Pengertian Moral, Moralitas, Etika, Nilai dan Karakter - AsikBelajar.Com

Pengertian Moral, Moralitas, Etika, Nilai dan Karakter

AsikBelajar.Com | Sebelum mempelajari konsep pengembangan bagi anak usia dini, Anda akan diingatkan kembali tentang pengertian atau konsep dasar moral. Menurut Hurlock (1993, terjemahan) dan (Pratidarmanastiti, 1991 dalam C., Asri Budingsih, 2001), kata moral berasal dari kata moras (bahasa Iatin) yang berarti tata cara dalam kehidupan atau adat istiadat Istilah moral sendiri dapat diartikan sebagai ukuran-ukuran yang menentukan benar atau salah. Jadi, pengertian moral mengacu pada aturan-aturan umum mengenai benar salah atau baik-buruk yang berlaku di masyarakat secara luas (Hidayat, 2005, h.2.4). Dewey mengatakan bahwa moral adalah hal-hal yang berhubungan dengan nilai-nilai Sosial (Grinder, 1978 dalam C, Asri Budingsih, 2001). Sedangkan Baron, dkk. (1980 dalam C. Asri Budingsih, 2001) mengatakan bahwa moral adalah hal-hal yang berhubungan dengan larangan dan tindakan yang membicarakan salah atau benar, Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kata moral selalu mengacu pada baik buruknya manusia sebagai manusia (Suseno, 1987 dalam C. Asri Budingsih, 2001)

Istilah etika berasal dari kata Yunani, yaitu ethos yang berarti kebiasaan atau custom, Dalam bahasa Latin, mos berarti kebiasaan dan dari sinilah asal kata moral atau moralitas (mores). Secara etimologis, etika mempelajari kebiasaan manusia yang sebagian terdiri dari konvensi-konvensi, seperti cara berpakaian, tata cara, tata krama, Etiket, dan sebagainya Etika juga dapat dikatakan sebagai filsafat moral atau filsafat kesusilaan. Dalam arti seperti ini, kebiasaan atau tata cara melakukan sesuatu atau tata krama menjadi sesuatu. perbuatan yang dianggap benar, Dan jika menyeleweng darinya, dianggap salah. Dan banyak orang yang membuat hukum moral menjadi sama seperti kebiasaan, konvensi atau hal yang sekarang biasa disebut dengan mores. Dalam pandangan ini, segala hal akan menjadi baik atau buruk bila sesuai dengan anggapan masyarakat atau opini umum. Bahkan Durkheim menulis bahwa kemungkinan kita tidak menyetujui suatu perbuatan bukan karena perbuatan itu jahat, tetapi hal itu menjadi jahat karena kita tidak menyetujuinya (Poespoprodjo, 1998),

Nilai merupakan sesuatu standar/kriteria benar dan salah yang diambil dari agama. Jadi, etika atau moral mengacu pada nilai-nilai agama karena kebenaran mutlak selalu berlandaskan pada agama, pada kebenaran Tuhan. Mengenai pengertian karakter, Wynne (1991, dalam Megawangi, 2004) #8.7

mengatakan bahwa ada dua pengertian karakter. Pertama, karakter menunjuk pada bagaimana seseorang bertingkah laku. Misalnya, apabila seseorang bertingkah laku tidak jujur maka orang tersebut dikatakan berkarakter jelek. Sebaliknya, jika ada seseorang berperilaku jujur, suka menolong maka orang tersebut dikatakan memiliki karakter yang mulia. Kedua, istilah karakter berhubungan dengan personality. Seseorang bisa disebut ’orang yang berkarakter’ jika tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral, dalam hal ini sesuai dengan kaidah atau nilai-nilai agama. Dengan demikian, pendidik anak usia dini diharapkan dapat membantu mengembangkan atau menumbuhkan kebiasaan anak didiknya menjadi anak yang berkarakter mulia (anak yang berakhlak mulia). Secara umum, karakter seseorang, baik atau buruk, selalu dapat diamati (Walberg & Wynne, 1989). Jadi, karakter berbeda dari nilai. Nilai adalah orientasi-orientasi atau disposisi sementara dari karakter yang mencakup aksi atau aktivasi dari pengetahuan dan nilai-nilai. Dari sudut pandang ini, nilai-nilai dilihat sebagai dasar-dasar untuk karakter.

McDevitt & Ormrod (2002) dalam Hildayani (2004 h. 12.2), selanjutnya menyatakan bahwa istilah moral atau moralitas mengacu pada suatu kumpulan aturan dasar yang berlaku secara umum mengenai benar dan salah. Moralitas menurut Turner dan Helms (1995) adalah kesadaran akan benar atau salah. Walaupun standar benar dan salah akan berbeda dari suatu kebudayaan ke kebudayaan lain, setiap masyarakat tentu saja mempunyai standar perilaku sendiri. Dan sejak dini, anak-anak telah belajar bahwa ada beberapa perilaku yang dianggap benar dan perilaku yang lain dianggap salah. Sedangkan sumber dari aturan benar dan salah, bagi kita masyarakat Indonesia tentunya berasal dari Tuhan atau dari aturan agama (Kompas, Maret 2007). Norma-norma moral adalah tolok ukur yang dipakai masyarakat untuk mengukur kebaikan seseorang. Menurut Suseno, sikap moral yang sebenarnya disebut moralitas. Ia mengartikan moralitas sebagai sikap hati orang yang terungkap dalam tindakan lahiriah. Moralitas terjadi apabila orang memilih tindakan yang baik karena ia sadar akan kewajiban dan tanggung jawabnya dan bukan karena ia mencari keuntungan. Jadi moralitas adalah sikap dan perbuatan baik yang betul-betul tanpa pamrih. Hanya moralitaslah yang bernilai secara moral (Suseno, 1987).

Hurlock (1993) juga menuliskan bahwa perilaku moral dikendalikan oleh konsep-konsep moral. Peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya dan yang menentukan pola perilaku yang diharapkan dari seluruh anggota kelompok. Perilaku immoral atau tak #8.8

bermoral adalah perilaku yang tak sesuai dengan harapan sosial. Perilaku demikian tidak disebabkan oleh ketidakpedulian akan harapan_sosial melainkan ketidaksetujuan dengan standar sosial atau kurang adanya perasaan wajib menyesuaikan diri. Perilaku amoral atau nonmoral lebih disebabkan ketidakpedulian terhadap harapan kelompok sosial dari pada pelanggaran yang dilakukan dengan sengaja terhadap standar kelompok. Beberapa di antara perilaku salah anak kecil lebih bersifat amoral dari pada immoral atau tak bermoral. Anak-anak tak dapat diharapkan untuk mengetahui seluruh kebiasaan kelompok ataupun untuk berperilaku menurut cara yang benar-benar bermoral. Pada waktu anak mencapai masa remaja, anggota kelompok sosial mengharapkan mereka bersikap sesuai dengan kebiasaan kelompok. Bila mereka gagal melakukannya, hal ini umumnya disebabkan karena mereka tidak ingin melakukannya dan bukan karena mereka tak mengetahui apa yang diharapkan kelompok (Hurlock, 1993).

Perkembangan moral mempunyai aspek kecerdasan dan aspek impulsif. Anak harus belajar hal-hal yang benar dan salah. Setelah mereka cukup besar mereka harus diberi penjelasan mengapa hal tertentu benar dan hal lainnya salah. Mereka juga harus mempunyai kesempatan untuk berperan serta dalam kegiatan kelompok agar dapat belajar mengenai harapan kelompok. Hal yang lebih penting lagi adalah mereka harus mengembangkan keinginan untuk melakukan hal yang benar dan bertindak untuk kebaikan bersama dan menghindari yang salah. Hal tersebut dapat dicapai dengan hasil paling baik dengan mengaitkan reaksi menyenangkan dengan hal yang benar dan reaksi yang tidak menyenangkan dengan hal yang salah. Oleh karenanya, untuk menjamin kemauan untuk bertindak sesuai dengan cara yang diinginkan masyarakat, anak harus menerima persetujuan kelompok (Hurlock, 1993). #8.9

Sumber:
Aisyah, Siti. 2008. Materi Pokok Perkembangan dan Konsep dan Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional. Hal. 8.7 – 8.9.

Related Posts

AsikBelajar.Com

Blogger biasa yang berdomisili di Banjarmasin dan berharap blog ini bermanfaat buat pelajar, mahasiswa & masyarakat umum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 AsikBelajar.Com - Theme by WPEnjoy · Powered by WordPress