Hukuman yang Tepat dan Bijak Sebagai Alat Motivasi Belajar

AsikBelajar.Com | Meski hukuman sebagai reinforcement yang negatif, tetapi bila dilakukan dengan tepat dan bijak akan merupakan alat motivasi yang …130

Bentuk motivasi belajar

baik dan efektif. Hukuman akan merupakan alat motivasi bila dilakukan dengan pendekatan edukatif, bukan karena dendam. Pendekatan edukatif dimaksud di sini sebagai hukuman yang mendidik dan bertujuan memperbaiki sikap dan perbuatan anak didik yang dianggap salah. Sehingga dengan hukuman yang diberikan itu anak didik tidak mengulangi kesalahan atau pelanggaran. Minimal mengurangi frekuensi pelanggaran. Akan lebih baik bila anak didik berhenti melakukannya di hari mendatang.

Sanksi berupa hukuman yang diherikan kepada anak didik yang melanggar peraturan atau tata tertib sekolah dapat menjadi alat motivasi dalam rangka meningkatkan prestasi belajar. Asalkan hukuman yang mendidik dan sesuai dengan berat ringannya pelanggaran. Hukuman yang tak mendidik misalnya memukul anak didik yang terlambat masuk kelas hingga luka, menjewer telinga anak didik yang tidak mengerjakan tugas hingga menangis, dan tindakan lainnya. Tindakan ini kurang bijaksana dalam pelndidikan. Karena tindakan itu berpotensi mendatangkan permusuhan dan kebencian anak didik terhadap guru. Guru akan dijauhi oleh setiap anak didik yang pernah disakiti. Kerawanan hubungan guru dengan anak didik tak dapat dielakkan. Konsekuensinya, prestasi belajar untuk mata pelajaran yang dipegang oleh guru yang pemah memukul anak itu menjadi rendah, karena anak didik telah membenci, baik guru maupun mata pelajaran yang dipegangnya.

Oleh karena itu, hukuman hanya diberikan oleh guru dalam konteks mendidik seperti memberikan hukuman berupa menbersihkan kelas, menyiangi rumput di halaman sekolah, membuat resume atau ringkasan, menghapal sebuah atau beberapa ayat Alquran, menghapal beberapa kosa kata bahasa Arab atau bahasa Inggris, atau apa saja dengan tujuan mendidik. …131

Sumber:
Djamarah, Syaiful Bahri, 2000. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Hal.130-131.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *