Penyajian Seni Dua Dimensi Dan Tiga Dimensi pada Anak

By | 28/12/2020

AsikBelajar.Com | Pelajaran seni pada anak usia dini mempunyai penyajian yang khusus, terutama pada penyajian Seni Dua Dimensi Dan Tiga Dimensi. Ikutilah uraian dari sajian artikel di bawah ini:

1. Penyajian Seni Dua Dimensi

a. Mencoret (scribbling)
Kegiatan mencoret merupakan kegiatan yang sangat penting bagi anak-anak. Kegiatan itu tidak hanya sekadar “mencoret-coret”. Dengan membuat coretan anak menyatakan bahwa melalui kekuatan pikirannya sendiri, dia dapat merubah kertas kosong. Anak pada tahap ini membutuhkan kertas yang lebar dan pastel minyak (oil pastel) yang nontoxic (ada beberapa anak yang suka memasukkannya ke mulutnya). Kertas yang besar akan membuat anak menggerakkan seluruh lengannya tanpa mengalihkan atau menghentikan pekerjaannya pada kertas tersebut. #7.10

b. Menggambar (painting)
Menggambar pada permukaan yang rata atau pada tiang penyangga dapat diperkenalkan pada anak-anak saat mereka mulai pandai mencoret-coret. Kertas besar, kuas (dengan pegangan), dan gabungan warna yang cerah dengan cairan kental perlu disediakan pada tahap permulaan. Pilihlah lokasi yang bebas dari gangguan, kertas koran dihamparkan dahulu di atas lantai, gunakan pakaian pelindung (celemek), dan aturlah area sedemikian rupa agar anak nyaman menggambar.

Suatu saat anak-anak tidak mau memakai celemek. Dia mungkin berpikir bahwa celemek adalah kain untuk bayi dan mereka tidak tahan menggunakannya, dan hal itu tampak seperti kemunduran baginya. Namun, menggambar lebih penting daripada memakai Celemek sehingga pendidik tidak perlu berkeras memaksakan penggunaan Celemek saat anak menggambar.

Setiap anak menggambar dengan caranya sendiri. Ada anak yang suka menggunakan pemulas cat; anak yang lain suka menggunakan macam-macam warna dan coretan yang tegas; seorang lagi menggunakan satu warna disebelah warna lainnya; anak lain menggunakan warna yang tumpang tindih; anak lainnya mengulang-ngulang pola dengan caranya sendiri. Tiap anak memiliki karakteristik sendiri dalam menggambar. Semua ini penting bagi anak sehingga pendidik membolehkannya bekerja dengan cara dan langkahnya sendiri.

c. Melukis dengan jari (finger-painting)
Finger-painting adalah salah satu bentuk menggambar yang berharga dan merupakan ekspresi spontan. Beberapa anak kadang menemukan kesulitan saat finger-painting, yaitu ketika harus memasukkan tangannya ke dalam (yang mereka lihat sebagai) larutan/adonan yang kotor. Adonan dibuat dari campuran tepung sagu, sabun cair dan pewarna makanan yang dimasak sehingga menjadi adonan, seperti lem dengan warna yang menarik. Kegiatan ini dapat dilakukan di atas meja dengan posisi anak-anak berdiri sehingga memudahkan mereka untuk menggerakkan tangannya.

d. Menggunting
Menggunting adalah keterampilan yang sering digunakan anak-anak pada aktivitas seni. Sebelum anak-anak dapat menggunakan gunting sebagai alat, mereka dapat memulainya dengan belajar merobek kertas. Ketika anak #7.11

anak belajar menggunting, kegiatan penting yang dilakukan adalah pada menggunting itu sendiri, bukan untuk tujuan yang lain. Anak-anak membuat potongan-potongan dengan cara menggunting untuk merubah tampilan bentuk kertas. Agar anak-anak dapat belajar menggunting dengan baik sebaiknya pada kegiatan ini mereka didampingi oleh guru atau pendidik yang duduk di sampingnya dan mengajarkan menggunting sesuai dengan tingkatan menggunting mereka. Jika anak-anak telah terampil dalam menggunakan gunting, mereka dapat menggunakannya sebagai alat untuk membuat bentuk kolase atau kegiatan lainnya. Sebaiknya gunting yang disediakan untuk anak-anak adalah gunting yang tumpul ujungnya dengan mata pisau yang tajam sehingga mereka dapat memotong kertas dengan mudah, namun aman bagi mereka.

e. Menempel
Seperti menggunting, kegiatan menempel dinikmati sebagai kegiatan menempel itu sendiri. Anak-anak dapat menyatukan satu kepingan pada kepingan yang lain dengan menggunakan perekat atau lem. Melalui cara ini anak dapat belajar tentang kualitas perekat. Dengan menggunakan lem untuk menempelkan kertas dan kain pada suatu latar yang bervariasi, anak-anak belajar bagaimana menyelesaikan tujuan khususnya. Mereka juga membuat komposisi dua dimensi yang disebut kolase. Anak-anak dapat menempel pada kertas atau papan tempel sebagai latar belakang dan menempelkan bahan-bahan dari bermacam warna, tekstur dan bentuk-bentuk yang disediakan guru. Pada tahap awal belajar menempel sebaiknya disediakan perekat cair yang mudah dipegang dan digunakan. Sedangkan bahan-bahan lainnya yang akan digunakan sebaiknya dipilih secara selektif sehingga anak-anak dapat menempatkan dan menggunakan bahan-bahan tersebut dengan pemikiran dan pertimbangan yang mendalam.

Pendidik dapat membantu anak dalam proses kegiatan menempel ini dengan cara menerima dan menanggapi apa yang diciptakan anak. Tujuan kita adalah anak akan merasa bebas dan percaya diri pada ekspresinya sendiri melalui kolase. Ketika anak merasakan kesenangannya sendiri, dia juga telah menyenangkan kita sebagai pendidik. #7.12

2. Penyajian Seni Tiga Dimensi

a. Tanah liat
Tanah liat adalah media lain yang dapat diperkenalkan pada anak-anak ketika mereka mulai menggunakan seni sebagai cara mengekspresikan dan menggambarkan diri mereka sendiri. Pada tahap yang sebanding dengan mencoret, anak mulai menggunakan tanah liat ini dengan cara mematah-matahkan, memukul-mukul, mengaduk dan menggulungnya menjadi bola-bola kecil atau gulungan melingkar seperti obat nyamuk.

Tujuan dari kegiatan ini adalah anak dapat meremas-remas, mematah-matahkan, menggulung-gulung, menepuk-nepuk, memukul-mukul atau merasakan tanah liat itu sendiri tanpa membuat sesuatu yang mungkin kelihatan sulit bagi orang dewasa untuk memahaminya. Tampaknya tanah liat bukanlah media seni yang paling baik untuk merangsang guru yang kurang pengalaman jika ia hanya membuat contoh atau model untuk ditiru anak-anak. Sebaiknya dalam kegiatan menggunakan tanah liat guru membantu anak seutuhnya dengan cara melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan anak-anak, yaitu memegang dan mengeksplor bahan dan peralatan itu sendiri secara nyata.

Suatu saat anak-anak mulai memasukkan imajinasinya pada tanah liat. Pada saat dia menyusun beberapa bagian atau bentuk-bentuk kecil, dia mengatakannya sebagai anggota keluarganya. Pada saat dia menumpuk atau membuat susunan ke atas dia mungkin akan mengatakan bahwa itu adalah sebuah gedung. la membentuk dengan cara menarik (mencubit) sebagian dari tanah liat itu, kemudian mulai membuat sesuatu. Hal ini dapat membantu anak belajar bagaimana menggunakan tanah liat untuk mengekspresikan dirinya. Setelah anak dapat menggunakan dan mengeksplor tanah liat, selanjutnya mereka dapat menggunakan dan menikmati senangnya menggunakan bahan-bahan lainnya, seperti biji-bijian, manik-manik, pipa pembersih, sedotan plastik dan bahan-bahan lainnya yang digunakan bersama dengan tanah liat tersebut. Bahan-bahan itu sangat berguna dalam mendorong anak menggunakan imajinasinya.

b. Assemblage (memasangkan)
Assemblage atau memasangkan (keseluruhan yang dihasilkan dari penggabungan bagian-bagian yang dicocokkan) adalah bentuk lain yang dapat digunakan anak-anak. Keterampilan ini merupakan pembelajaran #7.13

dalam bekerja dengan perekat dan lem untuk membuat kreasi tiga dimensinya. Sebagai contoh kolase yang dibuat dari potongan kertas gambar menggunakan lem/kanji dan robekan kertas tissu dapat menjadi assemblage ketika kertasnya digutung/dipilin (diuntel-untel) sehingga permukaannya menjadi lebih tinggi (timbul) dibandingkan bagian anak-anak sering kali merasa senang jika menemukan suatu bagian yang dalam (cekungan).

Alas atau dasar dari sebuah assemblage dapat dibuat dari kertas, tanah liat, kertas karton, kayu, ubin, papan tripleks sedangkan assemblage-nya dapat dibuat dari pasir, kerang-kerang laut, potongan kayu, sedotan, kancing, kawat halus dan berbagai variasi lain yang dapat ditemukan. Assemblage tidak selalu membutuhkan alas. Anak-anak dapat merangka dan menggabungkan objek-objek tersebut dengan menggunakan lem, kawat hahe atau staples untuk membuat sebuah kreasi yang sesuai dengan pilihan dan keinginan mereka.

c. Benda bergerak (mobiles)
Benda yang dapat digerakkan adalah ekspresi seni tiga dimensi yang lain yang dapat dibuat anak-anak. Bahan-bahannya sama dengan kolase, seperti tali, kertas dan pipa pembersih. Mobiles ini dapat memfasilitasi pengertian anak-anak bahwa benda bergerak dapat dibuat atau pun digantung. Pada akhir usia 5 tahun, anak telah dapat menggunting, menempel, menggabungkan dengan baik dan dapat mengerti kualitas suatu beberapa bahan. Anak dapat menggunakan keterampilan dan pengetahuannya untuk menciptakan kombinasi assemblage dan mobiles untuk mengekspresikas perasaan dan ide mereka.

Contoh mobiles adalah membuat kapal terbang yang digantung pada tall, membuat burung-burungan dengan tali, membuat kupu-kupu yang pada sebatang sedotan schingga sayapnya bergerak, dan lain-lain.

d. Menukang
Menukang adalah akuvitas yang membuat anak prasckolah senang. Dia dapat belayar menggunakan palu dengan kayu yang lembut dan paku dengan kepala yarg besar. Perlengkapan yang dibutuhkan untuk menukang ialah sebagai berikut: palu yang ringan dengan kualitas baik, amplas, pisau pendek yang terlihat tajam, pahat, lembaran kayu, kikir, gurdi/penjepit dan lain-lain. Pastikan bahwa semua peralatan tersebut aman untuk digunakan oleh anak-anak. #7.14

Sumber:
Aisyah, Siti. 2008. Materi Pokok Perkembangan dan Konsep dan Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional. Hal. 7.10-7.14.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *