Otak dan Pendidikan Anak Usia Dini - AsikBelajar.Com

Otak dan Pendidikan Anak Usia Dini

AsikBelajar.Com | Otak merupakan fungsi yang sangat fundamental di dalam proses berfikir. Banyak temuan dari riset otak yang memiliki peranan penting bagi pendidikan dan perkembangan anak, yaitu:

1) Pada saat perkembangan awal anak, dimana studi menemukan bahwa jumlah rangsangan sejak dini dalam perkembangan anak terkait dengan jumlah koneksi syyaraf atau synapses, yang merupakan #28
dasar untuk pembelajaran dan daya ingat yang lebih tinggi, temuan bahwa kapasitas otak tidak ditentukan sejak lahi rtetapi dipengaruhi oleh pengalaman dini telah mempunyai dampak yang sangat mengembirakan terhadap dunia riset dan kebijakan pendidikan masa anak usia dini. Lebih jauh suatu riset menyatakan bahwa pelatiha yang bercakupan luas dapat mengubah struktur otak, bahkan hingga masa dewasa.

2) Pada usia 18 bulan, bayi menghasilkan sangat banyak syaraf dan koneksi antar syaraf-syaraf. Setelah masa itu bayi mulai kehilangan syaraf tersebut. Apa yang terjadi ialah bahwa otak membuang koneksi- koneksi yang tdiak digunakan, sehingga koneksi yang tersisa akan bekerka efesien dan terorganisir dengan baik. Proses ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan dimana anak itu tinggal, dan terus hingga awal masa anak-anak, kelihatan otak atau kerentanannya untuk berubah oleh lingkungan berlangsung paling tinggi pada usia paling dini dan berkurang lama kelamaan.

3) Dalam riset otak ialah penemuan bahwa ketika seseorang memperoleh pengetahuan dan kemampuan otaknya menjadi mangkin efesien. (Slavin, 2008:234-235)

Dengan demikian, temuan penelitian di atas mengenai riset otak memperkuat kesimpulan bahwa otak bukanlah lemari arsip untuk fakta dan kemampuan malainkan terlibat dalam proses pengorganisasian informasi untuk membuatnya dapat diakses dan digunakan lebih mudah. Proses pembuangan koneksi dan dengan selektif mengabaikan atau menyingkirkan informasi dan juga proses membuat koneksi yang teratur diantara informasi, mempunyai peran yang sama-sama penting atau barangkali lebih penting dengan menambah informasi, kemajuan dalam risest otak benar-benar secara alami telah menghasilkan seruan penerapan pada praktik pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan sangat mempengaruhi perkembangnya agar tumbuh dengan optimal. Sebagaimanan tujuan pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara (1977:303) yaitu usaha pendidikan ditujukan kepada: 1) halusnya budi, 2) cerdasnya #29

otak dan sehatnya badan, ketiga usaha itu akan menjadikan lengkap dan larasnya hidup manusia di dunia.

Lebih lanjut, beberapa jurnalis menegaskan bahwa pendidik harus menengok pada ilmu syaraf untuk menjawab pertanyaan seperti bagaimana cara terbaik mengajar anak berdasarkan pertumbuhan dan perkembangan otak. Riset menemukan bahwa salah satu alat prediksi yang paling ampuh tentang dampak guru terhadap anak ialah keyakinan bahwa apa yang ia kerjakan menghasilkan sesuatu yang berbeda, keyakinan ini yang disebut daya hasil guru (teacher afficacy) adalah inti dari makna apa seorang guru yang intensional, guru yang yakin bahwa keberhasilan di sekolah hampir seluruhnya terjadi akibat kecerdasan bawaan anak, lingkungan rumah atau faktor lain yang tidak dapat dipengaruhi guru, tidak mungkin mnegajar dengan cara yang sama dengan orang-orang yang yakin bahwa upaya mereka sendiri adalah kunci pembelajaran anak, guru yang intensional yaitu orang yag mempunyai keyakinan kuat terhadap daya hasilnya, memepunyai kemungkinan yang lebih besar mengarakan upaya yang konsisten untuk bertahan dihadapan rintangan dan untuk terus mencoba tanpa lelah hingga setiap anak berhasil, guru intensional mencapai rasa daya hasil dengan terus menerus menilai hasil pengajaran mereka, terus menerus mencoba strategi-strategi baru apabila pengajaran pertama mereka tidak berhasil dan tersu menerus mencari gagasan dari rekan kerja, buku, majalah, loka karya dan sumber-sumber lain untuk memperkaya dan memperkokoh keterampilan mengajar mereka. (Slavin, 2008:9)
Salah satu ahli ilmu saraf terkemuka bahkan memberitahu pada pendidik bahwa meski otak anak-anak mendapatkan banyak informasi pada tahun-tahun awal, sebagian besar proses belajar terjadi setelah formasi synaptic menjadi stabil, yakni setelah usia sepuluh tahun. (Goldman- Rakic dalam Santrock, 2007:46) #30

Sumber:
Khadijah, 2016. Pengembangan Kognitif Anak Usia Dini. Medan: Perdana Publishing. Hal. 28 – 30.

Related Posts

AsikBelajar.Com

Blogger biasa yang berdomisili di Banjarmasin dan berharap blog ini bermanfaat buat pelajar, mahasiswa & masyarakat umum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 AsikBelajar.Com - Theme by WPEnjoy · Powered by WordPress