Otak Balita dan Proses Belajar

By | 25/08/2020

AsikBelajar.Com | Adalah tidak benar bahwa proses belajar seorang anak baru mulai di sekolah dan pada masa balita tidak lebih dari pada “bermain saja”. Pandangan seperti ini keliru karena justru pada usia sampai balita, kurang lebih 50% 581-361 otak (neuron) berkembang tersambung-sambung. Proses penyambungan inilah yang menjamin luas dan kokohnya dasar bagi perkembangan anak selanjutnya.

Berbagai kecerdasan, seperti kecerdasan matematika, linguistik dari emosional dan kecerdasan Iainnya berkembang secara bertahap. Proses perkembangan janin ini memerlukan rangsangan sebagai dorongan. Sejak masih dalam kandungan, melalui dorongan stimulasi inilah terjadi penyambungan neuron. Semakin banyak terjadi penyambungan neuron, akan memunculkan pengalaman yang lebih luas dan kecerdasan yang lebih meningkat.

Ahli neurobiologi David Hubel dan Tortsen Wiesel telah melakukan percobaan berikut (dalam Pangalila, 2002). Seekor bayi kucing yang baru lahir dijahit salah satu kelopak matanya sehingga matanya tertutup. Sesudah waktu tertentu jahitan dibuka dan ternyata mata yang ditutup tersebut buta. Ternyata mata yang ditutup tersebut, urat sarafnya tidak berkembang dan tidak terjadi sambungan-sambungan saraf dengan bagian otak yang lain yang perlu untuk mengembangkan kemampuan melihat. Percobaan yang sama dilakukan pada kucing dewasa dan ternyata setelah jahitan dibuka kembali, penglihatan kucing dewasa ini tidak terganggu!

Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian tersebut bahwa bayi perlu distimulasi agar kecerdasannya berkembang. Atau dengan perkataan lain, seseorang harus belajar sejak dalam kandungan. Jika hal ini tidak terjadi maka akan banyak kesempatan yang baik akan hilang, untuk selama-lamanya.

Menurut hasil penelitian di bidang neurologi, perkembangan otak anak tumbuh pesat di usia dini. Salah satu hasil penelitian yang penting dicatat, pada usia empat tahun kapasitas kecerdasan anak mencapai 50 persen dan #2.27

delapan tahun mencapai 80 persen. Jadi, terlihat betapa pesat pertumbuhan anak pada masa-masa itu.

Ahli lainnya menyebutkan, ketika dilahirkan, otak bayi mengandung 100 miliar neuron dan sekitar satu triliun sel galia yang berfungsi sebagai perekat. Selama tahun-tahun pertama, otak bayi berkembang pesat dengan menghasilkan neuron yang banyaknya melebihi kebutuhan. Sambungan itu harus diperkuat melalui berbagai rangsangan karena kalau tidak akan mengalami atrohy (menyusut dan musnah). Banyaknya sambungan itulah yang mempengaruhi tingkat kecerdasan anak. #2.26

Sumber:
Aisyah, Siti. 2008. Materi Pokok Perkembangan dan Konsep dan Pengembangnn Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional. Hal. 2.25-2.26.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *