Perkembangan Sel Saraf Otak Manusia

By | 24/08/2020

AsikBelajar.Com | Berbeda dengan pertumbuhan fisik, sel saraf otak tidak bertambah lagi jumlahnya setelah kelahiran. Tetapi jumlah hubungan antarselnya dan proses mielinasi terus berlangsung. Satu sel saraf otak dapat berhubungan dengan sampai 20.000 sel saraf otak lainnya. Semakin banyak jumlah hubungan tersebut maka akan semakin cerdas otaknya. Jumlah hubungan antarsel saraf otak tersebut sangat tergantung pada rangsangan dan asupan gizinya. Memberikan rangsangan pada anak yang sesuai dengan fungsi indranya sangat penting untuk pertumbuhan hubungan antarsel saraf otak.

Berikut ini adalah gambar sel saraf otak yang dirangsang dengan yang tidak dirangsang (sumber: Slamet Suyanto, 2005).

Sel saraf otak

Anak dilahirkan dengan 10 miliar neuron (sel saraf) di otaknya. Tiga tahun pertama sejak lahir merupakan periode, di mana miliaran sel terus bertambah untuk memupuk neuron. Sel-sel saraf ini dapat membentuk ribuan sambungan antarneuron yang disebut dendrite yang mirip sarang laba-laba, dan axon yang berbentuk memanjang.

Otak anak usia 6 – 7 tahun besamya dua per tiga otak orang dewasa, tapi memiliki 5 – 7 kali lebih banyak sambungan antameuron dari pada otak anak usia 18 bulan atau orang dewasa. Otak mereka memang punya kemampuan besar untuk menyusun ribuan sambungan antarneuron. Namun, kemampuan itu berhenti pada umur 10 – 11 tahun jika tidak dikembangkan atau digunakan. Saat itu enzim tertentu dilepaskan dalam otak dan melarutkan semua jalur atau “urat” saraf (pathways) yang tidak termielinasi dengan baik (mielinasi adalah proses pembungkusan jalur saraf dengan myelin yang berwujud protein-lemak). #2.23

Perkembangan otak anak yang sedang tumbuh melalui tiga tahapan, mulai dari otak primitif (action brain), otak limbik (feeling brain), dan akhimya ke neocortex (atau disebut juga thought brain, otak pikir).

Meski saling berkaitan, ketiganya punya fungsi sendiri-sendiri. Otak primitif mengatur flsik kita untuk bertahan hidup, mengelola gerak refleks, mengendalikan gerak motorik, memantau fungsi tubuh, dan memproses informasi yang masuk dari pancaindra. Saat menghadapi ancaman atau keadaan bahaya, bersama dengan otak limbik, otak primitif menyiapkan reaksi “hadapi atau lari” (fight or flight response) bagi tubuh. Kita akan bereaksi secara flsik dan emosi lebih dulu sebelum otak pikir sempat memproses informasi. Contoh dari reaksi ini adalah seorang anak yang takut dengan badut, dia akan refleks lari atau menghindar, sebelum sempat berpikir bahwa isi dari kostum badut tersebut adalah manusia.

Otak limbik memproses emosi seperti rasa suka dan tidak suka, cinta dan benci. Otak ini sebagai penghubung otak pikir dan otak primitif. Maksudnya, otak primitif dapat diperintah mengikuti kehendak otak pikir, di saat lain otak pikir dapat “dikunci” untuk tidak melayani otak Iimbik dan primitif selama keadaan darurat, yang nyata maupun yang tidak. Sedangkan otak pikir, yang mempakan bentuk daya pikir tertinggi dan bagian otak yang paling objektif, menerima masukan dari otak primitif dan otak limbik. Namun, ia butuh waktu lebih banyak untuk memproses informasi, termasuk image; dari otak primitif dan otak limbik. Otak pikir juga merupakan tempat bergabungnya pengalaman, ingatan, perasaan, dan kemampuan berpikir untuk melahirkan gagasan dan tindakan.

Mielinasi saraf otak berlangsung secara berurutan, mulai dari otak primitif, otak limbik, dan otak pikir. Jalur saraf yang makin sering digunakan membuat mielin makin menebal. Makin tebal mielin, makin cepat impuls saraf atau perjalanan sinyal sepanjang “urat” saraf. Oleh karena itu, anak yang sedang tumbuh dan berkembang dianjurkan menerima masukan dari lingkungannya sesuai dengan tahapan perkembangannya. #2.24

Sumber:
Aisyah, Siti. 2008. Materi Pokok Perkembangan dan Konsep dan Pengembangnn Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional. Hal. 2.23-2.24

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *