Individual Consideration pada Kepemimpinan Transformasional

AsikBelajar.Com | Perilaku individual consideration merupakan bentuk dari perilaku kepemimpinan transformasional yang di mana ia merenung, berpikir, dan terus mengidentifikasi kebutuhan karyawannya, mengenali kemampuan karyawannya, mendelegasikan wewenangnya, memberikan perhatian, membina, membimbing, dan melatih para pengikut secara khusus dan pribadi agar mencapai sasaran organisasi, memberikan dukungan, membesarkan hati dan memberikan pengalaman-pengalaman tentang pengembangan kepada pengikut. Dalam hal individual consideration ini, pemimpin transformasional dapat dicirikan sebagai pemimpin yang mampu memberikan perlindungan (mengayomi) dan menciptakan rasa aman dan nyaman para pengikutnya, serta mampu menampung dan menangkap, semua aspirasi dan kepentingan pengikutnya (Tunggal, 1993:315) memperjuangkan kebutuhan pengikutnya, pemimpin yang menghargai potensi, kebutuhan dan aspirasi pengikut (Wuradji, 2005:123) untuk kepentingan jangka panjang. Pola perilaku pemimpin yang demikian bisa dikatakan sebagai pemimpin yang efektif dengan dasar dorongan perilakunya digerakkan oleh tujuan-tujuan jangka panjang dan ia juga memiliki cita-cita yang tinggi dibandingkan dengan orang-orang di sekitarnya (Anonim, 2005:123).

Dalam bentuk lainnya individual consideration merupakan perilaku kepemimpinan dengan mendekatkan diri kepada karyawan secara emosi. Artinya, pada aspek ini ada hubungan antara gaya kepemimpinan dengan tingkat kematangan pengikut terutama pada kekuasaan hubungan (connection) dengan bersumber pada hubungan yang dijalin pimpinan dengan orang penting dan berpengaruh baik di luar atau dalam organisasi (Nasrudin, 2010:81). Beberapa hasil penelitian telah membuktikan bahwa perilaku mendekatkan emosi seperti memberikan perhatian secara invidual dapat memberikan daya Pengaruh yang besar serta kontributif terhadap timbulnya pola hubungan antara pemimpin dan komponen organisasi pendidikan. Dengan demikian, dalam dimensi ini, pemimpin transformasional digambarkan sebagai seorang pemimpin yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian masukan-masukan bawahan dan secara khusus mau memerhatikan kebutuhan-kebutuhan bawahan akan pengembangan karier dan juga peningkatan sumber daya manusia komponen organisasi pendidikan.

Di sisi yang lain perilaku individual consideration juga berarti bahwa pemimpin harus mampuni dalam menyediakan dan menjadikan organisasi sebagai aktualisasi diri bagi para pengikutnya sebagaimana dalam kepemimpinan spiritual yang memberikan ruang untuk hal tersebut. Akan tetapi, hal ini sangat berbeda dengan kepemimpinan transaksional dalam hal paradigma, teori maupun orientasi kepemimpinannya. Kepemimpinan transformasional sebagaimana kepemimpinan spiritual tidak secara langsung menghendaki kemakmuran bagi para pengikutnya, melainkan berusaha memberikan perhargaan internal. Maksudnya kepemimpinan transformasional berusaha mendorong, memfasilitasi dan memberi penguatan agar pengikutnya dapat beraktualisasi diri (Tobroni, 2005:186), serta menemukan hakikat dirinya dalam organisasi pendidikan. Pemberian ruang ini dimaksudkan sebagai pola “pemanusiaan” bagi seluruh komponen organisasi pendidikan -baca sumber daya manusia organisasi-, sebab kepemimpinan menyangkut orang lain, subordinate atau pengikut (komponen organisasi pendidikan). Kesediaan mereka untuk menerima pengarahan dari pemimpin dapat membantu menentukan status atau kedudukan pemimpin dan membuat proses kepemimpinan dapat berjalan. Tanpa bawahan, semua kualitas kepemimpinan seseorang akan menjadi tidak relevan.

Dengan demikian, banyak kalangan yang kemudian menyatakan bahwa salah satu faktor situasional yang akan semakin berpengaruh terhadap efektivitas kepemimpinan dalam dekade mendatang adalah hubungan antara pemimpin dan pengikut (bawahan). Esensi hubungan tersebut adalah interaksi antar pribadi yang berbeda motivasi dan potensi kekuasaan, termasuk di dalamnya keterampilan, dalam rangka mencapai tujuan bersama. Interaksi ini memiliki dua bentuk yaitu transactional leadership dan transformational leadership (Gibson dkk, 1991:-). Dalam perilaku kepemimpinan transformasional indikasi ini muncul, ia tidak hanya memerintah melalui otoritas dan wewenangnya, akan tetapi ia juga memberikan bimbingan terhadap komponen organisasi pendidikan, bahkan ia mampu mengidentifikasi kebutuhan komponen organisasinya dengan tepat.

Selanjutnya kondisi komponen organisasi pendidikan yang tidak  semuanya suka dibimbing atau bahkan memiliki kesan untuk digurui, maka pemimpin transformasional hanya membantu untuk menentukan konteks “apa” yang harus dikerjakan lebih dulu oleh mereka sebagai bentuk langkah awal dalam mencapai visi, misi dan tujuan organisasi pendidikan. Bentuk perilaku yang demikian sebenarnya mengarahkan organisasi pendidikan pada pola kooperatif antar lini (devisi) yang lebih diarahkan pada pencapaian tujuan organisasi pendidikan. Dengan kerja sama bahumembahu (kooperatif) antara pemimpin dan karyawan terlebih pada masa krisis untuk mengatasi musibah akan terjalin ikatan yang kuat. Ikatan itu akan bertahan dan memiliki sifat ketangguhan dalam menghadapi krisis di masa mendatang (Suryanto, 2009:50). Akan tetapi yang paling urgen dalam kerangka ini adalah pada aspek kepemimpinan sebagai fakta esensial dalam manajerial dan organisasional. Sebab pemimpin merupakan faktor penentu dalam kesuksesan atau gagalnya suatu organisasi dan usaha. Baik di dunia bisnis maupun di dunia pendidikan, kesehatan, perusahaan, religi, sosial, politik, pemerintahan negara, dan lain-lain, kualitas pemimpin menentukan keberhasilan lembaga atau organisasinya. Pemimpin yang sukses itu mampu mengelola organisasi, bisa memengaruhi secara konstruktif orang lain, dan menunjukkan jalan serta perilaku benar yang harus dikerjakan bersama-sama (melakukan kerja sama), dan bahkan kepemimpinan sangat memengaruhi semangat kerja kelompok (Sulthon dkk, 2006:42).

Terlepas dari hal tersebut, selain memberikan bimbingan terhadap komponen organisasi pendidikan, pemimpin trasformasional juga berusaha untuk mengkaji, menelaah dan berpikir dengan keras untuk mengetahui kemampuan seluruh komponen organisasi. Hal itu dilakukan karena Program-program transformasional yang akan diaplikasikan perlu untuk diselaraskan dengan sumber daya atau kemampuan dari komponen organisasi pendidikan. Oleh sebab itu, pemimpin transformasional perlu menyadari kemampuan yang beragam dari komponen organisasi pendidikan tersebut, atau bahkan ia tidak perlu melakukan generalisasi atau menyamaratakan kemampuan komponen organisasi yang beragam tersebut. Pada kerangka ini, pemimpin transformasional akan mampu memberikan solusi terhadap permasalahan “kemampuan” komponen organisasi pendidikan dengan melakukan tindakan-tindakan berdasarkan hasil identifikasi terdapat kelemahan-kelemahan tersebut.

Dari deskripsi tersebut, maka sangat jelas kedudukan dari sosok pemimpin dalam organisasi pendidikan, ia merupakan spirit untuk menggerakkan dan memutar roda pemberdayaan organisasi pendidikan, artinya peran sentral dalam organisasi pendidikan tidak pernah lepas dari kinerja seorang pemimpin untuk menggerakkan potensi-potcnsi dalam organisasi tersebut. Hal ini berarti bahwa dalam konteks organisasi yang paling urgen adalah kepemimpinan yang efektif dan diikuti oleh rencana aksi (Suryadi, 2006:9), dan akan berakhir pada tatanan manajemen yang baik dalam organisasi pendidikan yang ditangani dengan adanya pola pikir yang teratur (administrative thinking), adanya pelaksanaan kegiatan yang teratur (administrative behavior), dan adanya penyikapan terhadap tugastugas kegiatan dengan baik (administrative attitude) (Sulthon dkk, -:37). Dalam alur yang demikian, perilaku pemimpin lransformasional sangat menemukan tatanan manajerial organisasi pendidikan salah satu contoh perilaku pemimpin yang memberikan perlakuan yang adil dan pengakuan dari pemimpin transformasional menjadi pendorong yang kuat pula. Perilaku lain dapat pula diwujudkan dalam perilaku pemimpin yang mendorong dan memberikan kesempatan dan ruang kepada komponen organisasi pendidikan untuk belajar. Perilaku semacam ini akan menumbuhkan emosi mereka dengan baik karena mereka merasa diperhatikan oleh organisasi pendidikan secara makro dan pemimpinnya secara mikro. Pada perilaku ini ada penyataan yang cukup menarik bahwa:

“Dengan memberi ruang kepada karyawan untuk belajar dari pengalaman, Anda telah menunjukkan kepedulian terhadap karyawan. Ha] ini penting karena sebagai pemimpin transformasional Anda mengajak mereka untuk memasuki perairan yang belum terpetakan. Anda mengajak mereka untuk kreatif, inovatif dan berpikir di luar kotak. Kesalahan merupakan hal yang tidak bisa terhindarkan, tapi apa pun kesalahannya, kita bisa belajar sesuatu darinya. Jangan lupa anda harus mampu memberi contoh sebagai seorang pembelajar yang selalu haus akan pengetahuan-pengetahuan baru” (Suryanto, 2009:58).

Dengan demikian, kepemimpinan perlu untuk menyikapi perubahan dalam kompetisi global dengan perilaku yang memberikan ruang dan kesempatan bagi komponen organisasi pendidikan untuk belajar. Secara teoretis, pemimpin dalam konteks pendidikan untuk menyikapi tantangan globalisasi yang ditandai dengan adanya kompetisi global yang sangat ketat dan tajam, di beberapa negara telah berupaya untuk melakukan revitalisasi pendidikan (Ahimsa, 2002:7). Revitalisasi ini termasuk pula dalam hal perubahan paradigma kepemimpinan (Azizy, 2004:174) pendidikan, terutama dalam hal pola hubungan atasan-bawahan, yang semula bersifat hierarkis-komando menuju ke arah kemitraan bersama. Pada hubungan atasan-bawahan yang bersifat hierarkis-komando (direktif), sering kali menempatkan bawahan sebagai objek tanpa daya dan semua kegiatan berpusat pada pemimpin, dan sedikit saja kebebasan orang lain untuk berkreasi dan bertindak yang diizinkan (Salusu, 2000:194). Pemaksaan kehendak dan pragmatis merupakan sikap dan perilaku yang kerapkali mewarnai kepemimpinan komando-birokratik-hierarkis, yang pada akhirnya hal ini berakibat fatal terhadap terbelenggunya sikap inovatif dan kreatif dari setiap bawahan. Dalam melaksanakan tugas dan kewajiban, mereka cenderung bersikap a priori dan bertindak hanya atas dasar perintah sang pemimpin semata. Dengan kondisi demikian, pada akhirnya akan sulit dicapai kineija yang unggul (Wahab dkk, 2008:85-86).

Terlebih ketika melihat lingkungan yang terus berubah, maka tidak bisa tidak (like or dislike) komponen organisasi pendidikan perlu dihadapkan dengan budaya kompetisi dan transformatif yang dengan sendirinya menjadi manusia pembelajar. Budaya organisasi yang di dalamnya terdiri dari manusia pembelajar atau memang telah menjadi bagian substansi dari organisasi pendidikan yaitu budaya pembelajar yang akan memungkinkan organisasi pendidikan untuk terus-menerus mengevaluasi asumsi-asumsi, mental, model, paradigma yang dipakai dalam menjalankan roda organisasi tersebut. Dengan dasar tersebut, maka tugas pemimpin transformasional yang bersifat mendasar adalah kemampuannya dalam menciptakan budaya pembelajar pada organisasi pendidikan. Budaya pada kerangka ini diartikan sebagai the body of solutions to external and internal problems that has worked consistently for a group and that is therefore taught to new remembers as the correct way to perceive, think bout, and feel in relation to those problems (Tika, 2006:33) atau sebagai suatu persepsi bersama yang dianut oleh anggota-anggota organisasi itu, suatu sistem dari makna bersama (Robbin, 2005:289).

Fakta riilnya, pemimpin transformasional adalah pemimpin yang memang fokus untuk melejitkan potensi kemanusiaan yang dimiliki komponen organisasi pendidikan untuk menuju humanisasi organisasi, sehingga organisasi pendidikan akan menjelma menjadi ajang pemanusiaan manusia sebagai wujud dari spiritualisasi korporat yang komponen di dalamnya merupakan sosok insan kamil (Mas’adi, 2002:170-171) yang akan terwujud dalam proses organisasi tersebut. Artinya, proses humanisasi yang diberikan oleh pemimpin transformasional akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pola pembentukan sistem termasuk “pengangkatan derajat” komponen organisasi pendidikan. Wajar ketika pemimpin transformasional dikatakan sebagai pemimpin yang lebih mengarahkan komponen organisasi pendidikan pada peningkatan nilai dan moral organisasi.

Dalam lingkup ini yang bisa dijadikan sebagai contoh adalah ketika pemimpin transformasional memberikan kepada komponen organisasi pendidikan memiliki kesempatan untuk belajar dan berpengalaman. Kesempatan ini diberikan dalam rangka meningkatkan potensi, skill, dan kompetensi serta keterampilan komponen organisasi pendidikan; dan hal ini bisa terjadi (terwujud) apabila pemimpin memberikan ruang bagi mereka, misalnya dengan mendelegasikan wewenang bagi mereka sebagai bentuk rangsangan bagi mereka untuk belajar. Aspek yang demikian bisa dinyatakan bahwa:

Mendelegasikan wewenang adalah ciri dari pemimpin transformasional. Anda harus berani mendelegasikan. Ingat pemimpin transformasional memberikan ruang untuk belajar, memberi kesempatan kepada karyawan untuk tumbuh dan berkembang. Mendelegasikan wewenang adalah sesuatu yang amat diperjuangkan oleh pemimpin transformasional. Cita-cita itu mengajak karyawan untuk keluar dari kekerdilan diri menuju ke puncak martabat manusia (Suryanto, 2009:62).

Perilaku lainnya yang masuk dalam kerangka perilaku individual consideration dari kepemimpinan transformasional dan merupakan bagian dari proses pemanusiaan komponen organisasi pendidikan adalah dengan melatih dan memberikan umpan balik yang baik dan tepat agar mereka sukses dalam tugasnya dan juga mampu belajar dari pengalaman tersebut. Dengan demikian, pemimpin transformasional diharapkan menjadi manajer sekaligus pelatih bagi organisasi pendidikan secara keseluruhan untuk lebih membuka segala ilmu pengetahuan dari pemimpin dalam meraih kesuksesannya. Dari aspek ini pula, pemimpin transformasional lebih menekankan komunikasi dua arah yaitu antara dirinya sebagai sosok pemimpin dengan komponen organisasi pendidikan sebagai bawahan (pengikut) yang di dalamnya memiliki dua unsur komunikasi yaitu saling mendengar dan berbicara.

Sebab mayoritas ditemukan bahwa pemimpin organisasi pendidikan lebih sering banyak berbicara daripada mendengar komponen organisasi pendidikan ketika menyampaikan pandangannya, sehingga komunikasi yang muncul adalah komunikasi yang berjalan satu arah tanpa ada pembingkaian dari bawahan. Rangkaian satu arah akan memberikan nuansa dominasi pemimpin yang jauh dari sikap demokratis, padahal mendengar secara saksama dan penuh perhatian terhadap sesuatu yang menjadi keinginan, keluhan serta pikiran dari komponen organisasi pendidikan sangat membantu efektivitas kepemimpinan. Formulasi yang bisa dimunculkan pada aspek ini adalah mendengar sama dengan menimba kelebihan orang lain untuk mengisi kekurangan diri dalam pemimpin. Jadi pada kerangka ini pemimpin transformasional sangat menyadari bahwa dirinya bukan manusia yang luar biasa. Oleh karena itu, ia akan dengan antusisas mendengar orang lain (komponen organisasi pendidikan). Misinya adalah ingin mengangkat karyawan pada tataran tinggi yang melebihi hanya sekadar ambisi pribadi dari para karyawan itu… mereka (karyawan) harus juga berperan serta dan mendengar saran karyawan adalah kewajiban yang tidak boleh dilupakan (Suryanto, 2009:73).

Dengan alur yang demikian, ada kalangan yang memberikan statement bahwa organisasi yang baik adalah organisasi yang tidak hanya menyediakan pekerjaan bagi karyawannya, tetapi juga mereka bisa mendapatkan keahlian, pengetahuan dan pengembangan sumber daya manusia, bahkan mereka akan lebih terpedayakan untuk menjadi lebih baik. Pemimpin transformasional adalah pemimpin yang mampu menyediakan ruang, waktu, fasilitas yang dapat digunakan oleh komponen organisasi pendidikan untuk memberdayakan dan mengembangkan kemampuan dan keterampilannya agar performance organisasi pendidikan menjadi lebih baik. Dengan demikian, individual consideration dalam kepemimpinan transformasional adalah kemampuan seorang pemimpin dalam memperlakukan setiap orang menjadi individu. Keragaman minat, bakat, kemampuan, karakter, cita dan lainnya dari setiap karyawan harus diketahui secara detail oleh pemimpin sehingga dia dapat memperlakukan setiap karyawan sebagai individu. Sebagai seorang pemimpin haruslah mengenal bawahannya (Karim, 2010:96-97).

Oleh sebab itu, pemimpin transformasional dapat dilihat dari karakteristik yang muncul dari prilakunya, antara lain: ia mempunyai visi yang besar dan mempercayai intuisi; ia menempatkan diri sebagai motor penggerak perubahan; ia berani mengambil risiko dengan pertimbangan yang matang; ia memberikan kesadaran pada bawahan akan pentingnya hasil pekerjaan; ia memiliki kepercayaan akan kemampuan bawahan; berperilaku fleksibel dan terbuka terhadap pengalaman baru; berusaha meningkatkan motivasi yang lebih tinggi daripada sekadar motivasi yang bersifat materi; mendorong bawahan untuk menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi dan golongan; serta mampu mengartikulasikan nilai inti (budaya/tradisi) untuk membimbing perilaku mereka (Karim, 2010:98).

Sumber:
Setiawan, Bahar A. dkk. 2013. Transformasional Leadership (Ilustrasi di Bidang Organisasi Pendidikan). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Hal. 176-185.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Captcha loading...