Karakteristik Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini - AsikBelajar.Com

Karakteristik Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini

AsikBelajar.Com | Sebagian besar psikologi terutama kognitivis (ahli psikologi kognitif) berkeyakinan bahwa proses perkembangan kognitif manusia mulai berlangsung sejak ia baru lahir. Bekal dan modal dasar perkembangan manusia, yakini kapasitas motor dan sensory ternyata pada batas tertentu juga dipengaruhi oleh aktifitas ranah kognitif. Hubungan sel-sel otak terhadap perkembangan bayi baru dimulai setelah ia berusia lima bulan saat kemampuan sensorinya (seperti melihat dan mendengar) benar- benar mulai tampak.

Menurut para ahli psikologi kognitif, pendayagunaan kapasitas kognitif sudah mulai berjalan sejak manusia mulai mendayagunakan #36

kapasitas motor dan daya sensorinya. Tetapi hanya cara dan intensitas daya penggunaan kapasitas ranah kognitif tersebut masih belum jelas benar (Jahja, 2013: 56-57). Adapun karakteristik setiap tahapan perkembangan kognitif anak usia dini tersebut secara rinci yaitu sebagai berikut:

a. Karakteristik tahap sensoris motoris
Tahap sensori motoris ditandai dengan karakteristik menonjol sebagai berikut:
1) Segala tindakannya masih bersifat naluriah.
2) Aktifitas pengalaman didasarkan terutama pada pengalaman indera.
3) Individu baru mampu melihat dan meresap pengalaman, tetapi belum untuk mengkategorikan pengalaman itu.
4) Individu mulai belajar menangani obyek-obyek konkrit melalui skema-skema sensori-motorisnya.

Sebagai upaya lebih memperjelas karakteristik tahap sensoris motoris ini, maka Piaget (Bybee dan Sund, 1982) merinci lagi tahap sensori motoris ke dalam enam fase dan setiap fase memiliki karakteristik tersendiri sebagai berikut;
a) Fase pertama (0-1 bulan) memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Individu mampu bereaksi secara refleks
2) Individu mampu menggerak-gerakkan anggota badan meskipun belum terkoordinir
3) Individu mampu mengasimilasi dan mengakomodasikan berbagai pesan yang diterima dari lingkungannya.
b) Fase kedua (1-4 bulan) memilki karakteristik bahwa individu mampu memperluas skema yang dimilikinya berdasarkan heriditas.
c) Fase ketiga (4 – 8 bulan) memiliki karakteristik bahwa individu mulai dapat memahami hubungan antara perlakuannya terhadap benda dengan akibat yang terjadi pada benda itu #37

d) Fase keempat (8-12 bulan) memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Individu mampu memahami bahwa benda tetap ada meskipun untuk sementara waktu hilang dan akan muncul lagi di waktu lain
2) Individu mulai mampu mencoba-coba sesuatu
3) Individu mampu menentukan tujuan kegiatan tanpa tergantung kepada orang tua.
e) Fase kelima (12-18 bulan), memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Individu mulai mampu untuk meniru
2) Individu mampu untuk melakukan berbagai percobaan terhadap lingkungannya secara lebih lancar
f) Fase keenam (18-24 bulan) memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Individu mulai mampu untuk mengingat dan berfikir
2) Individu mampu untuk berfikir dengan menggunakan simbol- simbol bahasa sederhana
3) Individu mampu berfikir untuk memecahkan masalah sederhana sesuai dengan tingkat perkembangnnya.
4) Individu mampu memahami diri sendiri sebagai individu yang sedang berkembang

b. Karakteristik tahap pra operasional
Tahap pra operasional ditandai dengan karakteristik menonjol sebagai berikut:
1) Individu telah mengkombinasikan dan mentransformasikan berbagai informasi
2) Inndividu telah mampu mengemukakan alasan-alasan dalam menyatakan ide-ide
3) Individu telah mengerti adanya hubungan sebab akibat dalam suatu pristiwa konkrit, meskipun logika hubungan sebab akibat belum tepat.
4) Cara berfikir individu bersifat egosentris yang ditandai oleh tingkahlaku berikut ini: #38

a) Berfikir imanigatif
b) Berbahasa egosentris
c) Memiliki aku yang tinggi
d) Menampakkan dorongan ingintahu yang tinggi
e) Perkembangan bahasa mulai pesat

c. Karakteristik Tahap operasional konkrit
Tahap operasional konkrit ini ditandai dengan karakteristik menonjol bahwa segala sesuatu dipahami sebagaimana yang tampak saja atau sebagaimana kenyataan yang mereka alami. Jadi, cara berfikir individu belum menangkap yang abstrak meskipun cara berfikirnya sudah nampak sistematis dan logis. Dalam memahami konsep, individu sangat terikat kepada proses mengalami sendiri. Artinya mudah memahami konsep kalau pengertian konsep itu dapat diamati atau melakukan sesuatu yang berkaitan dengan konsep tersebut. (Asrori, 2003:39-42)

Dengan demikian, karakteristik-karakteristik yang dikemukakan di atas dapat dijadikan pedoman bagi orang tua/guru dalam melihat perkembangan kognisi anak dari tahap-ketahap pada setiap perkembangannya. Sehingga dapat diketahui apakah anak tersebut sudah memiliki kemampuan kognitif yang optimal atau belum?. Untuk menghindari keterlambatan perkembangan anak tersebut, maka orang tua/guru dapat melakukan berbagai kegiatan stimulasi atau perangsangan pada anak agar mencapai tingkat perkembangan yang wajar. Menurut Piaget setidaknya ada empat kemampuan dasar yang perlu dirangsang pada anak pra sekolah, ialah: 1) kemampuan transformasi: yaitu perubahan bentuk dapat dikenalkan pada anak pra sekolah lewat eksperimen sederhana, misalnya meniupkan balon, menuangkan air kedalam gelas yang berbeda, merubah benda lunak menjadi berbagai bentuk, dan lain-lain. 2) kemampuan reversibility; yaitu cara berfikir alternatif atau bolak balik, misalnya dengan sebuah gambar anak diajak untuk mencari jalan keluar dari sebuah jalan yang banyak liku-likunya, atau anak diminta mengurutkan angka dari kecil ke yang lebih besar dan kemudian kembali dari angka yang besar ke yang lebih kecil, 3) kemampuan klasifikasi; yaitu anak #39

diajak untuk melakukan klasifikasi berdasarkan jenis, bentuk, warna, ukuran dan lain-lain, kemampuan klasifikasi ini ada tiga ialah klasifikasi tunggal, ganda dan jamak. Tunggal misalnya hanya berdasarkan satu aspek misalnya warna saja. Ganda sudah dua aspek, misalnya warna dan bentuk, sedangkan jamak sudah dengan banyak aspek, misalnya warna, bentuk dan bahan dasarnya. Hal penting dari latihan ini adalah pada kemampuan berfikir logis. 4) kemampuan hubungan asimetris: yaitu tidak semua klasifikasi didasarkan atas kesamaan, tetapi juga bisa atas dasar perbedaan. Misalnya besar, kecil, panjang, pendek, tinggi dan rendah, anak dapat dilatih menyususn balok secara urut dari yang besar sampai yang kecil atau dari yang panjang sampai kepada yang pendek. (Yuasuf, 2005:12) #40

Sumber:
Khadijah, 2016. Pengembangan Kognitif Anak Usia Dini. Medan: Perdana Publishing. Hal. 36 – 40.

Related Posts

AsikBelajar.Com

Blogger biasa yang berdomisili di Banjarmasin dan berharap blog ini bermanfaat buat pelajar, mahasiswa & masyarakat umum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 AsikBelajar.Com - Theme by WPEnjoy · Powered by WordPress