Kekeliruan dalam Menguji Instrumen Penelitian Menurut Arikunto

AsikBelajar.Com | Tidak sedikit mahasiswa yang keliru menguji keterandalan instrumen. Kekeliruannya berpangkal dari kesalahan menyamakan instrumen angket dengan berprestasi belajar. Dalam menguji keterandalan soal tes, peneliti menghitung taraf kesukaran dan daya pembeda. Kedua perhitungan tersebut didasarkan atas asumsi bahwa kemampuan intelektual responden tergambar dalam kurva normal.

Bertitik tolak dari asumsi kurva normal tersebut, maka jika sebuah tes yang digunakan untuk mengukurnya baik, tentu hasil pengukurannya juga tergambar dalam kurva normal, atau setidak-tidaknya terdapat variabilitas jawaban. Antara jawaban yang berbeda itulah diperoleh indeks taraf kesukaran dan daya pembeda.

Angket adalah instrumen untuk mengetahui pendapat atau fakta, bukan pengukur kemampuan. Oleh karena itu jawaban yang diberikan oleh responden tidak harus bervariasi. Tidak jelek instrumennya jika jawaban responden 4 semua, atau 3 semua, dan seterusnya.

Contoh 1
Bagaimanakah tingkat kesenangan Anda terhadap musik berirama dangdut?

Jawab:
4 sangat senang
3 senang
2 cukup
1 kurang senang
0 tidak senang

Jika kebetulan seluruh penduduk di suatu desa sangat senang terhadap musik berirama dangdut, apakah mereka tidak boleh memilih angka 4 (sangat senang)?

Contoh 2
Berapa banyakkah rata-rata pemilikan buku paket siswa di suatu sekolah?

a. 5 jika Iebih dari 10 buah
b. 4 jika 8 s.d. 10
c. 3 jika 5 s.d. 7
d. 2 jika 2 s.d. 4
e. 1 jika1 atau 0

Jika kebetulan semua sekolah di daerah tersebut termasuk kategori baik, dan semua memilih pilihan a, apa salah? Justru apabila jawabannya bervariasi jawaban tersebut tidak sesuai dengan kenyataan.

Sumber:
Arikunto, Suharsimi. 2014. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Keyword terkait:
Instrumen penelitian, Suharsimi Arikunto, Cara mengetahui instrumen yang baik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *