Penelitian Tindakan: Pengantar Menurut Arikunto (Bagian 2)

AsikBelajar.Com | Pada bagian 1 sudah diuraikan tentang pengertian, asal-usul sejarah penelitian tindakan dan uraian lainnya. Untuk membaca Bagian ke-1 silakan Klik Disini.

Model yang dikembangkan oleh Kurt Lewin didasarkan atas konsep pokok bahwa penelitian tindakan terdiri dari empat komponen pokok yang juga menunjukkan langkah, yaitu:
(a) perencanaan atau planning,
(b) tindakan atau acting.
(c) pengamatan atau observing, dan
(d) refleksi atau reflecting.

Hubungan antara keempat komponen tersebut menunjukkan sebuah siklus atau kegiatan berulang. ”Siklus” inilah yang sebetulnya menjadi salah satu ciri utama dari penelitian tindakan, yaitu bahwa penelitian tindakan harus dilaksanakan dalam bentuk siklus, bukan hanya satu kali intervensi saja.

Apabila digambarkan dalam bentuk visualisasi, maka model Kurt Lewin akan tergambar dalam bagan lingkaran seperti berikut ini.
Siklus PTKModel Kurt Lewin yang terdiri dari empat komponen tersebut kemudian dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart. Kedua ahli ini memandang komponen sebagai langkah dalam siklus, sehingga mereka menyatukan dua komponen yang ke-2 dan ke-3, yaitu tindakan (acting) dan Pengamatan (observing) sebagai satu kesatuan. Hasil dari pengamatan ini kemudian dijadikan dasar sebagai langkah berikutnya, yaitu refleksi mencermati apa yang sudah terjadi (reflecting). Dari terselesaikannya refleksi lalu disusun sebuah modifikasi yang diaktualisasikan dalam bentuk rangkaian tindakan dan pengamatan lagi, begitu seterusnya. Jangka waktu Untuk suatu siklus dan langkah-langkah dalam suatu siklus sangat tergantung konteks dan setting permasalahan, bisa jadi dalam bilangan hari atau minggu, tetapi dapat juga dalam hitungan semester atau bahkan tahun.

Berikut model visualisasi bagan yang disusun oleh kedua ahli tsb, yaitu Kemmis dan Mc Taggart.
Siklus PTK pengembanganSatu di antara bermacam-macam lokasi atau setting penelitian tindakan adalah yang dikenal dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dalam bahasa Inggris adalah Classroom Action Research (CAR). Penelitian tindakan kelas ini dilakukan misalnya untuk meningkatkan efektivitas metode mengajar, pemberian tugas kepada siswa, penilaian, dan lain sebagainya. Dalam hal guru yang mengajar perlu berkolaborasi dengan seorang atau tim peneliti. Baik peneliti maupun guru secara bersama-sama membuat rancangan penelitiannya, selanjutnya guru itulah yang melaksanakan di keIas, tim peneliti yang mengadakan pengamatan. Sesudah proses pengamatan selesai, guru dan tim peneliti mengadakan refleksi dalam bentuk diskusi bersama. Dalam kesempatan ini guru menceritakan bagaimana hasil evaluasi diri ketika melaksanakan tindakan, lalu tim peneliti mengemukakan hasil pengamatannya sehingga terjadi proses refleksi yang rumit tetapi runtut.

Saat ini penelitian tindakan kelas sangat dianjurkan untuk dilaksanakan di semua jenjang dan jenis sekolah. Keunggulan penelitian ini adalah karena guru diikutsertakan dalam penelitian sebagai subjek yang melakukan tindakan, yang diamati, sekaligus yang diminta untuk merefleksikan hasil pengalaman selama melakukan tindakan, tentu lama kelamaan akan terjadi perubahan dalam diri mereka suatu kebiasaan untuk mengevaluasi diri (self evaluation). Keuntungan lain adalah bahwa dengan tumbuhnya budaya meneliti pada guru dari dilaksanakannya PTK yang berkesinambungan, berani kalangan guru makin diberdayakan mengambil prakarsa profesional yang semakin mandiri, percaya diri, dan makin berani mengambil risiko dalam mencobakan hal-hal yang baru (inovasi) yang patut diduga akan memberikan perbaikan serta peningkatan. Pengetahuan yang dibangunnya dari pengalaman semakin banyak dan menjadi suatu teori, yaitu teori tentang praktik pembelajaran yang dilaksanakan di kelasnya. Lebih jauh lagi dapat diharapkan bahwa guru akan menjadi terbiasa berkolaborasi dengan peneliti yang mungkin berdampak pada keberanian menyusun sendiri tindakan kelas, mengembangkan kurikulum dari bawah, dan menjadikan guru bersifat mandiri.

Untuk lebih jelasnya berikut disampaikan contoh sederhana. Seorang guru SD mengamati bahwa dalam membuat catatan pada akhir pembelajaran siswa terlihat kurang serius, sehingga catatannya kurang rapi, tidak lengkap, dan banyak salah. Guru berpikir bagaimana cara mengatasi masalah ini. Begitu guru mulai berpikir untuk mengatasi inilah sebetulnya guru yang bersangkutan sudah memiliki keinginan untuk melakukan penelitian tindakan kelas. Salah satu hasil pemikirannya adalah guru mengumpulkan catatan siswa yang diamati mempunyai catatan tidak baik. Catatan yang sudah dikumpulkan dicermati, diberi tanda-tanda koreksi, dan dikembal ikan. Mengoreksi catatan adalah langkah awal atau bagian dari bentuk tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini. Ketika buku catatan dikembalikan guru memperhatikan reaksi pemilik catatan, ditanya tentang apa sebab catatan mereka tidak baik, diberi petunjuk bagaimana membuat catatan yang baik, kemudian diamati apakah di hari-hari berikutnya ada perubahan terhadap catatannya. Dari hasil amatan ini mungkin guru dapat membuatkesimpulan, bahwa apabila guru memeriksa memberikan umpan balik kepada siswa, dan siswa dengan senang hati memperbaiki berdasarkan saran-saran dari guru, catatan siewa akan menjadi rapi, lengkap, dan benar.

Peristiwa yang diceritakan di atas sudah merupakan salah satu contoh cuplikan penelitian tindakan kelas. Dikatakan cuplikan, karena prosesnya belum selesai, tetapi sudah menunjukkan betapa sedei hanannya tindakan yang diambil, agar guru memperoleh gambaran bahwa penelitian tindakan kelas itu tidak sukar. Siapa saja yang mempunyai ide untuk memecahkan masalah, pasti dapat melakukannya. Untuk melakukan sesuatu, bahkan untuk yang sangat sederhana sekalipun, kita memang harus mengerahkan perhatian, harus ada niat melakukan, dan siap melakukan dengan serius, tapi perlu diiringi rasa santai, agar tidak ada rasa terbebani. Melakukan penelitian tindakan kelas, dapat dianggap bekerja seperti biasanya saja tanpa ada kekakuan, baik situasi maupun tindakannya sendiri.

Apabila di bagian terdahulu sudah dikenal berbagai jenis penelitian maka penelitian tindakan yang tepat mengarah ke jenis penelitian itu adalah yang disebutkan sebagai penelitian eksperimen. Penelitian tindakan ini dapat dimasukkan dalam kelompok penelitian eksperimen dengan ciri yang khusus. Jika dalam penelitian eksperimen ini si peneliti sekadar ingin mengetahui akibat dari perlakuan, tindakan, atau ”sesuatu” yang dilakukan, dalam penelitian tindakan, si peneliti mencermati betuI-betul selama proses dan akibat tindakan, sehingga diperoleh informasi yang mantap tentang dampak perlakuan yang dibuat. Dengan kalimat sederhana dapat dikatakan bahwa penelitian tindakan adalah penelitian eksperimen berulang dan berkelanjutan. Jika ada yang menanyakan, penelitian tindakan termasuk kuantitatif atau kualitatif, jawaban dari pertanyaan itu adaiah kualitatif, karena menggali informasi secara rinci. Namun demikian, penelitian tindakan tidak menolak penggunaan angka-angka untuk melengkapi data penelitiannya agar pengambilan keputusannya lebih tepat. Peneliti boleh saja menyebarkan angket kepada siswa untuk mengetahui bagaimana reaksi dan pendapat mereka. Data yang terkumpul boleh saja dianalisis dengan rumus statistik, baik sederhana maupun dengan rumus-rumus.

Sumber:
Arikunto, Suharsimi. 2014. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Hal.131-134.

Keyword terkait:
Sejarah penelitian tindakan, Pengertian penelitian tindakan kelas menurut Prof. Suhersimi Arikunto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Captcha loading...