Landasan DAP (Developmentally Appropriate Practice)

By | 27/08/2020

AsikBelajar.Com | Munculnya konsep DAP sangat sesuai dengan berbagai teori maupun hasil riset yang telah dikembangkan para ahli. Beberapa teori tentang pendidikan anak yang mendasari konsep DAP, antara lain teori Piaget tentang perkembangan kognitif, teori Erik Erikson tentang-perkembangan emosi, teori Vygotsky tentang sosio-kultural, teori Gardner tentang kecerdasan majemuk, teori Kohlberg dan Thomas Lickona tentang perkembangan moral, dan teori Bronfenbrenner tentang ekologi dan kontekstual.

Pada artikel ini hanya akan dibahas teori Lickona dan Bronfenbenner saja karena teori-teori yang lain dapat Anda pelajari pada Buku Materi Pokok (BMP) Program D2 PGTK yang sudah ada (lihat BMP Metode Pengembangan Kognitif, Psikologi Perkembangan Anak, Metode Perkembangan Moral dan Metode Pengembangan Bahasa).

1. Teori Thomas Lickona Tentang Perkembangan Moral
Teori Kohlberg secara singkat sudah dibahas di BMP Metode Pengembangan Moral. Thomas Lickona menyempurnakan teori Kohlberg sampai pada pelaksanaan metode pendidikan karakter secara konkret bagi orang tua dan guru. Lickona membagi tahapan perkembangan moral pada manusia menjadi empat tahap, yaitu sebagai berikut.
a. Fase berpikir egosentris (self-oriented morality), usia 1 sampai 4/5 tahun.
b. Fase patuh tanpa syarat (authority-oriented morality), usia 4/5 sampai 6 tahun. c. Fase balas membalas (exchange stage), usia 6,5 sampai 8 tahun.
d. Fase memenuhi harapan lingkungan (peer-oriented morality), usia 8 sampai 13/14 tahun. #3.6

Sesuai dengan lingkup bahasan modul ini, yaitu untuk anak usia sampai dengan 4 tahun maka tahap perkembangan moral di atas hanya akan dibahas fase pertama saja, yaitu fase berpikir egosentris.

Anak pada fase ini biasanya menunjukkan berbagai gejala egosentris seperti: sulit berbagi mainan, tidak mau menunggu antrian, cenderung tidak mau kalah saat berbicara, dan sebagainya. Menurut Lickona, anak pada usia ini juga cenderung susah diatur, senang melanggar peraturan, suka pamer, memaksakan keinginan, dan memanipulasi atau berbohong. Meskipun demikian, anak pada fase ini sudah dapat diperkenalkan sopan santun dan kriteria baik buruk, tentunya dengan penuh kesabaran dari pendidik.

Untuk memperkenalkan baik buruk, pendidik dapat menerapkan berbagai alat pendidikan, seperti memberikan hadiah atau pujian bila anak berperilaku sesuai harapan, memberikan arahan yang jelas tentang gambaran perilaku yang diharapkan (misalnya anak yang baik itu tidak akan mengambil milik orang lain tanpa ijin), memberikan aturan dan/atau sanksi yang jelas (misalnya anak yang terus berlarian di dalam ruangan tidak akan diberikan kesempatan untuk bermain puzzle).

Salah satu cara lain yang cukup efektif untuk meredam egosentrisme pada anak adalah dengan menanamkan rasa empati. Hal ini dapat dilakukan, misalnya dengan mengajak anak berdialog (misalnya ”Ibu sedih lho, kalau kamu berkata sambil terus berteriak seperti itu. Teman-teman juga pasti terganggu dengan teriakanmu”), melalui cerita dengan sisipan perilaku yang diharapkan, pemberian bingkisan atau bantuan bagi anak yatim atau korban bencana, dan berbagai kunjungan sosial, seperti ke panti asuhan, bekas lokasi bencana, pemukiman kumuh, dan sebagainya.

2. Teori Bronfenbrenner tentang Ekologi dan Kontekstual
Teori Bronfenbrenner mengemukakan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh empat hal, yaitu sebagai berikut.
a. Konteks mikrosistem, yang terdiri atas keluarga, sekolah dan teman-temannya.
b. Konteks mesosistem, yaitu hubungan antara keluarga dengan sekolah, sekolah dengan sekelompok anak sebaya atau keluarga dengan sekelompok anak sebaya. Misalnya, anak mendapatkan pengaruh negatif berupa kebiasaan berkata-kata kotor dari kelompok teman sebayanya sehingga menimbulkan ketidakharmonisan hubungan anak tersebut dengan keluarganya. Atau anak yang terbiasa mendapat hukuman dan #3.7
cacian dari keluarga, tentu akan sulit berinteraksi secara positif dengan para guru di sekolahnya atau teman-teman sebayanya.
c. Konteks eksosistem, yaitu hal-hal yang ada di sekitar anak yang dapat mempengaruhi anak tersebut, misalnya pekerjaan orang tua, kebijakan pemerintah setempat, perceraian kedua orang tua, pengasuhan oleh kakek/nenek, dan lain-lain. Misalnya, orang tua yang keduanya bekerja penuh waktu dari hari Senin sampai Jumat tidak akan mempunyai banyak waktu untuk berinteraksi dengan anak-anaknya dibanding orang tua yang ibunya tidak bekerja di luar. Atau kebijakan pemerintah yang kurang memperhatikan tersedianya fasilitas bermain di luar ruangan yang cukup bagi anak, tentu akan mempengaruhi perkembangan anak.
d. Konteks makrosistem, yaitu kondisi global di mana anak tersebut hidup, berupa lingkungan sosial, budaya dan agama. Misalnya: lingkungan budaya yang penuh dengan kekerasan, juga akan berpengaruh terhadap kekerasan orang tua terhadap anak.

Teori Bronfenbrenner ini sangat berguna untuk mengetahui faktor pelindung atau faktor penghambat dalam lingkungan sosial yang dapat mempengaruhi perkembangan anak. Faktor penghambat perkembangan anak antara lain adalah: kemiskinan, minimnya fasilitas bermain, kekerasan di lingkungan, kekerasan dan pelecehan terhadap anak, pertengkaran atau perceraian dalam rumah tangga, dan sebagainya. Sedangkan faktor pelindung (protective factor) bagi anak dari pengaruh negatif lingkungan antara lain adalah keharmonisan dalam keluarga, keterlekatan dengan orang tua, tersedianya fasilitas bermain yang aman, lingkungan pergaulan teman sebaya dan sekolah yang baik, dan sebagainya.

Setelah mengetahui faktor-faktor tersebut, pendidik diharapkan dapat mengambil langkah yang tepat untuk pencegahan terjadinya masalah anak atau untuk memecahkan masalah dalam perkembangan anak didiknya. Misalnya, dengan cara membina hubungan baik dengan keluarga tiap anak didiknya sehingga dapat membandingkan perkembangan anak sewaktu di rumah dengan di sekolah atau memberikan kompensasi positif dari pengaruh negatif lingkungan dengan lebih memberikan perhatian pada anak.

3. Hasil Penelitian tentang Brain-Based Learning
Selain berbagai teori di atas, konsep DAP juga sangat sesuai dengan berbagai hasil riset mutakhir tentang cara bekerjanya otak manusia. Salah #3.8

satu hasil riset tentang otak itu dikenal dengan brain-based learning, yaitu metode belajar yang sesuai dengan cara kerja otak. Beberapa prinsip brain based learning ini adalah sebagai berikut (Renate & Caine, dalam Megawangi et.al., 2004).
a. Otak memproses beberapa aktivitas dalam waktu bersamaan. Misalnya, saat anak menari sambil bernyanyi maka tangan, badan dan kaki dapat digunakan untuk bergerak sesuai dengan irama, dan mulut untuk bernyanyi. Atau jika seseorang makan maka mulut dapat digunakan untuk mengunyah, lidah mengecap rasa masakan, dan hidung mencium harumnya bau masakan.
b. Otak memproses informasi secara keseluruhan dan secara bagian per bagian dalam waktu bersamaan (simultan). Misalnya, untuk belajar menanam pohon dalam sebuah pot, dengan adanya praktik langsung akan membuat aspek motorik, emosi dan akademik anak berkembang secara simultan dari pada hanya diajarkan melalui gambar atau cerita.
c. Proses belajar melibatkan seluruh aspek fisiologis manusia, tidak aspek tertentu saja.
d. Otak selalu mencari makna atau arti informasi yang diterimanya secara alami, khususnya informasi yang bermakna atau berkesan. Sedang infomasi yang tidak bermakna (informasi sampah) akan ’dibuang’ oleh otak. Itulah sebabnya peristiwa yang berkesan akan bertahan lebih lama dalam ingatan seseorang, sedang peristiwa yang tidak berkesan cenderung mudah dilupakan.
e. Faktor emosi mempengaruhi proses belajar. Pada kondisi emosi yang sedang gembira dan tidak terancam, seseorang mudah menyerap informasi. Sebaliknya, jika kondisi emosinya sedang sedih, marah atau takut maka sulit baginya untuk belajar dan menyimpan informasi.
f. Motivasi belajar akan meningkat bila diberikan sesuatu yang menantang, dan akan terhambat jika diberikan ancaman.
g. Seseorang akan lebih mudah mengerti dengan diberikan fakta secara alami atau melalui ingatan spasial (keruangan), dan pada sekadar diberikan penjelasan lisan.

Prinsip-prinsip brain-based learning tersebut mendasari perubahan metode belajar yang sesuai dengan konsep DAP, yaitu sebagai berikut (Megawangi, et.al., 2004). #3.9
a. Menciptakan lingkungan yang dapat mcmbuat anak asyik belajar, yaitu lingkungan yang sedapat mungkin melibatkan seluruh aspek pcrkembangan anak. Misalnya, belajar tentang cara kerja sepeda, akan lebih menarik bagi anak sambil bermain sepeda atau berkunjung ke bengkel sepeda dari pada hanya mendapat penjelasan dari guru saja. Atau untuk belajar tentang penambahan dan pengurangan, anak-anak akan lebih tertarik belajar sambil bermain congklak atau lomba lari beregu mengumpulkan batu kerikil, dan sebagainya.
b. Menggunakan kurikulum yang dapat menumbuhkan minat anak terhadap materi belajar secara kontekstual sehingga anak tidak hanya menghafal tetapi benar-benar dapat memahami makna dari hal-hal yang ia pelajari. Mengupayakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan, bebas dari tekanan dan ancaman, namun tetap memberikan tantangan bagi anak untuk terus mengembangkan rasa keingintahuannya.
c. Menyampaikan materi belajar dengan melibatkan pengalaman konkret, terutama melalui pemecahan masalah yang tingkat kesulitannya disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak. Pemecahan masalah memerlukan pemikiran kognitif tingkat tinggi sehingga bila strategi ini sering diterapkan maka diharapkan tingkat perkembangan anak terutama kognitif akan berkembang dengan cepat.

Selain itu, hasil riset otak mutakhir mengemukakan bahwa belajar sangat dipengaruhi oleh suasana emosi. Bagian otak yang berhubungan erat dengan emosi ini adalah sistem limbik sehingga bagian ini sering disebut juga dengan ’otak emosi’.

Pada manusia, ada tiga bagian otak dengan fungsi yang berbeda. Ketiga bagian ini saling mempengaruhi dalam proses belajar seseorang, tergantung bagian otak mana yang memegang kendali pada saat itu. Bagian-bagian otak tersebut adalah sebagai berikut (Mc Lean dalam Megawangi, et.al., 2004).
a. Batang otak (brainstem)
Bagian otak ini merupakan otak yang bersifat ‘menyerang atau mempertahankan diri’ (fight or flight) dan otak yang bereaksi (reactionary mind). Pengaruh bagian ini akan dominan bila seseorang merasa terancam, takut atau sedih. Pada kondisi di mana batang otak ini dominan, seseorang cenderung akan mempertahankan dirinya dengan cara apa pun, baik dengan menyerang, adu argumen atau tidak peduli. Oleh karena itu, kondisi, seperti ini tidak efektif untuk proses belajar. #3.10

b. Otak inteleklual (cerebral cortex)
Cerebral cortex merupakan otak yang berfungsi untuk berpikir, berbahasa, merencanakan, menganalisis dan berkreasi. Bagian otak ini banyak dilibatkan dalam proses belajar anak.

c. Otak emosi (sistem limbic)
Sebelum masuk ke bagian otak yang lain, seluruh persepsi yang diterima seseorang akan masuk terlebih dahulu ke sistem limbik. Jenis persepsi yang diterima sistem limbik nantinya akan menentukan apakah persepsi tersebut akan bertahan di batang otak saja atau dapat menembus cortex. Jika persepsi yang diterima sistem limbik berupa ancaman, ketakutan atau kesedihan maka bagian batang otak yang akan memegang kendali sehingga seseorang dalam posisi mempertahankan diri. Sebaliknya, jika persepsi yang diterima sistem limbik bersifat aman, nyaman dan menyenangkan maka bagian cortex yang akan memegang kendali sehingga anak siap untuk belajar dengan optimal.

Selanjutnya, kita perlu mengetahui prinsip kerja sistem limbik yang dapat mempengaruhi cara belajar seseorang, yaitu sebagai berikut (Goleman, 1997; Megawangi, et.al. 2004).
a. Sistem limbik sangat berpengaruh dalam proses belajar manusia karena sistem ini akan mengontrol kemampuan daya ingat dan belajar serta merespons setiap infomasi yang diterima indra seseorang.

b. Sistem ini mengontrol setiap informasi yang masuk dan memilih hanya informasi yang berharga. Informasi yang berharga akan disimpan lebih lama, sedangkan informasi yang tidak berharga akan dilupakan. Oleh karena itu sistem limbik sangat menentukan pada terbentuknya ingatan jangka panjang (long term-memory).

c. Otak tidak akan memberikan perhatian kepada setiap informasi yang tidak menarik, membosankan dan tidak menimbulkan emosi.

d. Aspek fisiologis, emosi dan daya ingat mempunyai implikasi penting terhadap proses belajar. Proses belajar akan efektif bila suasananya menyenangkan, melibatkan seluruh indra seseorang, relevan, kontekstual dan memberikan rasa kebahagiaan pada anak.

e. Suasana belajar yang menyenangkan dapat memberikan pengalaman emosi positif sehingga dapat mengoptimalkan perhatian dan daya ingat anak. #3.11

f. Faktor emosi sangat berperan dalam proses berpikir, pemecahan masalah, dan kesuksesan jangka panjang seseorang. Orang dengan emosi positif yang dominan (menghargai kemampuannya, berpikir positif, percaya diri, berani menghadapi tantangan) akan lebih sukses dari pada orang yang didominasi emosi negatif.

Oleh karena itu, sebagai pendidik kita perlu mengupayakan supaya suasana belajar selalu menyenangkan bagi anak. Suasana belajar yang kaku, tegang dan penuh ancaman hanya akan membuat proses belajar berhenti sampai pada batang otak saja sehingga anak-anak tidak dapat berpikir dengan efektif. Konsep DAP telah mengakomodasi hasil riset tentang peran otak emosi ini, antara lain melalui cara berikut (Megawangi, et.al., 2004).
a. Proses belajar harus menyenangkan.
b. Memberikan pengalaman yang relevan dan bermakna.
c. Melibatkan seluruh aspek indra manusia (dapat dilihat, dirasa, didengar, dipegang, dan lain-lain).
d. Memberikan pengalaman yang unik dan menantang.
e. Melibatkan peran aktif fisik.
f. Memberikan hubungan antara pendidik dengan anak yang menyenangkan dan dapat dipercaya. #3.12

Sumber:
Aisyah, Siti. 2008. Materi Pokok Perkembangan dan Konsep dan Pengembangnn Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional. Hal. 3.6-3.12.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *