Manusia sebagai Khalifah dalam Pengembangan IPTEK

(judul asli: Perwujudan Manusia sebagai Khalifah)

AsikBelajar.Com | Allah Swt menciptakan manusia bukan tanpa tujuan. Hal ini ditunjukkan oleh Firman Allah Swt yang artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu” (Al Qur’an, Surat AdzariyatAyat 56). MenurutAli (1983), ayat ini mendudukkan manusia sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan. Setiap makhluk diberikan peluang untuk mengembangkan dan memajukan dirinya, menuju suatu tujuan, yaitu berbakti kepada Allah Swt. Allah adalah sumber dan pusat dari semua kuasa (power) dan semua kebaikan (goodness), dan kemajuan manusia tergantung dari bagaimana usahanya dalam kerangka kemauan Allah. Jadi, menjadikan manusia bukan kepentingan Dia, tetapi semua itu adalah untuk kepentingan manusia sendiri.

Sebagai perwujudan pengabdian kepada Allah Swt, manusia diwajibkan untuk menjaga akhlak yang mulia (akhlaqul karima), yaitu bermoral tinggi, berbudi luhur, dan berperilaku terpuji. Hal itu ditunjukkan …37.

dalam hadits Nabi Muhammad Saw. yang artinya “‘Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia”. Menurut pandangan Islam, martabat manusia diukur dari iman dan amal sholeh (berbuat kebajikan)-nya. Walaupun pada dasarnya manusia dijadikan oleh Tuhan dalam sebaik-baik bentuk, namun apabila ada seseorang manusia yang tidak beriman dan berkinerja buruk, maka orang tersebut akan ditempatkan pada tempat yang serendah-rendahnya. Surat At Tiin mengisyaratkan hal ini sebagai berikut.

(1) Demi (buah) tin dan (buah) zaitun.
(2) Dan bukit Sinai.
(3) Dan negeri yang aman ini.
(4) Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dalam sebaik-baik bentuk.
(5) Kemudian Kami kembalikan ia ke tempat yang paling rendah.
(6) Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, maka bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya.

Mengenai kedudukan manusia sebagai khalifah ini tersebut pada beberapa ayatAl Qur’an. Misalnya, dapat diperhatikan dialog antara Allah Swt dengan para malaikat dalam Surat Al Baqarah Ayat 30, yang artinya sebagai berikut.

Ingatlah ketika Tuhanmu berhrman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang-orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Dari dialog ini dapat disebutkan bahwa Allah dengan sungguhsungguh mengangkat manusia sebagai khalifah, yang dapat diartikan sebagai pemimpin, pengelola atau pemegang amanat. Dalam hal ini manusia memiliki posisi yang unik di dunia ini. Manusia diperintahkan bekerja keras untuk mengatur dunia ini dan mengatasi rintangan yang ada. Perlu diingat bahwa dengan kedudukan sebagai khalifah ini manusia tidak dapat mengklaim kedaulatan mutlak atas dunianya. Manusia senan- …38.

tiasa harus tunduk terhadap aturan Allah. Hal ini sesuai dengan penafsiran Nasr (1981) yang menyatakan bahwa manusia memiliki kebebasan, tetapi sebagai makhluk juga memiliki keterbatasan. Kebebasan yang dimiliki oleh manusia untuk mengaturdunia ini dalam kerangka tunduk dan patuh pada ketentuan Allah, karena yang memiliki kebebasan sejati hanyalah Allah. Akan tetapi, manusia sebagai khalifah Allah tidak mungkin dapat melaksanakan kekhalifahannya apabila tidak dibekali oleh potensipotensi untuk mengemban tugas ini. Potensi ini adalah akal dan nafsu. Potensi-potensi ini apabila tidak diarahkan sesuai dengan image Allah maka dapat membuat kerusakan lingkungan di muka bumi ini. Oleh karena itu, wajar apabila para malaikat bertanya kepada Allah: “Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi ini orang yang akan membuat kerusakan. ? Akhirnya Allah menegaskan bahwa Dia lebih mengetahui daripada malaikat, yaitu manusia dapat diberi wewenang untuk mengelola bumi ini, karena pada dasarnya manusia memiliki fitrah yang baik.

Ilmu pengetahuan adalah pemahaman tentang dunia di sekeliling kita, sedangkan teknologi menghasilkan prosedur-prosedur untuk membangun dan menciptakan sesuatu, dalam bentuk prototipe-prototipe, model-model produk atau piranti (Morgan, 1979). Setiap manusia harus memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak kurang dari 750 ayat atau kira-kira seperdelapan dari kandungan AI Qur’an memuat seruan untuk mempelajari alam semesta, berpikir dan melakukan kegiatan ilmiah. Sebagai contoh dalam Surat Al Mujadilah Ayat 11 difirmankan: “…niscaya Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…”. Contoh lain, dalam Surat An Naml Ayat 93 dinyatakan oleh Allah: “…Dia akan memperlihatkan kepada kalian tanda-tanda kebesaranNya, maka kalian akan mengetahuinya…”. Dan satu contoh lagi, dalam Surat Al Ankabut Ayat 43 yang berbunyi sebagai berikut: Dan perumpamaanperumpamaan iniAku buatkan untuk manusia, dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.

Upaya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan hal yang esensial dalam pembangunan suatu bangsa, karena dapat mempengaruhi semua bidang pembangunan. Bahkan sebenarnya terjadi siklus …39.

antara perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan perkembangan suatu masyarakat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berdampak nyata pada kehidupan keluarga, bisnis/industri, sub-kultur, dan hubungan antar manusia. Sebaliknya, faktor-fakor sosial budaya dalam masyarakat menentukan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri.. Dengan demikian, manusia berdasarkan pada perintah Allah dalam Al Qur’an dan kesadaran atas masa depan pertumbuhannya, manusia diperintahkan untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, sesuai dengan konsep manusia sebagai khalifah di muka bumi, dalam rangka mengabdi kepadaAlIah Swt.

Sekarang masalahnya, “bagaimana manusia memahami, menggali, dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi itu, yang bersifat teratur, tepat, dan dapat membawa kedamaian, keselamatan, dan kemaslahatan umat manusia?”Atau dengan perkataan lain, “bagaimana manusia menguasai untuk IPTEK, baik secara ontologis, epistemologis, maupun aksiologis yang bersifat islami?”

Pertama, dalam mempelajari ilmu pengetahuan harus memiliki batas-batas yang jelas. Batas ilmu pengetahuan adalah sampai batasbatas pengalaman empiris manusia di dunia ini. Hal ini berarti bahwa hal-hal yang bersifat ghoib, lebih-Iebih yang menyangkut eksistensi Tuhan, bukan merupakan cakupan ilmu pengetahuan.

Secara epistemologis, yaitu bagaimana cara mencari penjelasan tentang alam semesta, yang pada umumnya melalui metode ilmiah juga harus sesuai dengan moralitas yang agung. Sebagai contoh, manusia tidak boleh melakukan penelitian yang dapat merusak badan manusia, hewan, dan lingkungan sekitarnya, walaupun tujuannya untuk menemukan teori-teori yang besar.

Yang terakhir adalah aspek untuk apa ilmu pengetahuan yang diperoleh tersebut. Ilmu pengetahuan harus dimanfaatkan untuk kemasIahatan atau kesejahteraan umat manusia, bukan untuk menghancurkan manusia. Memang, manusia memiliki potensi untuk berbuat baik dan berbuat tidak baik. Akan tetapi, jika sadar bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah (pemimpin, pengelola, dan pengayom) niscaya perbuatan yang bersifat merusak dapat dihindari. …40.

Sumber:
Sohandji, Ahmad. 2012. Manusia, Teknologi, Dan Pendidikan Menuju Peradaban Baru. Malang: Universitas Negeri Malang. Hal.37-40.

Keyword terkait:
manusia sebagai khalifah di bumi, manusia sebagai khalifah artinya, manusia sebagai khalifah maksudnya, manusia sebagai khalifah dan hamba allah, manusia sebagai khalifah ayat quran, manusia sebagai khalifah di bumi dan yang memiliki hak, manusia sebagai khalifah di bumi menurut islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *