Karakteristik Anak Didik Sekolah Dasar menurut Djamarah

By | 11/08/2020

AsikBelajar.Com | Menurut Nasution (1993: 44) masa usia sekolah dasar sebagai masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kira sebelas atau dua belas tahun. Usia ini ditandai dengan mulainya anak masuk sekolah dasar, dan dimulainya sejarah baru dalam kehidupannya yang kelak akan mengubah sikap-sikap dan tingkah lakunya. Para guru mengenal masa ini sebagai ”masa sekolah”, oleh karena pada usia inilah anak untuk pertama kalinya menerima pendidikan formal. Tetapi bisa juga dikatakan bahwa masa usia sekolah adalah masa matang untuk belajar maupun masa matang untuk sekolah. Disebut masa sekolah, karena anak sudah menamatkan taman kanak-kanak, sebagai lembaga persiapan bersekolah yang sebenarnya. Disebut masa matang untuk belajar, karena anak sudah berusaha untuk mencapai sesuatu, tetapi, perkembangan aktivitas bermain yang hanya bertujuan untuk mendapatkan kesenangan pada …89

waktu melakukan aktivitasnya itu sendiri. Disebut masa matang untuk bersekolah, karena anak sudah menginginkan kecakapan-kecakapan baru, yang dapat diberikan oleh sekolah.Sebagai hasil pemberian bantuan yang diberikan keluarga, dan. taman kanak-kanaknya, pada masa ini anak telah mengalami perkembangan-perkembangan yang membantu anak untuk dapat menerima bahan yang diajarkan oleh gurunya. Dalam masa usia sekolah ini, anak sudah siap menjelajahi lingkungannya. Ia tidak puas lagi sebagai penonton saja, ia ingin mengetahui lingkungannya, tata kerjanya, bagaimana perasaan-perasaan, dan bagaimana ia dapat menjadi bagian dari lingkungannya.

Masa usia sekolah dianggap oleh Suryobroto (1990 : 119) sebagai masa intelektual atau masa keserasian bersekolah. Tetapi dia tidak berani mengatakan pada umur berapa tepatnya anak matang untuk masuk sekolah dasar. Kesukaran penentuan ketepatan umur anak matang untuk masuk sekolah dasar disebabkan kematangan itu tidak ditentukan oleh umur semata-mata, namun pada umur antara 6 atau 7 tahun biasanya anak memang telah matang untuk masuk sekolah dasar.

Pada masa keserasian bersekolah ini secara relatif anak-anak lebih mudah dididik daripada masa sebelum dan sesudahnya. Masa ini menurut Suryobroto dapat diperinci menjadi dua fase, yaitu: (1) Masa kelas-kelas rendah sekolah dasar, kira-kira umur 6 atau 7 sampai umur 9 atau 10 tahun dan (2) Masa kelas-kelas tinggi sekolah dasar, kira-kira umur 9 atau 10 sampai kira-kira umur 12 atau 13 tahun.

1. Masa Kelas-Kelas Rendah Sekolah Dasar
Beberapa sifat khas anak-anak pada masa ini antara lain adalah seperti yang disebutkan di bawah ini:
a. Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan kesehatan pertumbuhan jasmani dengan prestasi sekolah. …90
b. Adanya sikap yang cenderung untuk mematuhi peraturan-peraturan permainan yang tradisional.
c. Ada kecenderungan memuji sendiri.
d. Suka membanding-bandingkan dirinya dengan anak lain kalau hal itu dirasanya menguntungkan untuk meremehkan anak lain.
e. Kalau tidak dapat menyelesaikan sesuatu soal, maka soal itu dianggapnya tidak penting.
f. Pada masa ini (terutama pada umur 6 – 8) anak menghendaki nilai (angka rapor) yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak.

2. Masa Kelas-Kelas Tinggi Sekolah Dasar
Beberapa sifat khas anak-anak pada masa ini adalah sebagai berikut.
a. Adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret, hal ini menimbulkan adanya kecenderungan untuk membandingkan pekerjaan-pekerjaan yang praktis.
b. Amat realistik, ingin tahu, dan ingin belajar.
c. Menjelang akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal dan mata pelajaran khusus, yang oleh para ahli ditafsirkan sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor.
d. Sampai kira-kira umur 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang-orang dewasa lainnya.
e. Anak anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya untuk dapat bermain bersama-sama. Di dalam permainan ini biasanya anak tidak lagi terikat pada aturan permainan yang tradisional, mereka membuat peraturan sendiri.Melihat sifat-sifat khas anak seperti dikemukakan di atas, maka memang beralasan pada saat umur anak antara umur sampai dengan 12 tahun dimasukkan oleh para ahli ke dalam tahap perkembangan intelektual. Dalam tahap ini perkembangan intelekmmtual anak dimulai ketika anak sudah dapat berpikir atau mencapai …91

hubungan antarkesan secara Iogis serta membuat keputusan tentang apa yang dihubung-hubungkannya secara logis. Perkembangan intelektual ini biasanya dimulai pada masa anak siap memasuki sekolah dasar. Dengan berkembangnya fungsi pikiran anak, maka anak sudah dapat menerima pendidikan dan pengajaran. Masa perkembangan intelektual ini meliputi masa siap bersekolah dan masa anak bersekolah, yaitu umur 7 sampai dengan 12 tahun. (Dalyono, 1997: 96).

Meskipun begitu, jauh sebelum perkembangan intelektualnya, perkembangan ingatan anak sudah berlangsung, yaitu pada umur 2 sampai dengan 3 tahun. Dalam tahap ini fungsi ingatan anak mulai berkembang. Berkembangnya ingatan anak ini disebabkan oleh fungsi pengamatan yang sudah mampu menerima kesan-kesan dan dengan dibantu oleh perhatiannya mampu mengadakan pencaman terhadap kesan-kesan yang diterimanya. Di samping itu, kesadaran anak telah mampu menampung setiap hasil pengamatan anak. (Dalyono, I997: 95).

Masa keberhasilan bersekolah ini diakhiri dengan suatu masa yang biasanya disebut masa pueral. Menurut Dalyono (1997: 97) pada umur berapa masa pueral ini berlangsung, belum ada ketentuan , yang jelas. Bahkan masa pueral ini sepertinya bersamaan dengan masa pra-remaja. Secara umum dapat dikatakan bahwa masa pueral terjadi pada akhir masa sekolah dasar.

Menurut Nasution, dan kawan-kawan (1993: 46) dan Suryobroto (1990: 121) bahwa sifat-sifat khas anak-anak masa pueral itu dapat diringkas dalam dua hal, yaitu: (a) ditujukan untuk berkuasa, (b) ekstravers. Sikap, tingkah laku, dan perbuatan anak pun ditujukan untuk berkuasa; apa yang diinginkan dan dijadikan idam-idaman adalah si kuat, si jujur, si menang, si juara, dan sebagainya.

Kecuali itu, sikap, tingkah laku, dan perbuatan anak-anak pueral itu ekstravers, yaitu berorientasi keluar dirinya, hal ini mendorongnya untuk menyaksikan keadaan-keadaan dunia luar di luar dirinya dan untuk mencari teman yang sebaya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan jiwanya. Demikianlah, anak-anak pada masa …92

ini membentuk kelompok-kelompok sebaya untuk dapat menang, memperlihatkan kekuasaan dan sebagainya. Karenanya masa ini disebut oleh Kirkpatrick sebagai masa competitive socialization. Dalam diri mereka ada dorongan bersaing yang besar sekali, dan ini disalurkan dalam hubungan dan bersama dengan teman-teman sebayanya. Dalam persaingan itulah anak-anak puer mendapatkan sosialisasi lebih lanjut.

Yang paling menarik perhatian adalah bahwa anak puer tidak hanya dijuluki sebagai si ”tukang jual aksi”, tetapi juga dijuluki sebagai si ”pengecut”. Pada suatu waktu dia menyatakan dapat melakukan ini dan itu (si tukang jual aksi), tetapi pada waktu lain dia tidak berani berbuat begini dan begitu (si pengecut). Di dalam cita-cita anak puer memancar perasaan akan kekuatan sendiri dengan perasaan dapat melakukan segalanya. Mereka ingin menjadi orang-orang yang punya kekuasaan dan kekuatan yang besar seperti misalnya, kapten perahu besar, penerbang’ jet atau penerbang angkasa luar, diktator, juara sepak bola, juara atletik, dan sebagainya.

Apakah sebabnya anak-anak puer itu bersikap demikian? Menurut teori psikologi individual gejala seperti itu disebabkan anak pada waktu itu menderita rasa rendah diri sebagai akibat karena dia selalu membandingkan dirinya dengan orang dewasa. Dalam perbandingan diri dengan orang-orang dewasa ternyata dia selalu kalah. Karena itulah timbul perasaan kurang dapat, kurang mampu, kurang yakin, akan kekuatannya sendiri. Akhirnya, sebagai konpensasinya dia bersikap dan berperilaku dengan cara ”jual aksi”, “sok tahu”, ”sok pintar”, ”sok dapat”, untuk menutupi kelemahan diri.

Masa pueral terkait dengan sikap ekstravers anak yaitu suatu masa, di mana ”aku” si anak tidak sibuk dengan dirinya sendiri, akan tetapi sibuk dengan yang lain di luar dirinya. Anak menghadapi dunia ini dengan aktivitas yahg tertuju keluar. Karenanya William Stern (salah seorang tokoh aliran Konvergensi) menganggap masa ini sebagai masa di mana anak meninggalkan masa dongeng dan …93

masa bermain dan masuk ke dalam alam kerja, yaitu alam mengenal dan berbuat.

Dalam masa ini hubungan sosial anak makin luas, mereka membentuk kelompok-kelompok untuk dapat mengetahui dan menilai apa yang dapat mereka lakukan dan apa yang tak dapat dilakukan, mencoba menilai segala kelebihan dan kekurangan diri. Dengan pergaulan dalam kelompok, tidak hanya berguna bagi perkembangan rasa sosial anak, tetapi juga rasa diri dengan penghargaan terhadap teman-teman sebaya.

Setelah masa puer di mana anak-anak bersikap ekstravers ini, segera datanglah masa di mana anak-anak bersikap introvers, anak-anak menarik diri, untuk menemukan diri sendiri, dan membentuk diri sendiri, yaitu masa pubertas. Perkembangan dari masa pueral yang ekstravers ke masa pubertas yang introvers itu seringkali berlangsung dengan mendesak, sehingga kebanyakan orang dapat mengingatnya.

Suatu hal penting pada masa ini adalah sikap anak terhadap otoritas (kekuasaan), terutama otoritas orang tua dan guru. Anak-anak puer menerima otoritas orang tua dan guru sebagai suatu hal yang wajar. Anak dapat menerima sikap yang keras, asalkan adil dan dijalankan dengan tegas. Keragu-raguan akan dipandang anak sebagai kelemahan.

Otoritas guru bisa dalam berbagai bentuk, misalnya dalam pemberian nilai (angka rapor) dan dalam pemberian hadiah, pemberian hukuman dan lain-lain alat siasat. Hasil penyelidikan bahwa anak-anak umur 9 sampai dcngan 13 tahun menganggap nilai teman-temannya. untuk melihat keadilan guru dan kekuatan dirinya sendiri dalam kelas, di antara teman-temannya. Dalam hubungan dengan hal yang terakhir, yaitu kekuatan diri anak sendiri dalam kelas, temyata ada persaingan di antara anak-anak itu. Biasanya persaingan itu terbatas pada sesama jenis kelamin. Jadi, anak-anak laki-laki bersaing dengan sesama anak laki-laki, dan anak-anak perempuan bersaing dengan sesama anak perempuan. Dengan pengalaman-pengalaman itu tumbuhlah dengan lebih nyata masa keadilan. …94

Tentang masalah hadiah dan hukuman. Berdasarkan hasil penyelidikan Julius Wagner telah disimpulkan tentang pengertian anak terhadap hukuman. Makin tua anak-anak, maka makin sadarlah mereka bahwa tujuan hukuman adalah untuk memperbaiki. Bersamaan dengan itu, Liselotte Frankl, berdasarkan hasil penyelidikannya tentang sampai sejauh mana hukuman itu mencapai sasarannya, telah disimpulkan bahwa siapa pun tidak boleh berharap terlalu banyak kepada hadiah dan hukuman. Kalaupun dipergunakan, baik hadiah ataupun hukuman, harus disesuaikan dengan perkembangan anak selain harus pula dipertimbangkan kondisi-kondisi yang lain.

Kenakalan anak-anak yang timbul pada masa pueral tidak hams ditekan, tetapi harus disalurkan ke dalam bentuk aktivitas yang positif dan bernilai pendidikan, seperti berkemah, permainan bersama, kepramukaan, kerja bakti, olah raga, dan sebagainya. …95

Sumber:
Djamarah, Syaiful Bahri, 2000. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 89-95.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *