Indikator Keberhasilan Manajemen Berbasis Sekolah Di Sekolah Dasar

By | 28/08/2019

AsikBelajar.Com | Agar dapat melaksanakan MBS secara efektif dan efisien pada sekolah, maka perlu acuan kerja sebagai dasar pelaksanaan di lapangan. Acuan yang dimaksud adalah berupa sasaran kerja yang diimplemantasikan dalam bentuk indikator capaian pada masing-masing komponen manajemen berbasis sekolah (MBS).

Indikator keberhasilan MBS

Indikator MBS pada dasarnya dapat berfungsi sebagai alat ukur keberhasilan sekolah dalam melaksanakan MBS. Untuk dapat dijadikan alat ukur maka indikator dirumuskan mengacu pada instrumen akreditasi sekolah dan berdasarkan 7 komponen MBS. Indikator MBS ini dikutip dari buku acuan berdasarkan panduan nasional MBS SD tahun 2013 dari Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar Jakarta.

A. Kurikulum dan Pembelajaran
Pada komponen kurikulum dan pembelajaran berbasis sekolah mempunyai 31 (tiga puluh satu) indikator minimal, yaitu:
1. Kurikulum disusun dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik, potensi lingkungan sekolah, masyarakat, dan potensi daerah.
2. Perangkat kurikulum dan pembelajaran disusun secara mandiri oleh sekolah melalui kerja tim yang terdiri dari Kepala Sekolah, guru, unsur komite sekolah dan/atau orang tua siswa yang memiliki keahlian.
3. Kurikulum sekolah dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip pengembangan kuriklum.
4. Tahapan pengembangan kurikulum dilakukan melalui langkah-langkah yanga sistematis.
5. Sekolah memiliki dokumen muatan lokal yang disusun dengan melibatkan kepala, guru, komite, tokoh masyarakat, instansi terkait.
6. Sekolah memiliki dokumen silabus dan RPP setiap mata pelajaran.
7. Sekolah memiliki program pembinaan bakat dan minat peserta didik melalui kegiatan ekstrakurikuler.Sekolah memiliki dokumen program kegiatan layanan konseling dengan sasaran layanan individu dan layanan kelompok.
8. Proses pembelajaran di sekolah dilaksanakan dengan pendekatan aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM).
9. Strategi pembelajaran memberikan kesempatan dengan leluasa kepada peserta didik untuk berpartisipasi aktif, interaktif, kreatif, inovatif dan mandiri.
10. Penilaian pembelajaran dilaksanakan mencakup penilaian proses dan hasil belajar.
11. Instrumen penilaian yang digunakan bervariasi, menerapkan teknis tes maupun non tes.
12. Pengorganisasian peserta didik dalam pembelajaran bervariasi (klasikal, kelompok, berpasangan, individu).
13. Aktifitas belajar peserta didik bervariasi ( misalnya: wawancara, pengamatan, penelitian, bermain peran, melakukan percobaan ) sesuai dengan kompetensi yang dikembangkan.
14. Tata tertib kelas disusun dan disepakati bersama oleh siswa dan guru.
15. Perilaku warga kelas (guru dan siswa) sesuai dengan etika yang berlaku.
16. Proses pembelajaran memberi kesempatan peserta didik agar berani bertanya, mengemukakan pendapat, mengkomunikasikan ide/gagasan secara tertulis dan/atau lisan.
17. Guru memanfaatkan berbagai sumber belajar (bahan pustaka, lingkungan sekitar, pengalaman peserta didik, nara sumber, internet) disesuaikan dengan kompetensi yang dikembangkan.
18. Guru menggunakan alat bantu belajar (media atau alat peraga, lembar kerja) sesuai dengan kompetensi yang dikembangkan bersama peserta didik.
19. Guru membuat dan menggunakan lembar kerja untuk mengkondisikan peserta didik menemukan konsep/ gagasan/cara/rumus dan mengamati konteks kehidupan nyata.
20. Pertanyaan yang diajukan guru memancing siswa untuk membangun gagasannya sendiri.
21. Guru memberikan umpan balik yang dapat mendorong peserta didik mengemukakan ide/gagasan.
22. Peserta didik aktif dan tekun melakukan kegiatan/aktifitas pembelajaran.
23. Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik tampil di depan kelas untuk bercerita, mempresentasikan hasil kerja kelompok/individu, memimpin diskusi kelas.
24. Guru bersama siswa melakukan refleksi/perenungan tentang kesan dan/atau pemahaman terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.
25. Hasil karya peserta didik dari kegiatan pembelajaran dipajang, ditata rapi, dan diganti secara rutin dan teratur.
26. Hasil belajar peserta didik dipantau secara berkelanjutan untuk dapat mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM).
27. Kompetensi peserta didik dikembangkan secara seimbang baik personal maupun sosial sesuai dengan latar belakang potensi peserta didik (contoh: jujur, tanggung jawab, disiplin, kerjasama, toleransi, empati, percaya diri, musyawarah, kepemimpinan).
28. Setiap proses pembelajaran bebas dari perlakuan kekerasan (emosional, fisik, dan pelecehan seksual).
29. Memberikan pelayanan remedial bagi siswa yang belum mencapai kompetensi dan pengayaan bagi yang sudah mencapai kompetensi.
30. Sekolah memiliki kalender akademik.
31. Sekolah memiliki dokumen perumusan Kriteria Ketuntasan Minimal yang dilaksanakan melalui rapat dewan guru.

B. Peserta Didik
Pada komponen peserta didik berbasis sekolah mempunyai 10 (sepuluh) indikator minimal, yaitu:
1. Cakupan “pengelolaan peserta didik” di sekolah meliputi penerimaan, penempatan, dan pelayanan sehari-hari di sekolah.
2. Penerimaan peserta didik memberi kesempatan kepada semua anak usia SD, dari berbagai latar belakang status ekonomi, sosial, agama, bangsa/suku bangsa.
3. Prosedur penerimaan peserta didik dilakukan secara transparan, mulai dari pengumuman pendaftaran, proses seleksi, hingga pengumuman penerimaan.
4. Pelayanan prima kepada peserta didik, sejak siswa diterima menjadi peserta didik, hingga pada melaksanakan kegiatan sehari-hari, dengan memperhatikan minat, bakat, dan kebutuhan khusus peserta didik.
5. Sekolah memiliki dokumen buku induk peserta didik.
6. Sekolah memiliki dokumen kehadiran peserta didik.
7. Sekolah memiliki dokumen mutasi peserta didik.
8. Sekolah memiliki papan statistik peserta didik (yang menggambarkan tentang jumlah siswa laki-laki dan perempuan di setiap kelas, jumlah lulusan setiap tahun, jumlah siswa melanjutkan setiap tahun, jumlah siswa berdasarkan usia).
9. Sekolah memiliki dokumen pembinaan terhadap peserta didik yang berada di kelas akhir.
10. Sekolah memiliki dokumen tentang alumni.

C. Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Pada pendidik dan tenaga kependidikan berbasis sekolah mempunyai 8 (delapan) indikator minimal, yaitu:
1. Pembagian tugas guru yang jelas dan terpajang.
2. Sekolah memiliki agenda kegiatan pelatihan internal sekolah dan/atau tingkat gugus bagi guru dan kepala sekolah.
3. Minimal 50% dari jumlah guru yang ada telah mengikuti pelatihan professional.
4. Kepala sekolah memiliki program dan/atau agenda supervise pembelajaran.
5. Kepala sekolah memilki agenda kegitan untuk memfasilitasi guru yang mengalami kesulitan dalam menyusun perangkat dan mengimplementasikan pembelajaran.
6. Sekolah memmilik agenda kegiatan pertemuan rutin untuk mengevaluasi dan menyusun kinerja sekolah.
7. Minimal 25% guru menghasilkan produk inovatif dan kreatif (alat peraga, hasil penelitian, karya ilmiah popular,kreasi seni dan lain-lain.
8. Sekolah menerapkan sistem penghargaan.

D. Sarana dan Prasarana
Pada sarana dan prasarana berbasis sekolah mempunyai 11 (sebelas) indikator minimal, yaitu:
1. Sekolah memiliki buku inventaris asset.
2. Sekolah memiliki tempat penyimpanan peralatan sekolah.
3. Rasio antara ruang kelas dan rombongan belajar 1:1.
4. Sekolah memiliki ruang guru yang bersih dan rapi.
5. Standar luas ruangan kelas ( 8m x 8m) untuk 32 peserta didik.
6. Sekolah memiliki toilet, bersih, tidak berbau, rasio minimal 1:32 yang terpisah antara laki-laki dan perempuan.
7. Sekolah memiliki halaman yang bersih dan tertata rapi.
8. Sekolah memiliki pagar yang rapi.
9. Sekolah memiliki media pembelajaran/alat peraga sederhana hasil karya guru dan siswa.
10. Sekolah memiliki sudut baca/mini library yang tertata rapi dan termanfaatkan sebagai sumber belajar peserta didik.
11. Sekolah menyediakan tempat sampah minimal satu set yang terdiri dari tiga jenis sampah(organic, plastic dan kertas, kaca besi dan seng).

E. Pembiayaan
Pada pembiayaan berbasis sekolah mempunyai 14 (empat belas) indikator minimal, yaitu:
1. Sekolah memiliki Rencana Kerja Sekolah (RKS) secara terpadu yang disusun berdasarkan analisis kebutuhan peningkatan mutu pendidikan dan dipetakan untuk jangka waktu menengah (4 tahun).
2. Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Sekolah (RKAS) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari RKS untuk jangka waktu 1 tahun, dilaksanakan secara transparan, terpadu, berdasarkan skala prioritas, partisiaptif dan akuntabel.
3. Transparansi dokumen RKAS dan penggunaannya melalui (dipajang, website sekolah,laporan tertulis secara rutin).
4. Sekolah memiliki inisiatif mencari dana tambahan di luar dana BOS.
5. Minimal 70% dana sekolah dialokasikan untuk peningkatan mutu.
6. Sekolah membuat pembukuan yang tertib, rapi dan dapat dipertanggung jawabkan.
7. Hubungan sekolah dengan masyarakat.
8. Sekolah memiliki nota kesepakatan (MOU) kerja sama dengan lembaga pendidikan dan non pendidikan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan.
9. Sekolah memiliki agenda kegiatan/rencana aksi untuk sosialisasi/promosi program sekolah.
10. Sekolah mengadakan open house di akhir tahun pelajaran kepada masyarakat.
11. Sekolah memiliki pengurus komite sekolah.
12. Sekolah memiliki agenda kegiatan bakti sosial di lingkungan sekitar sekolah.
13. Sekolah memiliki agenda kegiatan pertemuan rutin dengan orang tua peserta didik dan komtie sekolah.
14. Komite sekolah dan/atau orang tua peserta didik terlibat dalam penyusunan program dan anggaran sekolah.

F. Hubungan sekolah dengan masyarakat
Pada hubungan sekolah dengan masyarakat berbasis sekolah mempunyai 7 (tujuh) indikator minimal, yaitu:
1. Sekolah memiliki nota kesepakatan (MOU) kerja sama dengan lembaga pendidikan dan non pendidikan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan
2. Sekolah memiliki agenda kegiatan/rencana aksi untuk sosialisasi/promosi program sekolah.
3. Sekolah mengadakan open house di akhir tahun pelajaran kepada masyarakat.
4. Sekolah memiliki pengurus komite sekolah.
5. Sekolah memiliki agenda kegiatan bakti sosial di lingkungan sekitar sekolah.
6. Sekolah memiliki agenda kegiatan pertemuan rutin dengan orang tua peserta didik dan komtie sekolah.
7. Komite sekolah dan/atau orang tua peserta didik terlibat dalam penyusunan program dan anggaran sekolah.

G. Budaya dan lingkungan sekolah
Pada budaya dan lingkungan sekolah berbasis sekolah mempunyai 5 (lima) indikator minimal, yaitu:
1. Sekolah menerapkan 7 K ( kebersihan, ketertiban, kesehatan, keindahan, kekeluargaan, keamanan, kerindangan).
2. Sekolah memiliki agenda kegiatan budaya baca bagi peserta didik dan guru.
3. Sekolah memiliki tata tertib sekolah, kode etik sekolah, peraturan akademik hasil rumusan bersama antara sekolah, orang tua dan perwakilan peserta didik dan terpampang secara komunikatif.
4. Sekolah memiliki agenda kegiatan aksi bersih sekolah (jumat bersih, sabsih).
5. Sekolah memiliki program pembiasaan (berperilaku sopan, berbicara santun, berperilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, amanah, menepati janji, empati kepada sesame sesama) dan terpampang secara komunikatif.

Keyword terkait:
indikator implementasi mbs, indikator keberhasilan mbs pdf, indikator implementasi manajemen berbasis sekolah, indikator keberhasilan mbs, indikator penerapan mbs

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *