Pendapat Para Ahli tentang Komponen Pembelajaran Kontektual

By | 24/04/2020

AsikBelajar.Com | Ada beberapa komponen dalam pembelajaran kontekstual. Menurut Muslich (2007), komponen-komponen pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut: …153

Contextual learning

a) Konstruktivisme, membangun, dan membentuk, yaitu kegiatan yang mengembangkan pemikiran bahwa pembelajaran akan lebih bermakna apabila siswa bekerja sendiri, menemukan, dan membangun sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.

b) Bertanya (questioning), yakni kegiatan belajar yang mendorong sikap keingintahuan siswa lewat bertanya tentang topik atau permasalahan yang akan dipelajari.

c) Menyelidiki, menemukan sendiri (inquiry), yaitu kegiatan belajar yang mengondisikan siswa untuk mengamati, menyelidiki, menganalisis topik atau permasalahan yang dihadapi sehingga siswa berhasil ”menemukan” sesuatu.

d) Masyarakat belajar (learning community), yaitu kegiatan belajar yang bisa menciptakan suasana belajar bersama atau berkelompok sehingga siswa bisa berdiskusi, curah pendapat, bekerja sama, dan saling membantu dengan teman yang Iain.

e) Pemodelan (modeling), merupakan kegiatan belajar yang bisa menunjukkan model yang bisa dipakai rujukan atau panutan siswa dalam bentuk penampilan tokoh, demonstrasi kegiatan, penampilan hasil karya, cara mengoperasikan sesuatu, dan sebagainya.

f) Refleksi atau umpan balik (reflection), yaitu kegiatan belajar yang memberikan refleksi atau umpan batik …154

datam bentuk bertanya jawab dengan siswa tentang kesuhtan yang dihadapi dan pemecahannya, merekonstruksi kegiatan yang telah dilakukan, kesan siswa selama mehkukan kegiatan, dan saran atau harapan siswa. Penilaian yang sesungguhnya (authentic assessment), yaitu kegiatan belajar yang bisa diamati secara periodik perkembangan kompetensi siswa melalui kegiatankegiatan nyata ketika pembelajaran berlangsung.

Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran Iebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipeIajarinya. Dalam program ini, tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran, Iangkah-langkah pembelajaran, dan authentic assessment-nya.

Dalam konteks seperti ini, program yang dirancang guru benar-benar merupakan rencana pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. Secara umum, tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Program pembelajaran konvensional Iebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual Iebih menekankan pada skenario pembelajarannya. …155

Oleh karena itu, Johnson (2000) mempunyai pendapat sendiri tentang komponen-komponen utama dalam pembelajaran kontekstual. Di antaranya sebagai berikut:

a. Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connections)
Keterkaitan yang mengarah pada makna adalah jantung dari pembelajaran dan pengajaran kontekstual. Ketika siswa dapat mengaitkan isi dari mata pelajaran akademik, ilmu pengetahuan alam, atau sejarah dengan pengalamannya mereka sendiri, mereka menemukan makna dan makna memberi mereka alasan untuk belajar. Mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan seseorang membuat proses belajar menjadi hidup dan keterkaitan inilah inti dari CTL.

b. Melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti (doing significant works)
Model pembelajaran ini menekankan bahwa semua proseS’pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas harus punya arti bagi siswa sehingga mereka dapat mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan siswa.

c. Belajar yang diatur sendiri (seIf-regulated Learning)
Pembelajaran yang diatur sendiri, merupakan pembelajaran yang aktif, mandiri, melibatkan kegiatan menghubungkan masalah iImu dengan kehidupan sehari-hari dengan cara-cara yang berarti bagi siswa. Pembelajaran yang diatur …156

siswa sendiri, memberi kebebasan kepada siswa menggunakan gaya belajarnya sendiri.

d. Bekerja sama (collaborating)
Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi.

e. Berpikir kritis dan kreatif (critical dan creative thinking)
Pembelajaran kontekstual membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir tahap tinggi, berpikir kritis dan berpikir kreatif. Berpikir kritis adalah suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah menarik keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian, ketajaman pemahaman dalam mengembangkan sesuatu.

f. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nurturing the individual)
Dalam pembeiajaran kontekstual siswa bukan hanya mengembangkan kemampuan-kemampuan intelektual dan keterampilan, tetapi juga aspek-aspek kepribadian: integritas pribadi, sikap, minat, tanggung jawab, disiplin, motif …157

berprestasi, dsb. Guru dalam pembelajaran kontekstual juga berperan sebagai konselor, dan mentor. Tugas dan kegiatan yang akan dilakukan siswa harus sesuai dengan minat, kebutuhan dan kemampuannya.

g. Mencapai standar yang tinggi (reaching high standards)
Pembelajaran kontekstual diarahkan agar siswa berkembang secara optimal, mencapai keunggulan (excellent). Tiap siswa bisa mencapai keunggulan, asalkan siswa dibantu oleh gurunya dalam menemukan potensi dan kekuatannya.

h. Menggunakan Penilaian yang autentik (using authentic assessment)
Penilaian autentik menantang para siswa untuk menerapkan informasi dan keterampilan akademik baru dalam situasi nyata untuk tujuan tertentu. Penilaian autentik merupakan antitesis dari ujian standar, penilaian autentik memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka sambil menunjukkan apa yang sudah mereka pelajari. …158

Sumber:
Cahyo, Agus N. 2013. Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar Teraktual dan Terpopuler. Diva Press: Yogyakarta. Hal. 153-158

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *