Hakikat dan Konsep Permainan Sains AUD - AsikBelajar.Com

Hakikat dan Konsep Permainan Sains AUD

AsikBelajar.Com | Artikel ini mengulas tiga bahasan terkait judul di atas, yakni: 1) Pengertian Sains, 2) Tujuan Pembelajaran Sains, dan 3) Pembelajaran Sains bagi AUD. Untuk jelasnya, dalam uraian di bawah ini:

1. Pengertian Sains
Sains atau science berasal dari bahasa latin yaitu Scientia artinya pengetahuan yang tersusun atau terorganisasi secara sistematis (Nugraha, 2005:3). Conant (dalam Nugraha, 2008:3) mendefenisikan sains sebagai suatu deretan konsep serta skema konseptual yang berhubungan satu sama lain. Yang tumbuh sebagai hasil serangkaian percobaan dan pengamatan serta dapat diamati dan di uji coba lebih lanjut. Sains berhubungan erat dengan kegiatan penelusuran gejala dan fakta-fakta alam yang ada di sekitar anak. Artinya Sains sebagai suatu ilmu pengetahuan tentang alam sekitar yang merupakan proses yang berisikan teori atau konsep yang diperoleh melalui pengamatan dan penelitian. Sejalan dengan #150

dimekukakan oleh Muiz (2008: 11.4) bahwa eksperimen atau percobaan adalah suatu kegiatan yang di dalamnya dilakukan percobaan dengan cara mengamati proses dan hasil dari percobaan tersebut. Secara konseptual menurut Amien (dalam Nugraha, 2005:3), sains sebagai bidang ilmu alamiah dengan ruang lingkup zat dan energy yang terdapat pada makhluk hidup dan tak hidup, lebih membahas tentang alam seperti fisika, kimia, dan biologi.

2. Tujuan Pembelajaran Sains
Dalam taksonomi Bloom (Trianto, 2010: 142), dijelaskan bahwa, tujuan pembelajaran IPA diharapkan dapat memberikan pengetahuan (kognitif) yaitu pengetahuan dasar dari prinsip dan konsep yang bermanfaat dalam kehiduan sehari-hari. Selain itu, pembelajaran sains juga diharapkan dapat memberikan keterampilan (psikomotorik), kemampuan sikap ilmiah (afektif), pemahaman, kebiasaan dan apresiasi. Anak adalah ilmuan, dimana anak dilahirkan membawa sesuatu keajaiban dan dorongan rasa ingin tahu untuk menyelidiki dan mencari tahu tentang apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan dilingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, Piaget (dalam Sujiono, 1993: 54) menyatakan bahwa pengetahuan tidak hanya interaksi langsung indera dengan kenyataan, tetapi juga harus ada pemikiran tentang perubahan, untuk mendapatkan pengetahuan yang ada di alam ini dengan menggunakan percobaan/eksperimen.

Menurut Sujiono (2005:12.3) permainan sains di Taman Kanak Kanak bertujuan agar anak memiliki kemampuan: a) Mengamati perubahan- perubahan yang terjadi disekitarnya. b) Melakukan percobaan-percobaan sederhana, seperti biji buah yang ditanam akan tumbuh. c) Melakukan kegiatan membanding, memperkirakan, mengklasifikasikan serta meng- komunikasikan tentang sesuatu sebagai hasil sebuah pengamatan yang sudah dilakukannya. d) Meningkatkan kreatifitas yang keinovasian, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan alam, sehingga anak akan dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Lebih lanjut Suyanto (2005:83) mengungkapkan bahwa pengenalan sains untuk anak Taman Kanak-kanak lebih ditekankan pada proses daripada produk. Proses #151

sains dikenal dengan metode ilmiah, yang secara garis besar meliputi:
1) observasi, 2) menemukan masalah, 3) melakukan percobaan, 4) menganalisis data, 5) mengambil kesimpulan. Untuk anak TK keterampilan proses sains hendaknya dilakukan secara sederhana sambil bermain. Kegiatan sains memungkinkan anak untuk melakukan eksplorasi terhadap berbagai benda, baik benda hidup maupun benda yang tidak hidup yang ada disekitarnya.

Dengan demikian, Kegiatan sains bagi anak dapat mendorong kemampuan kognitifnya. Kegiatan sains yang dikemas dan dirancang dengan apik akan membuat anak membangun pengetahuan yang lebih bermakna. Karena sains bagi anak adalah sesuatu yang menakjubkan, sesuatu yang ditemukan dan dianggap menarik serta memberikan pengetahuan atau merangsangnya untuk mengetahui dan menyelidikinya (Nugraha, 2005:14). Sebagaimana yang dikemukakan oleh Piaget dalam Hildayani (2007:3.3) mengungkapkan bahwa perkembangan kognitif itu meliputi kemampuan seseorang untuk merasakan dan mengingat, serta membuat alasan dan imajinasi. Muzi Marpaung (2010) mengemukakan bahwa kegiatan eksperimen merupakan pintu yang menyenangkan untuk memasuki dunia sains. Kalau dilakukan di masa kanak-kanak, maka ia berpotensi besar untuk menjadi memori masa kecil yang menyenangkan. Salah satu hasil penelitian menyebutkan bahwa kecerdasan anak pada usia empat tahun sudah mencapai 50 persen. Kapasitas itu akan meningkat hingga 80 persen pada usia delapan tahun. Hal Ini menunjukkan pentingnya memberikan stimulasi pada anak usia dini mengenai sains dalam keadaan bermain sesuai dengan tahapan perkembangannya. Sebab dalam kegiatan bermain tersebut dapat berisi beberapa macam situasi, di mana anak dapat menemukan dan memecahkan masalah. Bermain menyediakan kesempatan untuk menjelajah dan mengalami sendiri berbagai macam solusi pada masalah yang sebenarnya.

3. Pembelajaran Sains bagi AUD
P embelajaran sains bagi anak memiliki peranan yang sangat penting dalam membantu perkembangan kognitif pada anak usia dini. Kesadaran #152

pentingnya pembekalan sains pada anak akan semakin tinggi apabila menyadari bahwa kita hidup pada dunia yang dinamis, berkembang dan berubah secara terus menerus bahkan makin menuju masa dewasa, semakin kompleks ruang lingkupnya, dan tentunya akan semakin memerlukan sains. Selanjutnya permendiknas No. 58 (2009), tentang menu generik pendidikan anak usia dini, menyatakan bahwa pembelajaran sains pada anak usia dini dilakukan sebagai proses pengenalan dan penguasaan pada taraf sederhana. Oleh karena itu, pendekatan yang tepat digunakan yaitu mengintegrasikan atau menyisipkan pembelajaran sains pada program pembelajaran. Penyisipan pembelajaran sains pada program pendidikan anak usia dini dalam suasana bermain (by learning playing) merupakan sesuatu yang perlu diperhatikan, sebab karakteristik anak dalam merespon sesuatu dalam makna sebagai permainan (Saepudin: 2012). Sebagaimana anak mendapatkan lebih banyak pengalaman dari dunia sekeliling mereka, mereka sering membutuhkan pertolongan dalam mengorganisasi hasil belajar yang spesifik (terarah pada suatu konsep). Beaty (Aisyah, 2011:5.33) telah mengorganisasi sejumlah pengembangan konsep yang muncul secara sistematis melalui beberapa program pengembangan kognitif pada anak usia dini yaitu antara lain: bentuk, warna, ukuran, pengelompokan dan pengurutan. Dari semua program pengembangan tersebut dapat diarahkan melalui kegiatan sains. Jadi, guru harus meyakini bahwa setiap anak memiliki kemauan dan kemampuan sendiri untuk menemukan dan membangun pengetahuan, nilai-nilai dan pengalaman masing-masing, sehingga guru dituntut untuk merancang sekaligus melaksanakan kegiatan pembelajaran, dimana guru sebagai pembimbing, fasilitator, dan juga motivator terhadap peserta didik untuk membangkitkan kemauan dan kemampuannya dalam mencari, menemukan, menyimpulkan dan mengkomunikasikan pengetahuan dan pengalaman belajarnya. Hal yang perlu menjadi landasan seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran adalah pembelajaran harus melibatkan keaktifan anak secara penuh (active learning) (Trianto, 2010: 8).

Kemampuan dasar IPA di Taman Kanak-kanak dapat dilakukan dengan jalan belajar mengamati, mengemukakan alasan, dan mengklasifikasi benda-benda yang diamati. #153

a. Observasi
Pada waktu anak melakukan pengamatan atau observasi, anak belajar menggunakan fungsi panca inderanya seoptimal mungkin, seperti melihat, mendengar, mencium, merasa dan meraba. Forman dan Kruscher (1977) menyarankan empat tahap yang perlu dilakukan pada waktu anak sedang melakukan pengamatan, yaitu: a) mengidentifikais bagian- bagian dari objek, b) memperhatikan benda dari sudut lain, c) membandingkan benda yang diamati dengan yang lain, d) menghubungkan struktur yang dimiliki benda yang diamati dengan fungsi dari objek tersebut.

b. Mengemukakan alasan atau menjelaskan
Kemampuan mengemukakan alasan atau menjelaskan tentag peristiwa- pristiwa yang dialami, mengharuskan anak untuk berfikir, khususnya yang berkaitan dengan sebab akibat. Pada waktu anak sedang melakukan pengamatan, tanyakan kepada mereka apa yang mereka amati dengan mnegajukan berbagai pertanyaan seperti: “Apa yang kamu lihat? “Mengapa demikian?”, “bagaimana pendapatmu tentang hal itu?”

c. Klasifikasi
Dalam melakukan kegiatan mengklasifikasi benda, objek, dan peristiwa, anak tidak hanya mengamati tetapi juga berpikir, sehingga ia dapat memilih dan meletakkan benda, objek atau peristiwa sesuai dengan klasifikasinya. Seprti benda yang dapat diklasifikasikan sebagai mainan mobil-mobilan, kuda-kudaan, boneka, gambar orang yang sedang bergembira atau orang yang sedang sedih. (Jamaris, 2006:47-48) #154

Sumber:
Khadijah, 2016. Pengembangan Kognitif Anak Usia Dini. Medan: Perdana Publishing. Hal. 150-156.

Related Posts

AsikBelajar.Com

Blogger biasa yang berdomisili di Banjarmasin dan berharap blog ini bermanfaat buat pelajar, mahasiswa & masyarakat umum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 AsikBelajar.Com - Theme by WPEnjoy · Powered by WordPress