Mendorong Perkembangan Kognitif pada Anak Usia Dini

By | 26/10/2020

AsikBelajar.Com | Anak belajar banyak melalui dirinya sendiri, tetapi ia sering memerlukan pertolongan untuk memadukan apa yang dipelajarinya sehingga tercipta konsep yang lebih kompleks/rumit. Untuk alasan itulah, guru/pendidik perlu mengatur kegiatan yang terpusat pada anak dalam mengembangkan dan memproses kemampuan berpikir yang spesifik. Anak perlu ditawari berbagai kegiatan untuk bermain menjelajah lingkungan, lebih banyak merespons pada #5.32

rangsangan dalam lingkungan dengan cara yang sangat konstruktif/membangun yaitu ketika ia mengorganisasi informasi di dalam otaknya dalam pola yang dapat diprediksi (diperkirakan) sejak usia yang sangat dini. Tetapi apabila anak hanya ditawari permainan dengan sedikit atau tidak ada petunjuk sama sekali, mereka kadang-kadang mengalami kesulitan menjelaskan dan memahami apa yang telah dia lihat atau jelajahi. Sebagaimana anak mendapatkan lebih banyak pengalaman dari dunia sekeliling mereka, mereka sering membutuhkan pertolongan dalam mengorganisasi hasil belajar yang spesifik (terarah pada suatu konsep). Janice J. Beaty telah mengorganisasi sejumlah pengembangan konsep yang muncul secara sistematis melalui beberapa program pengembangan kognitif pada anak usia dini, yaitu sebagai berikut.

1. Bentuk
Bentuk adalah salah satu dari konsep paling awal yang harus dikuasai. Anak dapat membedakan benda berdasarkan bentuk lebih dulu sebelum berdasarkan ciri-ciri lainnya. Dengan demikian, merupakan hal terbaik untuk memulai program kognitif dengan memberikan kegiatan yang memungkinkan anak membedakan berbagai benda dengan bentuk yang berbeda-beda.

2. Warna
Meskipun anak sering berbicara tentang warna dari suatu benda, Beaty mengatakan bahwa anak dapat mengembangkan konsep warna setelah mengenal bentuk. Konsep warna paling baik dikembangkan dengan cara memperkenalkan warna satu-per satu kepada anak dan menawarkan beragam permainan dan kegiatan menarik yang berhubungan dengan warna.

3. Ukuran
Karena anak mendapatkan lebih banyak pengalaman di dalam lingkungannya maka ia mulai menaruh perhatian khusus kepada hubungan antar benda-benda tersebut. Ukuran adalah salah satu yang diperhatikan anak secara khusus. Sering kali hubungan ukuran ini diajarkan dalam konteks kebalikan, seperti besar dengan kecil, panjang dengan pendek, lebar dengan sempit, dan panjang dengan pendek. Anak akan dapat memahami satu macam ukuran dalam satu waktu sehingga ia harus belajar konsep besar dulu baru konsep kecil, dan akhirnya dia dapat diminta untuk membandingkan keduanya. #5.33

4. Pengelompokan
Ketika anak memilih benda, orang, kejadian atau ide ke dalam kelompok: dengan dasar beberapa karakteristik umum, seperti warna, ukuran atay bentuk, kita mengatakan anak sedang belajar mengelompokkan. Anak usia 3 tahun sudah mampu mengelompokkan benda. Kita dapat melihat prosesnya dengan jelas ketika ia memisahkan mainan ke dalam kelompok “binatang besar” dan “binatang kecil”. Anak mengklasifikasi sesuatu dalam berbagai cara. Sekotak kancing misalnya, mungkin akan dikelompokkan menurut ukuran, bentuk atau warna.

5. Pengurutan
Pengurutan adalah kemampuan meletakkan benda dalam urutan menuntut aturan tertentu. Sebagai contoh, mengurutkan 5 buah tongkat dari yang paling pendek ke yang paling panjang, mengurutkan berbagai buku dari yang paling tebal ke yang paling tipis.

Wilayah kurikulum untuk anak usia dini ini membuat anak mampu mengorganisasikan pengertiannya tentang dunia di sekelilingnya dengan mendorong perkembangan pembangunan mental (konsep) yang menggambarkan hal yang sama dalam suatu cara tertentu. Anak mengembangkan (konsep) melalui aktivitas nyata yang membutuhkan rentangan pengalaman indra yang luas. Seluruh informasi yang didapatkan melalui bermain menjelajah ini akan diarsipkan ke dalam pola pemrograman di dalam otak. Melalui kegiatannya, anak membangun mental peniruan dari objek yang sebenarnya, membedakan benda-benda melalui penampakan luarnya, dan memutuskan bagaimana sesuatu tampak sesuai satu sama lain untuk membentuk pola atau urutan.

Menurut teori Piaget, kemampuan untuk mengonsepkan ciri-ciri benda dengan menggunakan kategori tertentu (misalnya warna, bentuk atau ukuran) berbeda dengan kemampuan mengkonsepkan angka. la mengatakan bahwa kedua kemampuan tersebut berbeda yaitu abstraksi empiris (mengabstrakkan hal yang nyata) mengacu pada konsep kategori, sementara abstraksi reflektif mengacu pada konsep angka. Dalam abstraksi empiris, anak terpusat pada satu ciri dari benda (misalnya warna), dan mengenyampingkan ciri-ciri lainnya. sebaliknya, abstraksi reflektif adalah proses berpikir yang lebih matang yang dibangun dari dalam. Ketika kita menempatkan dua benda berwarna biru, anak dapat dengan cepat membentuk abstraksi empiris melalui #5.34

pengamatan, tetapi harus menginternalisasi (memasukkan dalam pikiran) fakta bahwa kedua benda tersebut ada di sana. Konsep “dua” tidak dapat dikomunikasikan dengan sendirinya oleh benda kepada anak. Konsep tersebut harus dibentuk dalam pikiran. Anak harus mengenalinya karena konsep dua tidak secara nyata ada di sana untuk dilihat oleh anak secara langsung, seperti halnya warna. Oleh karena konsep matematika merupakan abstraksi reflektif, anak harus diberi kesempatan untuk mengamati ciri-ciri benda dan belajar membentuk hubungan dengan membedakan ciri-ciri umum. Anak membutuhkan pertolongan dalam mengenali dunia sekelilingnya dan mengorganisasikan persepsinya. Membantu anak dalam membentuk abstraksi empiris yang akurat adalah sesuatu yang penting agar anak usia dini dapat terdorong untuk melakukan proses mental yang lebih rumit, seperti membentuk abstraksi reflektif. #5.35

Sumber:
Aisyah, Siti. 2008. Materi Pokok Perkembangan dan Konsep dan Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional. Hal.5.32-5.35.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *