Landasan Aksiologis Sistem Pendidikan Nasional

By | July 25, 2022

AsikBelajar.Com | Dalam bahasan ini diuraikan tentang Nilai-nilai Budaya dan Nilai-nilai Pancasila sebagai Landasan Aksiologis, dengan uraian sebagai berikut:

Nilai-nilai Budaya
Nilai sesungguhnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan. Para ahli kebudayaan berpandangan bahwa membahas tentang kebudayaan harus didasarkan pada petunjuk keyakinan tentang nilai- nilai kejiwaan, yaitu baik-buruk, benar-salah, indah-jelek, dan suci-dosa. Nilai sebagai hasil konsep ukuran yang diyakini seseorang atau kelompok masyarakat merupakan bagian dari kebudayaan. Konsep ukuran tersebut tidaklah bebas dari penilaian. Konsep ukuran nilai sekaligus juga merupakan objek bernilai yang potensial untuk dinilai. Hal ini membawa konsekuensi bahwa penilaian seseorang pada dasarnya merupakan penilaian yang bersifat sementara. Suatu ketika seseorang dapat memutuskan hasil penilaian atas dasar konsep ukuran yang telah diyakininya, namun hasil penilaian itu akan berubah seiring dengan berubah atau berkembangnya konsep ukuran yang diyakininya.
Hasil penilaian seseorang memang dapat berubah, tetapi tidak berarti bahwa seseorang tidak mempunyai pendirian. Sangat berbahaya justru apabila seseorang tetap mempertahankan konsep ukuran lama yang telah diyakini, sedangkan konsep ukuran baru yang lebih baik telah hadir. Kenyataan demikian justru harus disadari agar seseorang mau terbuka, mau terus menerus mengadakan dialog dengan lingkungan masyarakat dalam arti luas, #84

yaitu dengan sistem keyakinan yang dianut, dengan hasil penilaian yang telah dibuat, dengan budaya baru yang hadir. Dialog dengan lingkungan masyarakat akan memunculkan suatu pemahaman yang lebih kaya atas objek-objek bernilai sehingga konsep ukuran yang diyakini juga akan menjadi lebih kaya (Brameld, 1999:12). Benoit (1996:85) menekankan bahwa pemilihan nilai-nilai budaya ditentukan dalam konteks sosial, yaitu sebagai berikut.
Pertama, dari sudut pandang sejarah, nilai-nilai budaya merupakan hasil dari gerakan sejarah yang konkret. Meskipun nilai-nilai budaya dari sudut pandang filsafat merupakan nilai mutlak, mendasar, dan universal, namun nilai-nilai itu dinyatakan (diajarkan, disajikan, digaris bawahi) dan dipelajari. Pernyataan dan penjelasan mengenai nilai-nilai tersebut merupakan produk sosial, hasil kerja manusia, atau hasil dari gerakan sejarah yang konkret.
Kedua, dari sudut pandang sosiologi, ada gunanya dibedakan beberapa kelompok nilai budaya. Nilai-nilai ada yang mengungkapkan perintah secara umum abstrak. Nilai-nilai yang seperti ini kerap kali menunjukkan kebutuhan (hak, kewajiban) yang dipandang mutlak dan universal, misalnya keadilan, cinta kasih, kejujuran. Nilai- nilai juga dapat menunjukkan kebutuhan umum tetapi kurang mendasar, misalnya keramahan, ketekunan, kesopanan dan sebagainya. Nilai-nilai yang bersifat umum dan abstrak, yang tidak mengacu pada keadaan #85

tertentu, terkadang dikatakan bahwa nilai-nilai tersebut tidak berkaitan dengan konteks sosial. Pemilihan nilai- nilai oleh suatu masyarakat, cara merumuskan, memahami dan mempelajarinya dalam kenyataannya menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut betapapun abstrak dan universal memunyai kaitan dengan konteks sosial tertentu.
Nilai-nilai budaya adalah jiwa kebudayaan dan menjadi dasar dari segenap wujud kebudayaan. Tata hidup merupakan pencerminan yang konkret dari nilai budaya yang bersifat abstrak. Kegiatan manusia dapat ditangkap oleh panca indra, sedangkan nilai budaya hanya dapat ditangkap oleh budi manusia. Nilai budaya dan tata hidup manusia ditopang oleh perwujudan kebudayaan yang berupa sarana kebudayaan. Sarana kebudayaan pada dasarnya merupakan perwujudan kebudayaan yang bersifat fisik yang merupakan produk dari kebudayaan atau alat yang memberikan kemudahan dalam berkehidupan.

Setiap kebudayaan mempunyai skala hirarkhi mengenai nilai yang dipandang lebih penting dan yang dipandang kurang penting. Pendidikan sebagai usaha yang sadar dan sistematis dalam membantu anak didik untuk mengembangkan pikiran, kepribadian, dan kemampuan fisiknya, memunyai tugas untuk mengkaji terus nilai-nilai kebudayaan. Hal yang perlu diperhatikan dalam pendidikan adalah pengembangan nilai budaya #86

yang telah tertanam dalam diri anak didik agar tetap relevan dengan perkembangan jaman.
Nilai-nilai budaya sebagai suatu sistem merupakan suatu rangkaian konsep abstrak yang hidup dalam alam pikiran warga masyarakat, yaitu mengenai apa yang harus dianggap penting dan berharga dalam hidupnya. Nilai- nilai budaya sebagai suatu sistem merupakan bagian dari kebudayaan yang berfungsi sebagai pengarah dan pendorong kelakuan manusia. Nilai-nilai budaya sebagai sistem hanya merupakan konsep-konsep yang abstrak tanpa perumusan yang tegas, sehingga memerlukan suatu pedoman yang nyata berupa norma-norma, hukum dan aturan, yang bersifat tegas dan konkret. Norma- norma dan aturan-aturan tersebut harus tetap bersumber pada sistem nilai budaya dan merupakan pemerincian dari konsep-konsep abstrak dalam sistem nilai tersebut.

Nilai-nilai Pancasila sebagai Landasan Aksiologis
Sistem Pendidikan Nasional merupakan suatu subsistem dari sistem kehidupan nasional, yang berarti bahwa sistem pendidikan nasional merupakan subsistem dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Sistem pendidikan nasional bukanlah sesuatu yang bebas nilai dan bebas budaya karena merupakan bagian dari sistem komunitas nasional dan global. Sistem pendidikan harus selalu bersifat dinamis, kontekstual, dan selalu terbuka kepada tuntutan relevansi di semua bidang kehidupan. Sistem pendidikan nasional tidak perlu berisi aturan #87

pelaksanaan terperinci karena yang penting mempunyai kejelasan konsep dasar dan nilai-nilai budaya yang menjadi landasan di setiap pelaksanaan jenjang pendidikan.

Landasan aksiologis sistem pendidikan nasional Indonesia adalah Pancasila, karena nilai-nilai budaya Indonesia adalah nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai Pancasila sebagai landasan aksiologis sistem pendidikan nasional Indonesia merupakan konsistensi landasan ontologisnya. Landasan ontologis sistem pendidikan nasional Indonesia adalah pandangan bangsa Indonesia tentang hakikat keberadaan manusia. Hakikat pribadi kebangsaan Indonesia terdiri atas nilai-nilai hakikat kemanusiaan dan nilai- nilai tetap yang khusus sebagai ciri khas bangsa Indonesia. Nilai-nilai hakikat kemanusiaan menyebabkan bangsa Indonesia dan orang Indonesia sama dengan bangsa lain dan orang bangsa lain. Nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan dapat menjadi ciri khas bangsa-bangsa lain, tetapi kesatuan rumusannya secara lengkap sebagai Pancasila hanya dimiliki dan menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Nilai-nilai keluhuran hidup manusia yang terkandung dalam sila kedua Pancasila dirumuskan dari pengertian hakikat manusia sehingga landasan aksiologis sistem pendidikan nasional Indonesia merupakan implementasi landasan ontologisnya. Landasan ontologis sistem pendidikan nasional Indonesia adalah hakikat keberadaan manusia, yaitu sebagai makhluk majemuk tunggal atau #88

monopluralis. Susunan kodratnya terdiri atas unsur-unsur tubuh dan jiwa (akal-rasa-kehendak) dalam kesatuan ketunggalan; sifat kodratnya adalah sifat makhluk perseorangan dan makhluk sosial dalam kesatuan ketunggalan, serta kedudukan kodratnya sebagai pribadi berdiri sendiri dan makhluk Tuhan dalam kesatuan ketunggalan.
Nilai-nilai kemanusiaan bangsa Indonesia bukan hanya nilai-nilai kebenaran, keindahan, dan kebaikan, tetapi masih ditambah ciri khas adil dan beradab. Kemanusiaan yang beradab tidak memisahkan kemampuan akal dari rasa dan kehendak, tetapi menyatukannya dalam kerjasama. Kerjasama akal, rasa, dan kehendak disebut budi atau kepercayaan-keyakinan. Budi dapat mengenal dan memahami nilai religius sebagai kenyataan mutlak. Nilai religius meliputi nilai-nilai keabadian dan kesempurnaan yang memunyai sifat mutlak dan tetap atau tidak berubah. Kemanusiaan yang adil meliputi hubungan keadilan selengkapnya, yaitu adil pada diri sendiri, masyarakat dan negara, serta pada Tuhan sebagai asal mula manusia.

Negara Indonesia bukan lembaga agama, tetapi memiliki tertib negara dan tertib hukum yang mengenal hukum Tuhan, hukum kodrat, dan hukum susila (etis). Hukum-hukum tidak tertulis tersebut menjadi sumber bahan dan sumber nilai bagi negara dan hukum positif Indonesia. Peraturan perundang-undangan dan putusan- putusan penguasa wajib menghormati dan #89

memperhatikan nilai-nilai religius yang telah diwahyukan oleh Tuhan dan nilai-nilai kemanusiaan. #90

Sumber:
Hamka, 2019. Filsafat Pendidikan. Banjarmasin: Nizamia Learning Center.. Hal. 84-90.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *