Karakteristik dan 9 Prinsip Penelitian Berbasis Desain - AsikBelajar.Com

Karakteristik dan 9 Prinsip Penelitian Berbasis Desain

AsikBelajar.Com | Penelitian berbasis desain memiliki karakteristik unik dan serangkaian prinsip-prinsip yang digunakan dalam proses melaksanakan penelitian tersebut. Hathaway dan Norton (2018) menjelaskan atribut penelitian berbasis desain sebagai berikut.

1. Pragmatic, penelitian ini fokus pada perolehan pengetahuan dan solusi yang dapat dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan praktis.
2. Grounded, penelitian ini mempergunakan teori, temuan empiris dan kearifan dalam berbuat yang menuntun perlakuan layanan pembelajaran.
3. Interventionist, penelitian ini dilaksanakan untuk membuat perubahan dalam konteks kependidikan.
4. Iterative, proses pelaksanaannya berubah secara siklusitas mulai dari mendesain, pengembangan, mengujicobakan dan merevisi.
5. Collaborative, penelitian ini memerlukan kerja sama kepakaran antara peneliti dengan praktisi. Di samping itu, bidang ilmu lainnya, seperti ahli kurikulum, ahli materi, ahli desain pembelajaran, ahli multimedia, programmer perangkat lunak dan lain-lain.
6. Adaptive, desain intervensi dan kadang-kadang juga desain risetnya sering dimodifikasi sesuai dengan perkembangan di lingkungan penelitian.
7. Theory-oriented, penelitian ini mempergunakan teori sebagai basis pengetahuan dalam mendesain solusi, selanjutnya mendesain dan mengembangkannya agar dapat memberikan kontribusi pemahaman ilmiah yang lebih luas.
8. Kelly (2006) dan Nieveen (1999) menambahkan atribut Involvement of Practitioners, keterlibatan praktisi dalam bentuk kolaborasi menjad penciri unik dimulai dari saat mengidentifikasi masalah, mendesain solusi, mengimplementasi dan mengevaluasi desain solusi dan juga pemaknaan natural dalam kompleksitas pembelajaran yang ada.

Penelitian berbasis desain sebagai bidang ilmu yang bersifat inkuiri dalam implementasinya memiliki tujuan dan juga bersifat sistemik. Pada saat pelaksanaan penelitian ini terdapat Sembilan prinsip yang menjadi acuan bagi para peneliti (Wang dan Hannafin, 2005) sebagai berikut. #24

Prinsip 1. Dukungan desain dari hasil penelitian lainnya dari tahap permulaan.
Sebelum melanjutkan penelitian, peneliti atau perancang solusi mengindentifikasi sumber-sumber yang relevan dengan proyek penelitiannya, seperti artikel pada jurnal-jurnal penelitian, laporan hasil penelitian, prosiding konferensi, laporan-laporan teknis dan juga kerangka teoretis mapan yang terdapat pada buku teks yang kredibel. Jika tidak ditemukan adanya topik atau isu yang relevan, mempertimbangkan literatur yang terkait tidak langsung sebagai landasan teoretis desain solusi atau mencari ekstrapolasi petunjuk dari penelitian yang terkait lainnya (Richey, Klein, dan Nelson 2003).

Melalui analisis literatur yang tersedia dan setting desain penelitian secara kritis, peneliti atau perancang akan mendapatkan pandangan yang berbeda sebagai bentuk dukungan dan diperolehnya fokus penelitian yang semakin jelas. Akan tetapi, setelah menganalisis setting desain, para tim peneliti mengidentifikasi perlunya strategi yang bersifat kurikuler dan teknologis, yang pada akhirnya mengembangkan lingkungan belajar dan kurikulum untuk mencapai tujuan penelitian.

Prinsip 2. Menentukan tujuan praktis untuk pengembangan teori dan perencanaan awal.
Setelah tujuan penelitian diklarifikasi bersama, tim peneliti menentukan tujuan yang lebih spesifik yang bisa dilaksanakan dan dicapai melalui desain yang mengandung prinsip-prinsip kependidikan. Para peneliti tidak bisa mempelajari apa saja dalam banyak hal, akan tetapi dengan menentukan tujuan yang masuk akal akan membantu meningkatkan peluang keberhasilan dari usaha yang akan dilakukan. Tujuan yang dimaksud bersifat pragmatis dan ditujukan pada permasalahan-permasalahan praktis.

Ketika tujuan yang bersifat teoretis telah ditentukan, tim peneliti menyusun perencanaan awal mereka. Perencanaan tersebut dipandang sebagai kerangka strategi yang didesain untuk mencapai tujuan teoretis, dengan dukungan dari semua aktivitas desain. Perencanaan biasanya mengandung deskripsi atau pengaturan fase dan tahapan penelitian, setting desain, anggota tim yang terlibat, dan faktor-faktor lain yang dapat dipertimbangkan pada desain awal tersebut. Perencanaan tersebut bersifat fleksibel untuk mengakomodasi perbaikan yang tidak bisa dihindari dan diperlukan selama proses mendesain. #25

Prinsip 3. Melaksanakan penelitian dalam setting yang nyata dan representatif.
Permasalahan penelitian yang dihubungkan dengan desain solusi, berasal dari praktik kependidikan. Inovasi yang dilakukan berasa) dari literatur yang tersedia dan analisis prospektif dalam setting desain nyata. Kemudian, konteks dalam penelitian berbasis desain perlu merepresentasikan keadaan yang sesungguhnya daripada setting yang bersifat penyederhanaan. Para peneliti perlu memperhitungkan pengaruh faktor dan dinamika sosial yang memengaruhi partisipan dan proses desain. Lingkungan belajar dapat merepresentasikan kelas yang natural dengan alur berbagai aktivitas dinamis dan memberikan pengaruh yang khas dalam kesehariannya. Pada akhir siklus desain, prinsip-prinsip desain baru dihasilkan berhubungan dengan setting desain dunia nyata dan berhubungan juga dengan literatur yang memastikan praktikalitas dan keterpakaiannya.

Prinsip 4. Berkolaborasi secara baik dengan partisipan.
Pada penelitian berbasis desain, semua partisipan terlibat dalam setting dan kegiatan sebagai kolaborator dan ko-konstruktor desain solusi. Untuk mendapatkan kelayakan rencana awal dan peningkatan kualitas desain, para perancang berkonsultasi dengan guru dan siswa. Agar tujuan untuk menghasilkan teori baru tetap tercapai, perlu diseimbangkan kajian teoretis dengan kesempurnaan praktik perbaikan. Selanjutnya mereka tidak mengadopsi nilai-nilai dari kliennya atau memaksakan nilai-nilai mereka sendiri, sebaliknya bertindak sebagai fasilitator dan beradaptasi dengan perspektif klien, keyanikan, strategi, dan perluasan proses dalam mendesain.

Kolaborasi yang berhasil membutuhkan koordinasi dalam konteks pemanfaatan sumber-sumber belajar dan upaya-upaya yang dibutuhkan. Oleh karena itu, para perancang harus terbiasa dengan orang-orang yang terlibat, sumber-sumber yang ada, dan keterbatasan-keterbatasan yang ada di lingkungan belajar.

Prinsip 5. Mengimplementasikan metode-metode penelitian seca Sistematis dan bertujuan.
Peneliti menggunakan berbagai metode penelitian seperti observasi: interview, survei, dan analisis dokumen dalam melakukan analisis kebutuhan evaluasi formatif dan sumatif. Metode-metode dokumentasi #26

kualitatif bermanfaat dalam penelitian berbasis desain ini. Memadukan catatan lapangan dengan metode rekaman berbasis teknologi dipergunakan secara luas untuk mendapatkan data yang asli. Para perancang mendokumentasikan prosedur penelitian mereka, anomali yang muncul selama pengujian, penafsiran dan pemahaman terhadap fakta dan fenomena empiris dicatat dalam jurnal penelitian dan catatan harian. Metode penelitian juga disesuaikan dengan analisis data dan perbaikan yang diperlukan dari desain solusi. Contohnya, pendokumentasian berkelanjutan dibutuhkan dari awal untuk analisis retrospektif dan untuk memunculkan prinsip-prinsip desain secara kontekstual. Evaluasi formatif sering dipergunakan untuk menguji tujuan desain pada tahap intermediate. Metode survei, interview, dan pengamatan dapat membantu kebutuhan teoretis dan praktis dari desain solusi tersebut.

Prinsip 6. Menganalisis data sesegera mungkin, berkelanjutan dan bersifat retrospektif.
Menganalisis data secara simultan dengan mengumpulkan dan mengkodifikasi data untuk meningkatkan desain solusi agar mencapai tujuan menghasilkan teori. Pada umumnya terdapat dua level data kualitatif, yaitu level satu berupa data yang menggambarkan setting dan proses penelitian secara tepat, seperti catatan dari observasi kelas dan revisi spesifik yang dilakukan terhadap desain. Adapun data level dua merupakan data yang diperoleh dari pengolahan data level satu yang digunakan untuk menjelaskan dan mengonstruksi prinsip-prinsip desain. Analisis komparatif dan retrospektif digunakan untuk menghasilkan data level dua dengan membandingkan data level satu dengan konteks desain, peristiwa-peristiwa yang muncul di awal, data yang terkumpul sebelumnya, dan pengetahuan yang tersedia dalam literatur relevan. Pendapat atau pandangan dari ahli bersifat komplementer dapat berkontribusi pada analisis retrospektif karena perbedaan penafsiran dapat meminimalkan bias yang terjadi dari para perancang tunggal.

Prinsip 7. Menyempurnakan desain secara berkelanjutan.
Perencanaan awal bersifat fleksibel agar dapat diperbaiki dan disempurnakan sampai siklus desain selesai. Penyempurnaan yang didasarkan pada data level dua dengan membandingkan data yang ada dan pemahaman peneliti yang mendalam tentang konteks penelitian. #27

Kerangka teoretis desain dinilai lebih daripada membedakan apak diterapkan atau tidak, penyempurnaan desain bersifat kontingensi terhadap tujuan untuk menghasilkan teori yang telah ditentukan oleh perancang. Perancang menyempurnakan secara berkelanjutan untuk mencapai tujuan mendesain secara intermediate yang selanjutnya, diakumulasikan dan dikumpulkan agar mencapai tujuan utama day penelitian. Perancang juga melakukan kajian literatur yang ada, untuk memperbaiki dan menyempurnakan aktivitas desain ataupun untuk mencapai tujuan antara dan tujuan akhir teoretis.

Prinsip 8. Mendokumentasikan secara kontekstual hal-hal yang memengaruhi prinsip-prinsip desain.
Prinsip-prinsip desain harus peka terhadap keadaan kontekstual di kelas dan juga merupakan praktik yang penting bagi perancang lainnya. Pengalaman perancang terhadap prinsip-prinsip tersebut menentukan kemampuan untuk mengatur strategi penyesuaian dengan konteks dinamis yang terdapat di kelas.

Laporan penelitian berbasis desain pada umumnya terdiri dari tujuan, kerangka, setting dan proses, luaran dan prinsip-prinsip. Tujuan penelitian memperkenalkan juga literatur relevan yang berhubungan dengan desain, menyebutkan apa tujuan mendesain solusi, menjelaskan menganalisis dan mengembangkan tujuan dan inovasi dari desain tersebut. Kerangka desain menyediakan deskripsi yang mendalam tentang darimana sumber kerangka tersebut (apakah dengan mengadaptasi, mengadopsi atau menciptakan sendiri), dan juga bagaimana peneliti mencapai tujuannya dengan kerangka tersebut.

Setting dan proses desain menjelaskan secara detail karakteristik dan suasana kelas pengujian dan faktor-faktor lainnya yang dapat memengaruhi. Di samping itu, setting dan proses desain menjelaskan fase desain, tujuan antara, penyempurnaan/perbaikan dengan! rasionalitasnya, metode pengumpulan dan analisis data. Temua! dideskripsikan sebagai luaran dari bagian desain dan didukung oleh data empiris, serta dihubungkan dengan proses penelitian. Prinsip-prinsip desain disajikan berkaitan dengan prinsip-prinsip yang bersifat! melebihi dari setting lokal dengan dukungan informasi yang kontekstual dan relevan, serta batasan dan petunjuk aplikasi dari prinsip tersebut juga menjadi bahasan yang penting. #28

Prinsip 9. Memvalidasi generalisasi desain solusi yang diperoleh
Desain solusi yang telah diperbaiki dan disempurnakan secara iteratif dan berkelanjutan, walaupun uji cobanya hanya pada konteks lokal tertentu, akan tetapi dengan kemampuannya mengeksplorasi prinsip-prinsip umum desain, menjadikan temuan penelitian ini berpeluang dapat digeneralisasikan pada konteks yang lebih luas. Validasi tentang kemampuan generalisasi ini masih membutuhkan pembuktian selanjutnya secara empiris pada situasi yang berbeda daripada setting pengujian sebelumnya. #29

Sumber:
Rusdi, M. 2020. Penelitian Perlakuan Pendidikan (Educational Treatment-Based Research). Depok: PT RajaGrafindo Persada. Hal. 24-29.

Related Posts

AsikBelajar.Com

Blogger biasa yang berdomisili di Banjarmasin dan berharap blog ini bermanfaat buat pelajar, mahasiswa & masyarakat umum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 AsikBelajar.Com - Theme by WPEnjoy · Powered by WordPress