Laporan & Contoh Rencana PTK Ala Arikunto

AsikBelajar.Com | Artikel ini mengulas tentang Laporan Penelitian Tindakan dan Contoh Rencana Penelitian Tindakan Kelas yang diambil dari buku Prof. Suhersimi Arikunto.

A. Laporan Penelitian Tindakan
Penjelasan tentang penyusunan laporan penelitian tindakan ini penting, terutama bagi guru-guru yang pada saat ini masih menduduki golongan lV/a. Selanjutnya apabila guru pelaksana penelitian tindakan kelas sudah merasa puas dengan siklus-siklus itu, tentu saja langkah berikutnya tidak lain adalah menyusun laporan kegiatannya. Proses penyusunan laporan ini tidak akan dirasakan sulit apabila sejak awal guru sudah disiplin mencatat apa saja yang sudah ia lakukan.

Membuat karya tulis ilmiah laporan penelitian sebetulnya akan jauh lebih mudah dibandingkan dengan menulis artikel, karena lahan tulisan sudah akan dipenuhi dengan penjelasan tentang alasan, tujuan, manfaat, dan isi penelitian, kemudian cerita tentangtindakan dengan siklussiklusnya. Pada akhir tulisan tinggal disampaikan hasil penelitian, yaitu keberhasilan yang diperoleh dan hambatan atau kesulitan dalam pelaksanaan, ditutup dengan rekomendasi atau saran. Dengan isi seperti itu maka karya tulis ilmiah sudah mencapai paling tidak sepuluh halaman.

Satu hal yang perlu diperhatikan dalam karya tulis ilmiah laporan penelitian adalah bahwa sistematika laporan harus urut sesuai aturan penelitian, hasil harus jelas, dan sebaiknya dilengkapi dengan data akurat. Lebih baik lagi kalau “dihias” dengan tampilan visual seperti grafik, tabel, bagan dan lain-lain.

B. Contoh Rencana Penelitian Tindakan Kelas
Hal yang terasa lemah sekali pada saat ini adalah kemampuan siswa untuk menyelesaikan masalah hitungan sederhana. Sejak lahirnya matematika modern dengan teori himpunan, penyelesaian masalah hitungan dilakukan dengan hukum-hukum; komutatif, asosiatif, dan distributif. Masalah hafalan dilarang keras, karena dianggap mekanistis. Padahal kalau dilihat dari segi kemanfaatan hidup sehari-hari, menghafal operasi hitung sederhana seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian bilangan-bilangan kecil dan ”bilangan baik”, sangat membantu mempercepat kerja, dan itulah sebetulnya contoh pemberian life skill yang saat ini digalakkan. Berbelanja di toko akan lebih dipercepat waktunya kalau kita sebagai pembeli dapat dengan cepat menghitung sendiri belanjaan kita sebelum pelayan toko mengeluarkan kalkulator untuk menghitungnya.

Andaikata guru kelas III ingin meningkatkan kemampuan siswa dalam Operasi hitung sederhana tersebut melalui penel itian tindakan kelas dengan Pendekatan hafalan, guru membuat model penelitian sebagai berikut.

Tahap 1:
Guru memilih deretan bilangan yang akan diberikan kepada siswa untuk d ihafalkan. Yang dirancang adalah: (a) jenis operasi hitung, (b) banyaknya bilangan, (c) cara menyampaikan kepada siswa – isi perintah, (d) berapa lama jangka waktu menghafal, (e) bagaimana bentuk pengecekan, (f) apa bentuk hadiah (reward) yang akan diberikan dan bagaimana gradasinya, (g) kapan akan dilaksanakan, dan (h) kemungkinan tindak lanjutnya.

Isi tindakan penelitian seperti ini tampaknya tidak memerlukan peneliti luar untuk mengamati karena tindakan dilakukan di luar ruang kelas, tetapi masih dapat dikategorikan sebagai tindakan kelas karena masih mengenai siswa dalam kelompok kelas yang menjadi wewenang guru. Di samping itu dikatakan penelitian tindakan karena guru melakukan sesuatu tindakan uji coba yang berbeda dengan yang biasa dilakukan.

Tahap 2:
Guru merencanakan dan mengantisipasikan kemungkinan hal-hal yang terjadi pada waktu tindakan dilaksanakan. Meskipun hambatan, halangan atau kesulitan itu belum dapat diramalkan kapan muncul dan bentuknya seperti apa, namun sudah dapat diperkirakan apa saja dan seperti apa. Oleh karena dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini guru harus secara cermat mengamati proses pembelajaran, sebaiknya guru menyediakan catatan dengan kertas khusus, sebagai persiapan apabila ada hal-hal yang perlu dicatat. Catatan ini sangat penting artinya karena berharga untuk memperbaiki siklus berikutnya.

Tahap 3:
Guru menyiapkan alat untuk melakukan pengamatan diri, yaitu mencatat hal-hal yang mungkin terjadi ketika tindakan berlangsung. Letak titik-titik krusial dalam pelaksanaan tindakan antara lain: (a) perhatian siswa ketika menerima perintah guru, (b) catatan tugas, (c) keseriusan menghafal = hal ini dapat ditanyakan lewat wawancara, (d) saat dan cara guru melakukan pengecekan, (e) tingkat kesalahan, (f) tanggapan siswa – dapat ditanyakan lewat wawancara, (g) hal-hal Iain yang berpengaruh terhadap tindakan yang diberikan.

Tahap 4:
Guru memikirkan tentang cara melakukan refleksi diri, untuk menyusun rancangan berikutnya: (a) kapan akan dilaksanakan refleksi, (b) caranya bagaimana, (c) bagaimana mengantisipasi kegagalan, (d) bagaimana menentukan siklus berikutnya.

Masalah lain yang patut dicoba dalam bentuk penelitian tindakan kelas adalah pembiasaan siswa untuk meningkatkan sikap tanggap terhadap apa yang ada di sekitarnya. Penyegaran lingkungan dengan membiasakan siswa menanam batang pohon apa saja yang berdampak menghijaukan lingkungan juga perlu digalakkan. Hal yang saat ini masih memprihatinkan bagi siswa adalah kecanggungan bertindak, bekerja, dan melakukan kegiatan yang dapat membantu diri mereka menghasilkan uang untuk mendukung kehidupannya. Kalau dapat, sejak dini anak dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan yang sekiranya dapat memberikan kesempatan untuk berlatih berwirausaha. Acara ini dapat dilakukan apabila guru memang bersedia mengkaitkannya dengan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan pendidikan lingkungan. Pembelajaran muatan lokal sangat cocok dengan pengenalan lingkungan ini. Kurikulum tahun 2004 yang menekankan pada penguasaan kompetensi, dapat dicoba dengan cara ini.

Masalah lain lagi yang dapat dipandang penting adalah kepedulian peserta didik akan peraturan lalu lintas, perilaku menjaga kebersihan, kepedulian terhadap lingkungan, dan lain-lain aspek yang berkenaan dengan perilaku yang baik. Apa saja dari aspek tersebut yang dapat kita angkat sebagai objek penelitian tindakan, dan bagaimana strategi yang dapat kita pilih untuk implementasinya, dapat dibicarakan bersama di sekolah, atau kalau mungkin juga dalam forum komite sekolah. Apabila kita sudah terbiasa melakukan penelitian tindakan kelas, jawaban untuk pertanyaan itu bukan merupakan hal yang sulit. Menurut pengalaman, guru yang sudah melaksanakan satu kali, ingin mengulangi lagi karena ada rasa senang.

Sumber:
Arikunto, Suharsimi. 2014. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Hal.147-149.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *