Jenis-jenis Pendekatan dalam Penelitian Menurut Arikunto

AsikBelajar.Com | Langkah memilih pendekatan ini sebenarnya bisa lebih tepat ditempatkan setelah peneliti menentukan dengan tegas variabel penelitian. Dalam hal ini penulis berpendapat bahwa antara penentuan variabel penelitian dan pemilihan pendekatan sebenarnya dilakukan maju-mundur, bolak-balik. Variabel penelitian memang sangat menentukan bentuk atau jenis pendekatan. Namun, jelas pendekatan juga tidak dapat diabaikan peranannya dalam menentukan perincian variabel secara teliti. Oleh karena itu, hanya karena alasan bahwa 2 hal tersebut tidak dapat dibicarakan sekaligus, dan yang satu harus mendahului yang lain, maka pembicaraan masalah pemilihan pendekatan ini penulis dahulukan.

Di dalam bab terdahulu sudah disinggung berbagai jenis penelitian menurut pendekatan atau approach-nya. Secara singkat pendekatan penelitian dapat dibedakan atas beberapa jenis, tergantung dari sudut pandangannya, walaupun sebenarnya antara jenis yang satu dengan jenis yang lain kadang-kadang saling over lapping.

1. Jenis pendekatan menurut teknik samplingnya adalah:
– pendekatan populasi,
– pendekatan sampel,
– pendekatan kasus.

2. Jenis pendekatan menurut timbulnya variabel adalah:
– pendekatan non-eksperimen,
– pendekatan eksperimen.

3. Jenis pendekatan menurut pola-pola atau sifat penelitian non eksperimen.
Sehubungan dengan pendekatan jenis ini, maka dibedakan atas:
a) penelitian kasus (case-studies),
b) penelitian kausal komparatif,
c) penelitian korelasi,
d) penelitian historis,
e) penelitian filosofis.

Tiga penelitian yang pertama, dinamakan juga penelitian deskriptif.

4. Jenis pendekatan menurut model pengembangan atau model pertumbuhan, adalah:

a. ”One-shot” model, yaitu model pendekatan yang menggunakan satu kali pengumpulan data pada ”suatu saat”.
b. Longitudinal model, yaitu mempelajari berbagai tingkat pertumbuhan dengan cara ”mengikuti” perkembangan bagi individuindividu yang sama.
c. Cross-sectional model, yaitu gabungan antara model a dan b, untuk memperoleh data yang lebih lengkap yang dilakukan dengan cepat, sekal igus dapat menggambarkan perkembangan individu selama dalam masa pertumbuhan karena mengalami subjek dari berbagai tingkat umur.

Contoh untuk ketiga jenis pendekatan ini adalah sebagai berikut. Misalnya saja peneliti ingin mengetahui bagaimana perkembangan motorik anak.

Untuk pendekatan pertama yaitu ”one shot” model seutuhnya hanya meneliti perkembangan motorik anak pada usia 1 tahun. Dikumpulkannya sekelompok anak usia 1 tahun lalu diamati kemampuan berjalannya. Penelitian dilakukan pada satu waktu terhadap satu kelompok. ”One shot” artinya satu kali tembak.

Untuk pendekatan jenis kedua, yakni longitudinal model atau pendekatan memanjang menurut waktu, peneliti mengamati perkembangan motorik sekelompok anak misalnya waktu umur 7 bulan, 8 bulan, 9 bulan, 10 bulan, 11 bulan, 12 bulan, dan seterusnya. Dengan demikian penelitian dilakukan pada beberapa waktu terhadap satu kelompok. Dari pengamatan berturutan tersebut dapat diambil kesimpulan mengenai perkembangan motorik anak mulai umur 7 bulan hingga 14 bulan misalnya. Kelemahan dan pendekatan ini bahwa penelitian memakan waktu lama. Kebaikannya adalah bahwa subjek-subjek yang diamati merupakan subjek yang sama, sehingga gambaran perkembangan motorik yang dihasilkan tidak dipengaruhi oleh faktor subjek.

Untuk pendekatan jenis ketiga, yakni cross-sectional model atau pendekatan silang, peneliti mengamati perkembangan motorik beberapa kelompok anak dari usia yang berbeda. Misalnya kelompok A adalah kelompok anak umur 7 bulan, kelompok B adalah kelompok anak 8 bulan, kelompok C umur 9 bulan, dan seterusnya; Alasan peneliti mengambil beberapa kelompok adalah adanya 7 bulan pada bulan berikutnya akan mencapai perkembangan setaraf kelompok B sekarang, dan dua bulan berikutnya perkembangannya setaraf dengan kelompok C sekarang. Dengan kata lain, kelompok B, kelompok C, dan sebagainya merupakan ”bayangan” kelompok A pada bulan-bulan berikutnya. Dengan demikian penelitian dilakukan pada satu waktu terhadap beberapa kelompok, di mana keiompok-kelompok yang usianya lebih banyak dipandang sebagai pengganti kelompok usia terkecil pada masa-masa berikutnya.

Jenis pendekatan menurut desain atau rancangan penelitiannya (yang ini sebenarnya masuk dalam pendekatan eksperimen).

Walaupun ada beberapa jenis desain atau rancangan penelitian, namun secara garis besar ada tiga rancangan dasar yaitu:
a. Rancangan tambang lugas.
b. Rancangan ulangan.
c. Rancangan faktorial.

Sedangkan rancangan-rancangan yang lain merupakan perluasan atau kombinasi dari ketiga rancangan pokok tersebut.

Campbell & Stanley membagi jenis-jenis desain ini berdasarkan atas baik buruknya eksperimen, atau sempurna tidaknya eksperimen. Secara garis besar mereka mengelompokkan atas.

-Pre Experimental Design (eksperimen yang belum baik).
-True Experimental Design (eksperimen yang dianggap sudah baik).

a. Pre Experimental Design seringkali dipandang sebagai eksperimen yang tidak sebenarnya. Oleh karena itu, sering disebut juga dengan istilah ”quasi experiment” atau eksperimen pura-pura. Disebutdemikian karena eksperimen jenis ini bel um memenuhi persyaratan seperti cara eksperimen yang dapat dikatakan ilmiah mengikuti peraturan-peraturan tertentu.

Ada 3 jenis design yang dimasukkan ke dalam kategori pre experimental design, yaitu (1) One shot case study, (2) Pres test and Post Test, dan (3) Static Group Comparison. Berikut ini disampaikan penjelasan lebih lanjut tentang masing-masing design (dalam bahasa Indonesia ditulis dengan ”desain”. Setiap desain disertakan pula pola penelitiannya. Pengertian umum untuk setiap pola selalu dinyatakan dalam 0 (observasi) dan X (perlakuan).

Sumber:
Arikunto, Suharsimi. 2014. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Hal.121-123.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Captcha loading...