Implikasi Teori Vygotsky Dalam Pendidikan Anak Usia Dini

By | 21/10/2020

AsikBelajar.Com | Teori Vygotsky mempunyai beberapa implikasi yang jelas untuk Pendidikan. Seperti Piaget, Vygotsky menekankan belajar aktif dari pada belajar pasif dan memberi perhatian besar kepada apa yang telah diketahui pembelajar sehingga dapat memperkirakan apa yang telah dipelajarinya.
Perbedaan utama dalam pendekatan belajar menyangkut peranan guru/pendidik, di mana anak dalam kelas Piaget lebih banyak menghabiskan #5.30

waktu belajar sendiri dan melakukan kegiatan berdasarkan penemuan. Sementara guru/pendidik menurut Vygotsky lebih menyukai keterlibatan siswa terbimbing, di mana ia menyusun kegiatan belajar, memberikan pelajaran atau saran yang dapat membantu siswa, yang secara hati-hati disesuaikan dengan kemampuan anak saat itu. Guru, kemudian memonitor kemajuan belajar, secara bertahap berubah lebih kepada aktivitas mental siswanya. Guru mungkin juga mengatur latihan belajar berkolaborasi dimana anak didorong untuk saling membantu satu sama lain. Tujuannya adalah agar anggota kelompok yang paling kurang mampu mendapatkan keuntungan yaitu berupa pelajaran yang diterima dari teman kelompok yang lebih mampu, di mana teman yang lebih mampu tersebut juga diuntungkan dengan berperan sebagai guru (Palinscar, Brown & Campione, 1993).

Apakah terdapat bukti bahwa pendekatan Belajar Kolaboratif dari Vygotsky merupakan strategi pendidikan yang efektif‘? Pertimbangkan apa yang ditemukan Lisa Freund (1990) berikut ini.

Dalam penelitian Lisa Freund, anak-anak berumur 3-5 tahun membantu sebuah boneka dalam memutuskan mainan perabotan mana (misalnya sofa, tempat tidur, dan lain-Iain yang harus ditempatkan dalam rumah boneka yang mempunyai 6 ruang yang akan ditempati boneka tersebut. Pertama, anak-anak dicoba untuk menetapkan apa yang telah mereka ketahui tentang penempatan perabotan yang benar. Kemudian, masing-masing anak mengerjakan tugas yang sama, baik bekerja sendirian atau bersama ibunya. Lalu untuk menilai apa yang telah mereka pelajari, anak-anak mendapat tugas menyelesaikan pemilihan perabotan. Hasilnya jelas anak yang dibantu ibunya menunjukkan kemajuan yang pesat dalam kemampuan memilih, sementara anak yang bekerja sendirian (tanpa dibantu ibunya) hanya menunjukkan sedikit kemajuan meskipun mereka telah menerima umpan balik dari peneliti untuk mengoreksi apa yang mereka lakukan. Keuntungan yang sama dalam memecahkan masalah telah ditemukan pada saat anak berkolaborasi dengan temannya, dibandingkan dengan bekerja sendiri (Azmitia, 1992; Gauvain & Rogoffd, 1989; Johnson & Johnson, f 1987) dan anak yang paling banyak belajar dalam kolaborasi ini adalah anak yang paling kurang mampu dibandingkan teman-temannya (Azmitia, 1988; Tudge, 1992). Johnson & Johnson (1987) melakukan analisis terhadap 378 penelitian yang membandingkan pencapaian orang yang bekerja sendirian dengan mereka yang bekerja berkolaborasi, dan menemukan bahwa belajar berkolaborasi menghasilkan kinerja yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang bekerja sendiri. #5.31

Paling tidak ada 3 alasan mengapa belajar berkolaborasi efektif. Pertama, anak sering lebih termotivasi ketika mengerjakan masalah bersama (Johnson & Johnson, 1989). Kedua, belajar berkolaborasi menuntut anak menjelaskan ide-ide mereka satu sama lain. Kegiatan ini memungkinkan anak untuk menilai ide-ide mereka sendiri dan menjadi lebih baik dalami mengemukakannya sehingga bisa dimengerti orang lain. Ketiga, anak lebmi dapat menggunakan strategi kognitif berkualitas tinggi ketika bekeijag bersama, yaitu strategi yang sering mengarahkan pada ideide dan pemecahang masalah yang hanya dapat dihasilkan dengan bekerja sama dalam kelompokj (Johnson & Johnson,1989).

Sebagaimana aspek lainnya dalam teori sosiokultural, keefektifan dari belajar berkolaborasi bervariasi tergantung pada budaya. Anak-anak Amerika yang terbiasa ”melakukan kerja sendiri” kadang-kadang merasa sulit menyesuaikan diri dalam pengambilan keputusan kelompok dalam belajar berkolaborasi (Rogoff, 1997) meskipun mereka menjadi lebih baik dalam pengambilan keputusan bersama (Socha & Sacha, 1994). Sejalan dengan berubahnya struktur sekolah yang lebih mendukung kerja sama antar teman serta perubahan peranan guru yang lebih aktif berpartisipasi dalamg pengalaman belajar anak dan bukan sebagai penentu kegiatan makai efektivitas penggunaan belajar berkolaborasi pun meningkat.

Jadi anak tidak selalu belajar lebih banyak dengan bertindak sebagaii seorang penjelajah dan mencari penemuan sendiri, sebagaimana yang dikemukakan Piaget. Sering kali, perkembangan konseptual anak menjadi lebih siap melalui interaksi dengan orang lain, khususnya dengan orang yang kompeten yang menyediakan petunjuk dan dukungan. Orang tersebut mungkin orang tua, guru atau teman, dan keefektifan kolaborasi ini akan bervariasi tergantung pada keahliannya dalam scaffolding dan bekerja dalam zona perkembangan proximal. #5.32.

Sumber:
Aisyah, Siti. 2008. Materi Pokok Perkembangan dan Konsep dan Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional. Hal. 5.30-5.32.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *