Konsep Manusia Seutuhnya - AsikBelajar.Com

Konsep Manusia Seutuhnya

AsikBelajar.Com | Sebelumnya telah diuraikan konsep pengembangan manusia yang bersifat utuh dan tidak utuh. Selanjutnya kita pun perlu memahami konsep manusia seutuhnya. Pembangunan manusia seutuhnya merupakan tujuan pendidikan nasional yang tersirat dalam Pembukaan Undang-undang Dasar (UUD) 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Sejalan dengan pembukaan itu, pada batang tubuh UUD 1945 diantaranya Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28 C ayat (1), Pasal 31, dan Pasal 32 juga mengamanatkan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlaq mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.

UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan jelas menegaskan bahwa pendidikan merupakan upaya memberdayakan peserta didik untuk berkembang menjadi manusia Indonesia seutuhnya, yaitu yang menjunjung tinggi dan memegang dengan teguh norma dan nilai yaitu norma agama dan kemanusiaan, norma persatuan bangsa, norma kerakyatan dan demokrasi, dan norma keadilan sosial.

Manusia (masyarakat) Indonesia seutuhnya adalah manusia (masyarakat) yang memiliki nilai keadilan, adil dengan sesama dan dengan alam sekitarnya. Manusia (masyarakat) seutuhnya adalah manusia (masyarakat) yang memiliki moral bersyukur, bersabar dan berikhlas atau dengan kata lain memiliki jiwa spiritual atau kecerdasan spiritual (Suhartono, 2007). Manusia seutuhnya yaitu manusia yang dididik untuk mencapai keselarasan dan keseimbangan, baik dalam hidup manusia sebagai pribadi, makhluk sosial, dalam hubungan manusia dengan masyarakat, sesama manusia, dengan alam, dan dengan Tuhannya dalam mengejar kemajuan dan kebahagiaan rohaniah (Pelly & Menanti, 1994). #25

Membangun manusia Indonesia seutuhnya berarti membangun manusia yang memiliki kecerdasan, watak dan kepribadian Indonesia. Kecerdasan berarti kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual. Memiliki watak berarti memiliki watak yang lembut, sopan, penyayang dan sebagainya. Kepribadian artinya memiliki kepribadian pekerja keras, disiplin sesuai dengan kepribadian Indonesia.

Manusia seperti inilah yang akan dibentuk oleh pendidikan (Idris, 2013). Manusia seutuhnya tertuang dengan jelas dalam tujuan pendidikan Indonesia yaitu mewujudkan manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa (religious) dan berbudi pekerti luhur (bermoral), memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (Soedijarto, 2008).

Manusia akan menjadi manusia yang sebenarnya apabila mendapat pendidikan. Manusia yang tidak memperoleh pendidikan tidak akan mampu menjalani kehidupannya dengan sempurna, tidak akan berguna bagi kehidupan. Proses pendidikan menjadi sarana untuk memanusiakan manusia dan mewariskan kebudayaan kepada generasi penerusnya. Terkait dengan manusia seutuhnya, Prayitno & Amti (2004) dengan merujuk dari para pemikir Barat, khusunya dalam bidang psiko- humanistik, seperti Frankl, Jung, Maslow dan Rogers telah pula mengajukan berbagai rumusan sejalan dengan konsep manusia seutuhnya. Mereka memakai istilah (berfungsi unsur-unsur kemanusiaan secar ideal) sebagai perwujudan manusia seutuhnya. Ciri-ciri yang dapat berfungsi secara ideal itu adalah:

1. Menurut Frankl
a. Mencapai penghayatan yang penuh tentang makna hidup dan kehidupan
b. Bebas memilih dan bertindak
c. Bertanggung jawab secara pribadi terhadap segala tindakan
d. Melibatkan diri dalam kehidupan bersama orang lain.

2. Menurut Jung
a. Memiliki pemahaman yang mendalam tentang diri sendiri
b. Menerima diri sendiri, termasuk kekuatan dan kelemahannya #26

c. Menerima dan bersikap toleran terhadap hakikat dan keberadaan kemanusiaan secara umum
d. Menerima hal-hal yang masih belum dapat diketahui atau misterius, serta bersedia mempertimbangkan hal-hal yang bersifat tidak rasional tanpa meninggalkan cara-cara berpikir logis.

3. Menurut Maslow
Manusia yang berfungsi secara ideal ialah mereka yang mengembangkan seluruh kemampuan dan potensinya. Lebih jauh, Maslow menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang telah berhasil mewujudkan diri sendiri secara penuh. Dari pandangan- pandanagn terhadap manusia seperti yang telah dijelaskan di atas, secara sederhana hakikat manusia dapat dijelaskan sebagai berikut.

a. Manusia sebagai makhluk individu, bahwa mansuia sebagai makhluk individu yang mempunyai ciri-ciri atau kekhasan tersendiri. Oleh karena itu manusia juga disebut sebagai makhluk yang unik.
b. Manusia sebagai makhluk sosial, bahwa manusia sebagai makhluk sosial mempunyai sifat sosialitas yang menjadi dasar dan tujuan dari kehidupan manusia yang sewajarnya.
c. Manusia sebagai makhluk psikofisik, bahwa manusia merupakan totalitas jasmani dan rohani. Setiap bagian tubuh dan kegiatan prganisme yang biologis sifatnya pasti mengabdikan diri kepada aktivitas psikis, juga sebaliknya.
d. Manusia sebagai makhluk monodualis, bahwa manusia sebagai makhluk monodualis tidak dapat memisahkan antara jiwa dan raga sebagai satu kesatuan dalam perkembangannya.
e. Manusia sebagai makhluk bermoral, bahwa manusia yang normal pada intinya mengambil keputusan susila dan mampu membedakan hal- hal yang baik dan buruk. Selain itu juga mampu membedakan hal yang benar dan yang salah untuk kemudian mengarahkan hidupnya ke tujuan-tujuan yang berarti sesuai dengan pilihan dan keputusan hati nurani dalam mempertimbangkan baik/buruk dan salah/benar.
f. Manusia sebagai makhluk religius, bahwa manusia sebagai makhluk religius mengndung kemungkinan baik dan jahat, sesuai dengan pandangan manusia itu sendiri sebagai makhluk Tuhan. Manusia mempunyai nafsu-nafsu baik maupun jahat.
g. Manusia sebagai makhluk berpikir/filosofis, bahwa manusia itu mempunyai akal dan budi. Akal digunakan untuk berpikir agar menjadi berbudi. #27

h. Manusia sebagai makhluk berketerampilan, bahwa manusia sudah mempunyai bakat dan minat masing-masing dalam mengembangkan keterampilannya.

Pemberdayaan manusia seutuhnya berarti memperlakukan peserta didik sebagai subyek merupakan penghargaan terhadap peserta didik sebagai manusia yang utuh. Peserta didik memiliki hak untuk mengaktualisasikan dirinya secara optimal dalam aspek kecerdasan intelektual, spiritual, sosial, dan kinestetik. Paradigma ini merupakan fondasi dari pendidikan yang menyiapkan peserta didik untuk berhasil sebagai pribadi yang mandiri (makhluk individu), sebagai elemen dari sistem sosial yang saling berinteraksi dan mendukung satu sama lain (makhluk sosial) dan sebagai pemimpin bagi terwujudnya kehidupan yang lebih baik di muka bumi (makhluk tuhan) (Kemendiknas, 2010). #28

Sumber:
Husamah dkk. 2015. Pengantar Pendidikan. Malang: Universitas Muhamadiyah. Hal. 25-28

Related Posts

AsikBelajar.Com

Blogger biasa yang berdomisili di Banjarmasin dan berharap blog ini bermanfaat buat pelajar, mahasiswa & masyarakat umum

This Post Has One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 AsikBelajar.Com - Theme by WPEnjoy · Powered by WordPress