Kebutuhan Tidur Anak Usia Sampai 4 Tahun

By | 26/09/2020

AsikBelajar.Com | Tidur adalah suatu proses yang sangat penting bagi manusia karena dalam tidur terjadi proses pemulihan. Proses ini bermanfaat untuk mengembalikan seseorang pada kondisi semula. Jika proses ini terhambat organ tubuh tidak dapat bekerja dengan maksimal.

Tidur merupakan kebutuhan setiap manusia, demikian pula dengan anakanak dan kebutuhan tidur masing-masing anak berbeda. Secara garis besar, bayi baru lahir menghabiskan 70% waktunya untuk tidur. Ia bangun hanya untuk makan. Bayi atau anak membutuhkan tidur yang banyak karena anakanak pada usia ini sedang membangun fisik dan mentalnya agar menjadi lebih baik lagi. Oleh karena itulah tidur menjadi salah satu hal yang tidak kalah penting dibandingkan dengan asupan gizi. Pada usia setahun bayi mulai dapat tidur pada malam hari tanpa terbangun dan mereka juga membutuhkan waktu untuk tidur siang (naps) sampai dua kali.

a. Pola tidur
Pola tidur pada bayi dan balita sangat penting untuk mengoptimalkan tumbuh kembang mereka dan pola tidur berubah-ubah sepanjang hidup seseorang. Lamanya waktu tidur yang dibutuhkan oleh seorang anak juga tidak sama. Setiap anak memiliki ritme atau pola tidur yang jelas.
Pola tidur bayi sudah terbentuk pada usia 2 bulan, artinya anak sudah memiliki ritme tidur pada pagi, siang dan malam. Ketika tidur bayi akan bangun setiap 2-3 jam sekali dalam satu malam, kemudian ketika usia mereka semakin bertambahnya mereka akan dapat tidur sepanjang malam #4.19
namun masih membutuhkan waktu untuk tidur siang. Menginjak usia 9 bulan ritme tidurnya akan berubah. Hal ini terjadi karena pola tidurnya mulai terganggu. Pada saat ini anak sudah bisa mengenali orang, merangkak dan mulai senang menjelajah lingkungannya.
Dalam satu hari, bayi memiliki waktu tidur selama 16-20 jam yang terbagi dalam 4-5 periode. Ia juga bisa tidur kapan saja jika ia mau, baik pagi, siang dan malam. Seiring bertambahnya usia biasanya waktu tidur pada malam hari semakin banyak dibanding dengan tidur siangnya.

b. Perilaku tidur normal
Tidur pada anak prasekolah berbeda dengan bayi dan anak usia 3-4 tahun; Penelitian terhadap ritual tidur pada 109 anak yang telah dilakukan, diketemukan bahwa beberapa anak menunjukkan rutinitas yang panjang sebelum mereka tidur. Setelah mereka berada di tempat tidur, mereka segera berbaring dan bersiap untuk tidur namun sebelumnya mereka harus melakukan beberapa hal, seperti minum susu, berguling ke sana ke mari ataupun ingin bercakap-cakap ngobrol) dahulu dengan orang tuanya.
Bagi anak usia 3-6 tahun, tidur mempakan sesuatu hal yang sulit. Mereka kadangkala membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk jatuh tertidur dibandingkan dengan anak yang berusia 3-4 tahun. Mereka akan lebih senang jika melakukan sesuatu dahulu ketika hendak tidur dan anak usia 3 tahun lebih senang tidur dengan lampu yang menyala terang dengan ditemani oleh mainan atau selimut kesayangannya. Orang tua sering kali merasa kuatir dengan ketidakmampuan anak mereka untuk tidur tanpa ditemani benda~benda kesayangannya. Mereka kuatir jika anak-anak mereka akan menjadi sangat tergantung pada benda-benda kesayangannya itu dan dapat berakibat kurang baik bagi perkembangan psikologis anak. Para ahli psikologi mengemukakan bahwa ketergantungan anak pada benda-benda kesayangannya tersebut sebagai objek transisi (transitional objects) sebab benda-benda tersebut membantu anak-anak untuk melepaskan diri sebagai ”bayi yang bergantung” menjadi ”anak yang bebas”. Oleh karena itu, hal ini tidak perlu terlalu dikuatirkan.

c. Manfaat tidur bagi anak
Terdapat beberapa hal yang terjadi pada tubuh selama kita tidur yaitu:
1) Tubuh memproduksi hormon pada anak-anak dan orang dewasa muda;
2) produksi protein meningkat. Protein dibutuhkan untuk pertumbuhan sel-sel dan memperbaiki kerusakan sel-sel; #4.20
3) aktivitas otak pada bagian pengontrolan emosi, pengambilan keputusan dan hubungan sosial akan beristirahat total;
4) sebuah penelitian yang dilakukan terhadap tikus menemukan bahwa ketika tidur terjadi sebuah pola signal yang berulang-ulang yang mirip pada saat terjaga. Pola ini dapat membantu melakukan enkode (penyampaian pesan dalam bentuk lain) pada sistem ingatan dan meningkatkan kemampuan belajar.
Semua hal tersebut merupakan manfaat tidur yang akan dapat diperoleh apabila kita tidur berkualitas atau tidur yang dalam atau nyenyak dan cukup porsinya dalam sehari.
Demikian pula bagi anak-anak khususnya bayi dan anak usia 3-4 tahun, tidur sangat bermanfaat bagi mereka, yaitu memberi kesempatan mengistirahatkan tubuh dan meningkatkan metabolisme tubuh. Selain itu tidur mempakan salah satu stimulus bagi proses bagi tumbuh kembang otak anak sebab 75 % hormon pertumbuhan diproduksi saat anak tidur. Péda saat tidur juga pertumbuhan flsik anak akan terpacu dan ha] ini berkaitan dengan pertambahan berat badan, tinggi badan dan kesehatan fisiknya secara umum. Pertumbuhan fisik ini terlihat pada hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 1989 di London. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa bayi yang cukup tidur mengalami perkembangan otak yang optimal dibandingkan bayi yang tidumya kurang dan bayi yang tidumya kurang juga memiliki pertumbuhan fisik yang terhambat.

d. Fase tidur
Ketika seseorang sedang tidur otak mengalami lima tahapan sampai akhirnya tertidur. Waktu yang dibutuhkan setiap tahapan sampai benar-benar tertidur pulas mencapai 90-100 menit. Kelima tahapan tidur tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
Tahap pertama dan kedua merupakan tahapan tidur ringan. Pada tahap ini seseorang mudah sekali terbangun, pergerakan bola mata menurun sampai berhenti, detak jantung dan napas menurun dan suhu tubuh meningkat. Pada fase ini bayi akan berkeringat.
Tahap ketiga dan keempat adalah tahapan tidur pulas atau nyenyak (deep sleep). Pada tahap ini lebih sulit membangunkannya. Bila terbangun pada tahap ini seseorang akan merasa geragapan dan tidak bisa memfokuskan diri selama beberapa menit. Tahap ini disebut pula dengan tidur non-REM (Rapid #4.21

Eye Movement). Tanda-tanda pada fase ini, antara lain bayi atau {mak berada dalam keadaan rileks, berbaring tenang dengan. detak jantung dan tarikan napas teratur. Hormon-hormon pertumbuhan diproduksi pada tahap ini. Hormon ini untuk memulihkan tubuh, memperbaiki sel serta membangun otot-otot dan jaringan pendukung dan ketika bangun bayi atau anak akan merasa segar bugar Tahap yang terakhir adalah tahapan final dari siklus tidur yang dikenal dengan REM sleep. Pada tahap ini banyak terjadi perubahan fisik, pernapasan menjadi lebih cepat, detak jantung meningkat dan otot limb tidak bergerak. Tahap ini merupakan tahap di mana seseorang bisa mengalami mimpi yang sangat nyata. Tanda-tanda tersebut juga terlihat pada bayi dan anak-anak. Pada fase ini tidak terjadi pembentukan keringat, kadangkala anak tertidur sambil tersenyum, tertawa atau bahkan mengigau. Kaki dan tangannya juga bisa bergerak-gerak. Meski begitu aktif anak akan tetap tertidur lelap dan sulit dibangunkan. Tahap REM ini berperan penting dalam memulihkan : pikiran, daya ingat serta mempertahankan fungsi-fungsi sel-sel otak.

e. Masalah tidur anak
Sering kali anak mengalami masalah dengan tidur mereka. Pada bagian ini akan dijelaskan beberapa masalah tidur pada anak.
1) Menangis sebelum tidur Beberapa anak (20% – 30%) memerlukan waktu yang lama untuk L menangis dan meronta-ronta sebelum mereka tidur dan beberapa kali terbangun dalam semalam. Pénelitian yang dilakukan terhadap 96 anak-anak usia 6 bulan sampai 4 tahun menemukan lima pengalaman anak-anak yang berbeda yang mengakibatkan anak yang mengalami problem tidur menangis sebelum tidur dan ketika tidur. Pertama adalah tidur bersama orang tuanya, akan membuatnya Iebih mudah bangun dari pada jika anak tidur pada kamar Iain. Kedua adanya tanda-tanda stres yang dialami keluarga. Ketiga adalah anak-anak dalam keluarga yang tidak harmonis atau sakit. Keempat anak-anak dalam keluarga dengan ibu yang mengalami depresi dan kelima perubahan jadwal yang mendadak dalam kegiatan sehari-hari.
2) Mimpi buruk dan teror malam (Nightmares and night terrors) Mimpi buruk dan teror malam adalah dua hal yang berbeda. Teror malam biasanya kelainan tidur pada anak-anak yang terbangun secara tiba-tiba ketika sedang tidur nyenyak dan menjadi panik.. Anak-anak #4.22
yang mengalami teror malam akan berteriak dan langsung terduduk dengan napas terengah-engah, sebelum mereka benar-benar terbangun mereka akan terdiam kembali dengan cepat dan keesokan harinya mereka tidak ingat apa yang terjadi pada mereka. Sedangkan mimpi buruk adalah mimpi yang menakutkan, terjadi menjelang pagi dan sering tampak nyata. Kadang-kadang mimpi ini tidak membuat anak terbangun, khususnya pada anak di bawah enam tahun yang memiliki masalah dalam tidur.
3) Berjalan dan bicara waktu tidur (Sleepwalking and sleep talking)
Berjalan dan bicara selama tidur merupakan kebiasaan yang tidak baik namun tidak berbahaya. Berjalan ketika tidur ditandai dengan terduduk dari tidur dengan mata terbuka, kemudian turun dari tempat tidur dan berpindah tempat. Anak ini membutuhkan perlindungan agar tidak jatuh atau menabrak sesuatu. Mereka juga harus dijaga agar tidak ke luar pagar, naik atau turun tangga dan ke luar lewat jendela tetapi mereka tidak membutuhkan apa pun. Sedangkan bicara selama tidur (mengigau) juga tidak memerlukan perlakuan atau tindakan perbaikan. Hal ini biasanya sulit, juga tidak mungkin untuk memahami apa yang mereka katakan dalam tidumya.
4) Takut ketika malam (Night time fear)
Takut gelap atau takut ketika malam sebelum tidur perlu dilatih. Mereka perlu belajar untuk rileks sebelum tidur, mengemukakan perasaan yang membuatnya tertekan dan mengalihkan rasa takutnya pada ha] lain.
5) Ngompol (Bedwetting)
Banyak anak usia 3-5 tahun yang tetap kering ketika tidur siang maupun malam tetapi apabila anak tersebut ngompol atau buang air kecil yang berulang-ulang pada waktu sedang tidur baik di kamar mandi maupun di tempat tidur biasanya merupakan suatu kondisi yang kronis dan perlu diwaspadai. Kondisi ini biasanya terjadi pada malam hari dan merupakan salah satu masalah tidur.
Ngompol atau sering pula disebut enuresis (bedwetting) adalah kebiasaan buang air kecil yang tidak terkendali saat tidur yang terjadi pada anak berusia lebih dari 3 tahun. Biasanya penderita bermimpi sudah pergi ke kamar mandi, tetapi ketika ia kemudian terbangun disebabkan oleh pakaian atau tempat tidumya basah karena air seninya sendiri. Penyebab enurosis sendiri dapat berupa faktor organis (adanya kelainan fungsi/sistem pembuangan air seni) dan psikologis. Pada anak-anak #4.23
penyebab psikologis relatif lebih dominan dan tanda-tanda pola dinamika psikologis tersebut antara lain sebagai berikut.
a) Ekspresi tidak langsung dari kecemasan psikologis oleh berbagai sebab, misalnya tertekan di sekolah karena tidak mampu mengikuti kegiatan.
b) Suatu upaya untuk mendapatkan perhatian dan pertolongan dari orang tua atau orang di sekitarnya, misalnya persaingan dengan saudara kandung (adik atau kakak).
c) Ekspresi kemarahan yang tidak disadari dan tertuju kepada orang tua, misalnya kemarahan atas perlakuan yang tidak adil, namun tidak berani mengungkapkannya.
d) Neurotisme, kecenderungan anak untuk memiliki potensi predisposisi mental yang rentan terhadap tekanan.
e) Ketidakmatangan biologis dan emosional yang dapat disebabkan oleh kemanjaan dan perlindungan yang berlebihan. #4.24

Sumber:
Aisyah, Siti. 2008. Materi Pokok Perkembangan dan Konsep dan Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional. Hal.4.20-4.24.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *