang banyak, memiliki motivasi tinggi, belajar secara mandiri serta memiliki kesiapan untuk belajar.

Berdasarkan perbandingan dan perpaduan karakter tadi, maka dalam pembelajaran orang dewasa dapat diterapkan pendekatan yang konstruktivisme. Lantas, bagaimana model pembelajaran orang dewasa dengan teori konstruktivisme? Tentu saja, aplikasi tersebut bisa dilakukan meski model-model pembelajaran konstruktivisme untuk orang dewasa memiliki kekhasan dari modeI-model pembelajaran …191

konstruktivisme bagi anak-anak. Dengan demikian, jika dipadukan akan terjadi sebuah model pembelajaran orang dewasa yang konstruktivistik, yaitu hasil perpaduan dari ide konstruktivisme yang menjadi ciri khas adalah prior knowledge, active learning, social negotiation dan real life learning.

Sedangkan yang menjadi ciri khas dari pembelajaran orang dewasa adalah belajar melalui proses berbagi (experience sharing), self directed leaning, readiness to learn dan pembelajaran otonom. Model pembelajaran yang dihasilkan akan bersifat belajar berdasarkan pengalaman autentik sebagai hasil dari interaksi sosial (social authentic learning). Model pembelajaran ini bersifat learner centered, interactive, kolaboratif dan facilitative.

Model pembelajaran tersebut mengarah pada penerapan metode indirect dan independen seperti studi kasus (case study), pembelajaran berdasarkan masalah (problem based learning), peta konsep, debating, research based learning, dan sejenisnya. Apabila digambarkan dengan skema, maka akan terlihat seperti berikut ini. 192

Konstruktivisme…193

Sumber:
Cahyo, Agus N. 2013. Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar Teraktual dan Terpopuler. Diva Press: Yogyakarta. Hal.188-193.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *