Pembelajaran Bermakna dengan Reception Learning

AsikBelajar.Com | Teori kognitif menekankan belajar tidak sekadar melibatkan hubungan antara stimulus dan respons. Model belajar kognitif mengatakan bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Menurut Ausubel & Hanaesian (1978), belajar merupakan perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku yang tampak. Teori kognitif juga menekankan bahwa bagian-bagian dari situasi saling berhubungan dengan seluruh konteks situasi tersebut. Memisah-misahkan atau membagi-bagi situasi/materi pelajaran menjadi komponen-komponen yang kecil-kecil dan mempelajarinya secara terpisah-pisah. Teori kognitif berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi, dan faktor-faktor Iain.

David Ausubel adalah orang yang satu-satunya mengkritik discovery learning, atau memberikan kelemahan pada model sebelumnya. Dia mempersoalkan bahwa siswa tidak selalu tahu apa yang penting atau relevan. Bahkan banyak siswa membutuhkan motivasi eksternal dalam melakukan tugas-tugas kognitif yang diperlukan untuk belajar terhadap apa yang diajarkan di sekolah. Menurutnya, faktor yang paling penting dalam mempengaruhi belajar adalah apa yang diketahui siswa, ia memberikan alternatif modei pengajaran yang disebut reception learning. .. 122

Teori ini menyarankan agar guru menyiapkan situasi belajar, memilih materi-materi yang tepat untuk siswa, dan kemudian menyampaikannya dalam bentuk pengajaran yang terorganisasi dengan baik, mulai dari umum ke haI-hal yang lebih terperinci. Menurut Ausubel, peranan guru dalam discovery learning dan reception learning sangat berbeda, tetapi memiliki beberapa pokok atau motif yang sama, yaitu:
1. Keduanya menganjurkan siswa agar aktif terlibat dalam proses belajar.
2. Keduanya menekankan cara membawa pengetahuan siswa yang telah ada sebelumnya untuk digabungkan dengan pelajaran baru.
3. Keduanya menganggap bahwa pengetahuan, suatu ketika secara perlahan-Iahan dan terus-menerus berubah di dalam pikiran siswa.

David Ausubel banyak mencurahkan perhatiannya pada pentingnya mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses belajar bermakna (meaningful learning) dan belajar verbal yang dikenal dengan expository learning. Menurut Ausubel, pada dasarnya orang memperoleh pengetahuan melalui penerimaan, bukan melalui penemuan. Konsep-konsep, prinsip, dan ide-ide yang disajikan pada siswa akan diterima oleh siswa, dapat juga konsep ini ditemukan sendiri oleh siswa itu sendiri. Belajar bermakna adalah proses …123

mengaitkan dalam informasi baru dengan konsep-konsep yang relevan dan terdapat dalam struktur kognitif seseorang.

Selanjutnya, dikatakan bahwa pembelajaran dapat menimbulkan belajar bermakna jika memenuhi prasyarat, yaitu materi yang akan dipelajari melaksanakan belajar bermakna secara potensial dan anak yang belajar bertujuan melaksanakan belajar bermakna. Berdasarkan pandangannya tentang belajar bermakna, maka David Ausuble mengajukan 3 prinsip pembelajaran.

1. Presentation of Advance Organizer
Pengatur awal mengarahkan para siswa pada materi yang akan mereka pelajari dan menolong mereka untuk mengingat kembali informasi yang berhubungan, dan dapat digunakan dalam membantu menanamkan pengetahuan baru. The advance organizer berhubungan dengan ide-ide yang disampaikan dalam suatu pelajaran untuk memberi informasi kepada siswa yang telah siap dalam pikiran mereka, dan memberikan skema organisasi yang luas dalam bentuk informasi yang Iebih khusus.

Belajar yang berarti pada umumnya terjadi ketika ada potensi yang cocok antara schemata (organisasi mental yang memungkinkan adanya penyesuaian diri tertentu kepada lingkungan), siswa, materi yang dipelajari. Untuk membuatnya Iebih cocok, suatu pelajaran yang mengikuti strategi Ausubel selalu dimulai dengan suatu advance organizer …124

(pengoranisasian awal), yaitu suatu pernyataan dengan memperkenalkan konsep tingkat tinggi yang cukup luas untuk mencakup informasi yang akan mengikuti. Advance organizer dapat mengambil tiga bentuk berbeda, yaitu definisi dari suatu konsep, generalisasi atau analogi yang dibandingkan, dengan materi baru dengan beberapa contoh yang dikenal baik.

2. Presentation of Learning Task or Material
Dalam bagian kedua dari suatu pembelajaran dengan materi baru disampaikan dengan memberikan ceramah, diskusi film, atau memberikan tugas kepada siswa. Ausubel menekankan kebutuhan untuk mempertahankan perhatian siswa sama baiknya dengan kebutuhan dalam mengorganisasi materi pelajaran secara jelas untuk berhubungan dengan susunan yang telah direncanakan dalam advance organizer. la menyarankan suatu proses yang disebut progressive differentiation, di mana suatu kemajuan langkah demi langkah dari konsep umum ke konsep khusus.

3. Strengthening Cognitive Organization
Dalam fase ketiga dari pelajaran Ausubel ini, guru disarankan mencoba untuk menggabungkan informasi baru ke dalam susunan pelajaran yang sudah direncanakan untuk pelajaran permulaan dengan mengingatkan siswa bagaimana setiap rincian khusus yang berhubungan dengan gambar ya ng besar. Siswa juga diminta untuk melihat, apakah mereka telah …125

mengerti pelajaran yang disampaikan guru dan dapat menghubungkan pelajaran tersebut dengan pengetahuan mereka yang telah ada sebelumnya, serta menghubungkannya dengan organisasi yang ada di advance organizer.

Akhirnya, siswa diberi kesempatan untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang akan memperluas pengertian mereka melebihi isi pelajaran yang disampaikan guru.

Tambahan saran untuk pengajaran yang berdasar strategi reception learning, yaitu:
1. Mengorganisasi pengajaran sebelumnya dengan suatu cara yang akan mengarahkan dari konsep-konsep yang paling detail.
2. Merencanakan diskusi kelas dalam waktu yang singkat sebelum menyampaikan mata pelajaran baru kepada siswa, sehingga siswa dapat mengungkapkan latar belakang informasi yang penting. …126

Sumber:
Cahyo, Agus N. 2013. Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar Teraktual dan Terpopuler. Diva Press: Yogyakarta. Hal.122-126.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *