Konsep Dasar Pengembangan Moral Anak Usia Dini

By | 13/02/2021

2/3
diterangkan mengapa memanggil temannya dengan nama julukan yang buruk tidak baik karena akan menyakiti hati temannya. Anak juga perlu diberi tahu bahwa berbohong itu tidak bagus karena dapat merusak kepercayaan orang. Anak sangat perlu diterangkan tentang aspek agama dan spiritualitas, seperti mengajarkan kecintaan kepada Tuhan dan kecintaan kepada Tuhan harus dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dengan berbuat kebajikan. Mengajarkan penghormatan kepada sesama makhluk hidup dapat membuat anak mengerti mengapa kita perlu empati dan simpati kepada semua ciptaan Tuhan.

6) Mendorong anak untuk merefleksikan tindakannya
Ketika anak melakukan sesuatu yang tidak baik, anak perlu didorong untuk berpikir tentang perbuatannya, dan apa akibat yang dapat ditimbulkannya. Misalnya, ketika seorang anak memukul kawannya, orang tua dapat berkata: “Lihat, anak itu jadi menangis, bagaimana kalau kamu yang diperlakukan seperti itu?” Hal itu akan membuat anak untuk berpikir dan merefleksikan tindakannya dan anak juga belajar menempatkan dirinya kalau ia menjadi orang yang disakiti. Anakpun perlu diajak untuk berpikir dan berdiskusi mengenai konsekuensi dari tindakannya.

7) Mengajarkan anak untuk mengemban tanggung jawab
Anak-anak yang sejak kecil diberikan tanggung jawab berkembang menjadi anak yang altruistic, yaitu anak yang peduli dengan orang lain. Sifat altruistic adalah sifat yang bertentangan dengan sifat egoistik. Sejak usia 3 tahun anak sudah dapat diberikan tanggung jawab, misalnya membantu ibunya membereskan tempat tidurnya, merapikan alat permainan dan buku-bukunya atau menyirami tanaman di halaman. Tanggung jawab juga bisa diajarkan orang tua dengan memperkenalkan pekerjaan sosial di luar rumah, misalnya dengan mengajak anak pergi ke panti asuhan untuk memberikan sumbangan, bekerja bakti di lingkungan tempat tinggalnya.

8) Mengajarkan keseimbangan antara kebebasan dan kontrol
Orang tua perlu bersikap tegas dalam memberikan aturan, dan tak boleh membiarkan anaknya berperilaku semaunya tanpa pengarahan. Namun demikian orang tua juga jangan menjadi orang tua yang otoriter, yang terlalu mengontrol anaknya sehingga anak tak mempunyai kebebasan sama sekali. Walaupun harus bersikap tegas, orang tua juga perlu memberikan alasan-alasannya dan mau mendengar respons anak. Anak #8.40

dapat diberikan kebebasan untuk bertanya mengapa ia harus melakukan sesuatu, tetapi orang tua tidak boleh selalu menuruti kemauan anaknya. Anak diberi pilihan untuk menentukan apa yang akan dilakukannya, namun tetap harus mengikuti aturan-aturan yang berlaku.

9) Cintai anak. Dasar dari pembentukan moral adalah cinta
Cinta orang tua akan memberikan kontribusi yang besar terhadap pembentukan karakter anak. Orang tua yang mencintai anaknya akan selalu memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anaknya, menjadi contoh yang baik untuk anaknya, dan selalu berkomunikasi dengan anaknya terutama tentang moral yang baik dan yang tidak baik.

10) Mengajarkan moral dan menciptakan keluarga bahagia secara bersamaan Pendidikan moral dan usaha menciptakan keluarga bahagia adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Keluarga harus dapat mengelola konflik secara konstruktif dengan menggunakan pendekatan yang berkeadilan.

Lebih jauh, Thomas Lickona tetap menekankan adanya kesabaran dan komitmen dari para orang tua. Setelah orang tua menjalankan kesepuluh ide tersebut, terkadang anak-anak masih tetap nakal dan sulit diatur. Sikap-sikap ini masih dapat diterima mengingat anak-anak usia dini masih dalam tahap proses bermain sambil belajar dan masih belum memiliki kesadaran moral yang tinggi.

b. Pengembangan kebiasaan berperilaku yang benar di sekolah

Faktor keluarga memang sangat berperan dalam membentuk karakter anak. Namun demikian, pengembangan karakter anak juga akan sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekolah, terutama saat anak-anak masih berusia dini (Goleman, 1997 dalam Megawangi, 2004).

Sekolah atau tempat-tempat pengembangan anak usia dini adalah tempat yang sangat strategis untuk pendidikan karakter karena anak-anak dari semua lapisan akan mengenyam pendidikan di sekolah atau di lembaga-lembaga pendidikan. Tujuan akhir dari pendidikan moral atau budi pekerti atau pendidikan karakter adalah agar manusia dapat berperilaku sesuai dengan kaidah-kaidah moral agama. Pendidikan tentang moral atau pendidikan karakter sangat baik dimulai dari usia sekitar TK, seperti yang dikatakan oleh Lawrence J. Schweinhart (Megawangi, 2004). Schweinhart menemukan bahwa pengalaman anak-anak di masa TK dapat memberikan pengaruh #8.41

positif terhadap perkembangan anak selanjutnya. Kemudian, pendidikan karakter harus terus dilanjutkan sampai anak setingkat SLTA.

Berbicara mengenai pendidikan, Huitt berpendapat bahwa sebenarnya pengertian mendidik anak itu juga termasuk 1) mengembangkan visi dan misi serta tujuan hidupnya, 2) berusaha membantu pengembangan karakter seorang anak agar selalu terarah menuju kehidupan yang berkualitas, serta 3) berkaitan dengan pengembangan kompetensi sehingga dapat membantu seseorang untuk mampu berbuat sesuatu. Walsh (1990) juga mendefinisikan pendidikan sebagai proses menyiapkan anak agar mendapat tiga dimensi pendidikan yang meliputi: pengembangan pengetahuan, melatih kemampuan mental dan pengembangan karakter. Thomas Lickona juga menambahkan bahwa karakter terdiri dari 3 bagian yang saling terkait, yaitu berikut ini.

1) Pengetahuan tentang moral (moral knowing), merupakan hal penting tentang moral untuk diajarkan pada anak, yang membuat anak mendapat pengetahuan sampai ke penalaran moral yang baik.

2) Perasaan yang dilandasi moral (moral feeling), merupakan aspek perasaan yang harus ditanamkan pada anak. Aspek perasaan ini mencakup adanya nurani, percaya diri, empati, mencintai kebenaran, mampu mengontrol diri dan menjadi orang yang rendah hati (tak sombong).

3) Perilaku bermoral (moral action ) merupakan suatu pengetahuan moral yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Perbuatan bermoral merupakan hasil dari pengetahuan dan perasaan bermoral. Tahap ini juga meliputi kompetensi, keinginan dan kebiasaan seseorang untuk berbuat benar.

Semua bagian itu perlu diajarkan pada anak agar terbiasa berkarakter baik. Karakter yang baik terdiri dari mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good) dan menginginkan kebaikan (desiring the good), dan melakukan kebaikan (acting the good).

Apabila uraian tersebut dihubungkan dengan kenyataan yang kita hadapi, kemungkinan penyebab seseorang tidak mampu berperilaku baik, walau secara kognitif ia mengetahuinya karena ia tidak terlatih untuk melakukan kebajikan atau untuk melakukan tindakan bermoral. Oleh sebab itu, selain oleh orang tua, sekolah atau lembaga pendidikan juga perlu melatih dan mendorong anak untuk selalu berbuat benar. #8.42

Lanjut halaman ke-3, Klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *