Penalaran Moral pada Anak - AsikBelajar.Com

Penalaran Moral pada Anak

AsikBelajar.Com | Sebagai pendidik anak usia dini, Anda perlu menanamkan kebiasaan yang baik untuk anak didik agar anak terbiasa melakukan hal-hal baik atau berperilaku baik. Dengan terbiasanya, anak mereka akan melakukan kebiasaan baik dengan senang hati. Ingatlah bahwa perilaku moral dilaksanakan dengan sukarela. Moralitas memang dibangun sejak masa kanak-kanak, namun moralitas sesungguhnya tidak muncul pada masa kanak-kanak melainkan pada masa remaja. Perkembangan moral adalah bagian dari proses pembelajaran anak atas aturan-aturan dasar. Selain itu, perkembangan moral juga termasuk dalam pemahaman akan emosi dan kekuatannya, serta kemampuan untuk mengenali bahwa emosi tersebut dapat memotivasi individu untuk melakukan sesuatu yang tidak selalu baik atau adil bagi orang lain. Dengan demikian, perkembangan moral adalah bagaimana individu berperilaku terhadap orang lain dalam kehidupan. Lingkungan utama yang mempengaruhi perkembangan moral individu adalah keluarga, sekolah, dan hubungan-hubungan sosial. Sehingga tugas orang dewasa dalam membantu perkembangan moral adalah mengalihtugaskan dan memberikan pengertian atas peraturan yang ada pada kebudayaan anak. Ketika seorang pendidik membantu anak untuk mengembangkan prinsip-prinsip moral, penting juga untuk mengembangkan pemahaman akan agama atau kepercayaan terhadap anak. Hal ini karena tujuan utama dari pendidikan moral adalah untuk mengembangkan kesadaran akan benar dan salah atau lebih dikenal dengan hati nurani. Idealnya, seseorang belajar untuk mengerjakan hal yang baik, bukan karena takut akan akibat atau konsekuensinya bila ia melanggar, tetapi karena ada aturan dari dalam dirinya yang ia pelajari dari keluarga dan budaya (Hildayani, 2004, h.12.2). Di sini anak diarahkan untuk memiliki penalaran moral.

Mengenai penalaran moral, (Kohlberg, 1971 dalam C. Asri Budiningsih, 2001) mengungkapkan bahwa ada kesatuan antara penalaran moral dengan perilaku moralnya. Dengan kata lain, betapa pun bermanfaatnya suatu perilaku moral terhadap nilai kemanusiaan, namun jika perilaku tersebut tidak disertai dan didasarkan pada penalaran moral maka perilaku tersebut belum dapat dikatakan sebagai perilaku moral yang mengandung nilai moral. Dengan demikian, suatu perilaku moral dianggap memiliki nilai moral jika #8.15

perilaku tersebut dilakukan secara sadar atas kemauan sendiri dan bersumber dari pemikiran atau penalaran moral yang bersifat otonom.

Penalaran moral merupakan faktor penentu yang melahirkan perilaku moral (Kohlberg, 1977 dalam C. Asri Budiningsih, 2001). Oleh Karena itu, untuk menemukan perilaku moral yang sebenarnya, kita hanya dapat mempelajarinya melalui penalaran. Artinya, pengukuran moral yang benar tidak sekedar mengamati perilaku moral yang tampak, tetapi harus melihat pada penalaran moral yang mendasari keputusan perilaku moral tersebut. Dengan: mengukur tingkat penalaran moral anak usia dini, pendidik akan dapat mengetahui tinggi rendahnya moral tersebut. Informasi ini akan dapat dijadikan landasan pijak dalam merancang program-program pembelajaran moral bagi anak usia dini, juga sebagai landasan pijak bagi perancang dan produksi bahan-bahan pembelajaran khususnya di bidang moral, seperti buku-buku teks serta media pembelajaran moral lainnya. Tingkat penalaran moral anak usia dini ini penting untuk diketahui, sebab akan menentukan nasib dan masa depan mereka serta kelangsungan hidup bangsa Indonesia umumnya.

Kohlberg (menurut Duska dan Whelan, 1975 dalam C. Asri Budiningsih, 2001) tidak memusatkan perhatian pada perilaku moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang individu tidak menjadi pusat pengamatannya. Kohlberg menganggap bahwa mengamati perilaku tidak banyak menunjukkan kematangan moral seseorang. Seorang dewasa dengan seorang anak kecil barangkali perilakunya sama, tetapi seandainya kematangan moral mereka berbeda, tidak akan tercermin dalam perilaku mereka. Kohlberg menjelaskan pengertian moral menggunakan istilah-istilah, seperti moral: reasoning, moral-thinking, dan moral-judgment, sebagai istilah-istilah yang mempunyai pengertian sama dan digunakan secara bergantian. Istilah tersebut dialih bahasakan menjadi penalaran moral (Setiono, 1982, Pratidarmanastiti, 1991 dalam C. Asri Budiningsih, 2001). Penalaran moral seseorang mencerminkan perbedaan kematangan moral tersebut.

Penalaran moral menekankan pada alasan mengapa suatu tindakan dilakukan, dari pada sekadar arti suatu tindakan sehingga dapat dinilai apakah tindakan tersebut baik atau buruk (Setiono, 1982). Kohlberg juga tidak memusatkan perhatian pada pernyataan (statement) tentang apakali tindakan tertentu itu benar atau salah. Alasannya, seorang dewasa dengan seorang anak kecil mungkin akan mengatakan sesuatu yang sama maka di sini tidak tampak adanya perbedaan antara keduanya. Apa yang berbeda #8.16

dalam kematangan moral adalah pada penalaran yang diberikannya terhadap sesuatu hal yang benar atau salah.

Penalaran moral dipandang sebagai suatu struktur bukan isi. Dengan demikian, penalaran moral bukanlah pada apa yang baik atau yang buruk, tetapi pada bagaimana seseorang berpikir sampai pada keputusan bahwa sesuatu adalah baik atau buruk (Kohlberg, 1981 dalam C. Asri Budiningsih, 2001). Penalaran-penalaran moral inilah yang menjadi indikator dari tingkatan atau tahap kematangan moral. Memperhatikan penalaran mengapa suatu. tindakan salah, akan lebih memberi penjelasan dari pada memperhatikan tindakan (perilaku) seseorang atau bahkan mendengar pernyataannya bahwa sesuatu itu salah (Duska dan Whelan, 1975 dalam C. Asri Budiningsth, 2001).

Jika penalaran moral dilihat sebagai isi maka sesuatu dikatakan baik atau buruk akan sangat tergantung pada lingkungan sosial budaya tertentu sehingga sifatnya akan sangat relatif. Tetapi jika penalaran moral dilihat sebagai struktur maka dapat dikatakan bahwa ada perbedaan penalaran moral seorang anak dengan orang dewasa, dan hal ini dapat diidentifikasi tingkat perkembangan moralnya. Kematangan moral menunjuk penalaran-penalaran yang matang pula dalam arti moral. Suatu keputusan bahwa sesuatu itu baik barangkali dianggap tepat, tetapi keputusan itu baru disebut matang bila dibentuk oleh suatu proses penalaran yang matang. Oleh sebab itu tujuan dari pendidikan moral adalah kematangan moral, dan jika kematangan moral itu adalah sesuatu yang harus dikembangkan maka seharusnya para pendidik moral mengetahui proses perkembangan dan cara-cara membantu perkembangan moral tersebut.

Sumber:
Aisyah, Siti. 2008. Materi Pokok Perkembangan dan Konsep dan Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional.┬áHal. 8.15 – 8.17.

Related Posts

AsikBelajar.Com

Blogger biasa yang berdomisili di Banjarmasin dan berharap blog ini bermanfaat buat pelajar, mahasiswa & masyarakat umum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 AsikBelajar.Com - Theme by WPEnjoy · Powered by WordPress