Landasan Filosofis Pendidikan - AsikBelajar.Com

Landasan Filosofis Pendidikan

AsikBelajar.Com | Menurut Tatang (2010) ada 3 aliran utama filsafat di dunia sampai sekarang, yaitu idealisme, realisme, dan pragmatisme. Adapun uraian dari masing-masing adalah sebagai berikut. #69

a. Idealisme
Hakikat realitas bersifat kejiwaan/spiritual/rohaniah/ideal. Manusia memperoleh pengetahuan melalui berpikir, intuisi, atau mengingat kembali. Kebenaran pengetahuan diuji melalui koherensi/konsistensi ide-idenya. Adapun hakikat nilai diturunkan dari realitas absolut (Tuhan). Implikasinya adalah pendidikan hendaknya bertujuan untuk mengembangkan bakat, kepribadian, dan kebajikan sosial para siswa, agar mereka dapat melaksanakan kehidupan yang baik di dalam masyarakat/negara sesuai nilai-nilai yang diturunkan dari Yang Absolut. Untuk itu kurikulum berisikan pendidikan liberal dan pendidikan vokasional/praktis; kurikulum harus memuat pengetahuan dan nilai- nilai esensial kebudayaan; sebab itu kurikulum pendidikan cenderung sama untuk semua siswa.

Kurikulum Idealisme bersifat subject matter centered. Metode dialektik diutamakan, namun demikian beberapa metode yang efektif yang mendorong belajar dapat diterima; kecenderungannya mengabaikan dasar-dasar fisiologis dalam belajar”. Guru harus unggul dalam hal intelektual maupun moral; bekerjasama dengan alam dalam proses pengembangan manusia; dan bertanggung jawab menciptakan lingkungan Landasan Filosofis Pendidikan pendidikan bagi para siswa. Adapun siswa berperan bebas mengembangkan kepribadian dan bakat- bakatnya.

b. Realisme
Hakikat realitas bersifat fisik/material dan objektif; keberadaan dan perkembangan realitas diatur dan diorganisasikan oleh hukum alam. Manusia adalah bagian dan dihasilkan dari alam itu sendiri; hakikat pribadi tertentukan dari apa yang dapat dikerjakannya; manusia mampu berpikir tetapi ia dapat bebas atau tidak bebas. Pengetahuan diperoleh manusia melalui pengalaman pengindraan; kebenaran pengetahuan diuji melalui korespondensinya dengan fakta. Nilai hakikatnya diturunkan dari hukum alam dan konvensi/kebiasaan serta adat istiadat masyarakat. Implikasinya: pendidikan bertujuan agar siswa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dan mampu melaksanakan tanggungjawab sosial.

Kurikulum pendidikan berpusat kepada isi mata pelajaran; adapun mata pelajarannya terdiri atas sains/IPA, matematika, ilmu kemanusiaan dan IPS, serta nilai-nilai. Kurikulum tersebut harus memuat pengetahuan #70

dan nilai-nilai esensial kebudayaan yang diberlakukan sama untuk semua siswa. Kurikulum direncanakan dan ditentukan oleh guru. Kurikulum Realisme bersifat subject matter centered. Metode mengajar yang utama adalah pembiasaan; para siswa hendaknya belajar melalui pengalaman langsung ataupun pengalaman tidak langsung. Peranan guru cenderung bersifat otoriter; guru harus menguasai pengetahuan dan keterampilan teknik-teknik mengajar; Guru memiliki kewenangan dalam membentuk prestasi siswa. Adapun siswa berperan untuk menguasai pengetahuan, harus taat pada aturan dan disiplin. Realisme dan Idealisme memiliki kesamaan dalam orientasi pendidikannya, yaitu Essensialisme. Namun demikian karena kedua aliran ini memiliki gagasan yang berbeda mengenai filsafat umumnya, maka kedua aliran ini tetap memiliki perbedaan pula dalam hal tujuan pendidikan, isi kurikulumnya, metode pendidikan, serta peranan pendidik dan peranan peserta didik/siswanya.

c. Pragmatisme
Realitas hakikatnya adalah sebagaimana dialami manusia; bersifat plural, dan terus menerus berubah. Manusia adalah hasil evolusi biologis, psikologis dan sosial. Pengetahuan diperoleh manusia melalui pengalaman (metode sains), pengetahuan bersifat relatif; teori uji kebenaran pengetahuan dikenal sebagai pragmatisme/ instrumentalisme, sebab pengetahuan dikatakan benar apabila dapat diaplikasikan. Hakikat nilai berada dalam proses, yaitu dalam perbuatan manusia, bersifat kondisional, relatif, dan memiliki kualitas individual dan sosial. Pendidikan bertujuan agar siswa dapat memecahkan permasalahan hidup individual maupun sosial. Tidak ada tujuan akhir pendidikan.

Kurikulum pendidikan hendaknya berisi pengalaman-pengalaman yang telah teruji, yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa (child centered) dan berpusat pada aktivitas siswa (activity centered). Adapun kurikulum tersebut mungkin berubah. Pragmatisme mengutamakan metode pemecahan masalah (problem solving method) serta metode penyelidikan dan penemuan (inquiry and discovery method). Guru hendaknya berperan sebagai fasilitator, yaitu memimpin dan membimbing siswa belajar tanpa ikut campur terlalu jauh atas minat dan kebutuhan siswa. Adapun siswa berperan bebas untuk mengembangkan minat dan bakatnya. Orientasi pendidikan Pragmatisme adalah Progresivisme dan atau Rekonstruksionisme. #71

Sumber:
Husamah dkk. 2015. Pengantar Pendidikan. Malang: Universitas Muhamadiyah.  Hal. 69-71.

Related Posts

AsikBelajar.Com

Blogger biasa yang berdomisili di Banjarmasin dan berharap blog ini bermanfaat buat pelajar, mahasiswa & masyarakat umum

This Post Has One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2022 AsikBelajar.Com - Theme by WPEnjoy · Powered by WordPress