Konsep Dasar Pengembangan Moral Anak Usia Dini

By | 13/02/2021

3/3
Pendidikan karakter di sekolah atau di lembaga pendidikan anak usia dini sangat tergantung dari komitmen pemimpin lembaga atau kepala sekolah yang mempunyai visi ingin membangun karakter anak didiknya. Visi tersebut harus disadari oleh seluruh pendidik atau guru dan orang tua. Tentunya semuanya tergantung dari kemampuan kepala sekolah untuk mensosialisasikan visinya. Selanjutnya, visi tersebut dituangkan dalam misi yang jelas, dan diuraikan pula strategi-strategi yang dapat digunakan untuk mencapai misi tersebut. Kemudian, kepala sekolah dan guru-guru dapat membuat kurikulum yang secara eksplisit mempunyai visi dan misi. yang bertujuan untuk membentuk anak berkarakter. Kurikulum dapat dibuat oleh sekolah mengacu pada visi pendiri sekolah, yayasan atau dapat pula menggunakan kurikulum yang berasal dari dinas pendidikan atau dari pemerintah, seperti kurikulum 2004 yang merupakan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Saat ini, kurikulum yang dianjurkan untuk dikembangkan dari tingkat TK sampai ke tingkat di atasnya adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Hal yang perlu dilakukan oleh para pendidik, apapun bentuk kurikulumnya adalah melaksanakan kurikulum dengan tujuan untuk mengembangkan moral anak didik.

Selanjutnya, dari kurikulum yang digunakan sekolah atau lembaga pendidikan anak usia dini, pendidik dapat menyusun SKM dan SKH. Penyusunan SKM dan SKH secara lebih terperinci, dapat Anda mempelajari kembali pada mata kuliah Metode Pengembangan Moral dan Nilai-nilai Agama.

Berikut adalah contoh visi beberapa sekolah bertaraf internasional yang ada di Jakarta (Nova, 12-18 Maret 2007).

1) High/Scope Indonesia: Sekolah High/Scope Indonesia mengajarkan siswa untuk menghargai perbedaan, memperkenankan perbedaan, menganjurkan perbedaan, hingga semua itu tak lagi menjadi sebuah perbedaan

2) Global Jaya Bintaro Jakarta: menerapkan cara belajar aktif misal dalam hal membaca, menulis, berbicara, juga aktif kreatif dan peduli dengan lingkungan sekitarnya.

3) Tunas Muda Jakarta: mengajarkan anak didiknya sejak dini untuk mempunyai toleransi beragama dan budaya, mendalami agama yang dianutnya sembari menghargai dan menghormati agama temannya. #8.43

4) Tumble Tots Jakarta: mengajarkan anak didiknya agar mempunyai Karakter Tangguh dan Berani.

Uraian berikut merupakan contoh visi dan misi yang mencakup strategi pelaksanaan sekolah karakter Jakarta yang dikelola oleh Indonesian Heritage Foundation. Visi sekolah tersebut adalah untuk ”membina dan mengembangkan anak yang berkarakter yang sesuai dengan nilai-nilai luhur kepribadian bangsa”. Sedangkan misinya adalah berikut ini.

1) Memakai acuan nilai-nilai yang tertuang ke dalam 9 pilar karakter yang direfleksikan ke dalam modul kegiatan di kelas. Kurikulum 9 pilar telah dikembangkan dan terdiri dari buku untuk guru, 10 buku lembar kegiatan siswa dan lebih dari 100 buku cerita tentang karakter.

2) Mengajarkan pilar-pilar dalam kurun waktu 2 tahun sekolah, di mana tema setiap pilar ditukar secara bergantian setiap 2 atau 3 minggu sekali.

3) Menggunakan kurikulum karakter (kurikulum eksplisit) yang diterapkan dengan refleksi pilar setiap hari selama 20 menit sebelum kelas dimulai, yang mengacu pada prinsip knowing the good, loving the good, dan desiring the good.

4) Menggunakan sistem pembelajaran terpadu berbasis karakter. Pilar karakter diintegrasikan pada pembelajaran di sentra-sentra (TK). Dengan ara ini penanaman karakter akan lebih efektif karena dalam seluruh kegiatan pengembangan akan mengandung pula nilai-nilai karakter melalui latihan dan pengalaman konkret (moral action)

5) Menggunakan teori DAP (Developmentally Appropriate Practice) dan teori kecerdasan majemuk, metode pembelajaran yang merangsang daya minat anak, dan pendekatan belajar bersama dalam kelompok sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan. Suasana belajar yang menyenangkan dapat mengurangi stres, meningkatkan motivasi anak, dan meningkatkan rasa kemampuan anak, yang semuanya dapat mendukung pembentukan karakter anak.

6) Menerapkan co-parenting, di mana orang tua dikirimi pemberitahuan setiap awal pilar dimulai agar mereka tahu bahwa anaknya sedang belajar pilar di sekolah. Orang tua diimbau untuk menerapkan serangkaian aktivitas di rumah (sekolah memberikan daftar aktivitas), dan diwajibkan mengisi kuesioner pada akhir pilar tentang pengalaman dan apa yang dirasakan orang tua ketika mengajarkan pilar di rumah. Selain untuk melibatkan orang tua anak, pengisian kuesioner dapat #8.44

dijadikan bahan evaluasi bagi sekolah untuk melihat efektivitas pendidikan karakter yang sedang dilakukannya.

Di sekolah atau di lembaga pendidikan anak usia dini, peran pendidik untuk membantu pengembangan moral anak sangat penting. Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan oleh pendidik menurut Megawangi (2004) adalah:

1) memperlakukan anak didiknya dengan kasih sayang, adil, dan hormat;

2) memberikan perhatian khusus secara individu, di mana guru mengerti permasalahan anak didiknya;

3) pendidik harus menjadi panutan moral bagi anak didiknya dan senantiasa selalu memperbaiki citra dirinya;

4) pendidik perlu mengoreksi perilaku anak didiknya yang salah.

Para pendidik perlu mendapatkan pelatihan khusus untuk mendidik karakter anak dan menggunakan modul atau kurikulum yang berlaku di sekolah atau di tempat ia mengasuh anak didiknya. Hal lain yang perlu diingat oleh para pendidik adalah dengan menebar kebajikan kepada anak didiknya walaupun sekecil apa pun, namun hal itu bisa menarik anak untuk berbuat kebajikan sampai ia besar nanti. #8.45

Sumber:
Aisyah, Siti. 2008. Materi Pokok Perkembangan dan Konsep dan Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional. Hal. 8.36 – 8.45.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *