Guru Sebagai Pribadi Kunci dalam Mendidik

By | 17/01/2020

AsikBelajar.Com | Secara keseluruhan guru adalah figur yang menarik perhatian semua orang, entah dalam keluarga, dalam masyarakat atau di sekolah. Tidak ada seorang pun yang tidak mengenal figur guru. Hal ini dikarenakan figur guru itu bermacam-macam seperti guru silat, guru mengaji, guru vak., guru mata pelajaran, Ki ajar, bhatara guru, maha guru, dan sebagainya.

Apa pun istilah yang dikedepankan tentang figur guru, yang pasti semua itu merupakan penghargaan yang diberikan terhadap jasa guru yang banyak mendidik umat manusia dari dulu hingga sekarang. Masyarakat melihat figur guru sebagai manusia serba bisa tanpa cela dan nista. Mereka melihat guru sebagai figur yang kharismatik. Kemuliaan seorang guru tercermin dari kepribadian sebagai manifestasi dari sikap dan perilaku dari kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, … 70

sedikit cela dan nista dari pribadi guru, maka masyarakat akan mencaci makinya habis-habisan dan hilanglah wibawa guru itu.

Di sekolah, figur guru merupakan pribadi kunci. Gurulah panutan utama bagi anak didik. Semua sikap dan perilaku guru akan dilihat, didengar, dan ditiru oleh anak didik. Ucapan guru dalam bentuk perintah dan larangan harus dituruti oleh anak didik. Sikap dan perilaku anak didik berada dalam lingkaran tata tertib dan peraturan sekolah. Guru mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk mendidikkan anak didik. Guru mempunyai hak otoritas untuk membimbing dan mengarahkan anak didik agar menjadi manusia yang berilmu pengetahuan di masa depan. Tidak ada sedikit pun tersirat di dalam benak guru untuk mencelakakan anak didik dan membelokkan perilakunya ke arah jalan yang tidak baik.

Sebagai pribadi yang selalu digugu dan ditiru, tidaklah berlebihan bila anak didik selalu mengharapkan figur guru yang senantiasa memperhatikan kepentingan mereka. Figur guru yang selalu memperhatikan kepentingan anak didik biasanya mendapatkan, ekstra perhatian dari anak didik. Anak didik senang dengan sikap dan perilaku yang baik yang diperlihatkan oleh guru. Seperti. dikutip oleh Syaiful Bahri Djamarah (1994: 61 ), Frend W, Hart telah melakukan penelitian terhadap 3.725 orang anak didik HIG HTS School di Amerika Serikat. Dari hasil penelitiannya itu, dia menyimpulkan dengan mengemukakan sepuluh sikap yang baik dan disenangi anak didik sebagai berikut.

1. Suka menolong pekerjaan sekolah dan menerangkan pelajaran dengan jelas dan mendalam serta menggunakan contoh-contoh yang baik dalam mengajar.

2. Periang dan gembira, memiliki perasaan humor dan suka menerima lelucon atas dirinya.

3. Bersikap bersahabat, merasa sebagai seorang anggota dalam kelompok kelas.

4. Menaruh perhatian dan memahami anak didiknya.

5. Berusaha agar pekerjaan menarik, dapat membangkitkan keinginankeinginan bekerja sama dengan anak didik. …71

6. Tegas sanggup menguasai kelas dan dapat membangkitkan rasa hormat pada anak didik.

7. Tidak ada yang lebih disenangi, tak pilih kasih, dan tak ada anak emas atau anak tiri.

8. Tidak suka mengomel, mencela, dan sarkastis.

9. Anak didik benar-benar merasakan bahwa ia mendapatkan sesuatu dari guru.

10. Mempunyai pribadi yang dapat diambil contoh dari pihak anak didik dan masyarakat lingkungannya.

Diakui memang ada juga guru yang tidak disukai oleh anak didik di sekolah. Guru yang tidak disenangi oleh anak didik itu disebabkan budi pekerti guru dalam pandangan anak didik tidak baik. Dari waktu ke waktu guru juga tidak terlepas dari pengamatan anak didik. Paling sedikit setahun, guru dan anak didik hidup bersama-sama dan dalam rentangan waktu bukan tak mungkin semua sikap dan perilaku guru terlepas dari pengamatan anak didik. Dalam pertemuan panama sekolah pun anak didik sudah mulai menilai siapa guru itu sebenarnya. Karena anak didik mempunyai pandangan tersendiri terhadap guru-guru yang akan mengajar dan mendidiknya. Ada beberapa sifat-sifat guru yang tidak disukai oleh anak didik sebagai berikut.

1. Guru yang sangat sering marah-marah, suka merepek, tak pernah tersenyum, suka menghina, sarkastis, lekas mengamuk.

2. Guru yang tidak suka membantu dalam pekerjaan sekolah, tidak menerangkan pelajaran. dan tugas-tugas dengan jelas.

3. Guru yang tidak adil, mempunyai anak-anak kesayangan, membenci anak-anak tertentu.

4. Guru yang tinggi hati, menganggap dirinya lebih dari orang lain, ingin berkuasa dan menunjukkan kelebihannya, tidak mengenal anak didik di luar sekolah.

5. Guru yang berhati busuk tak karuan, tak toleran, bertabiat kasar, terlampau keras dan kaku, menyusahkan hidup anak di dalam kelas. …72

6. Guru yang tidak adil dalam memberi angka, dalam ulangan dan ujian.

7. Guru yang tidak mengacuhkan perasaan anak didik, membentak-bentak anak didik di depan anak-anak lain, anak-anak takut dan tak senang.

8. Guru yang tak menaruh minat terhadap anak-anak dan tidak memahami mereka.

9. Guru yang memberi tugas dan pekerjaan rumah yang bukan-bukan.

10. Guru yang tak dapat menjaga ketertiban di kelas, tak dapat mengendalikan kelas, tidak menimbulkan respek dari anak didik.
Dari uraian di atas jelas bahwa yang dikehendaki oleh anak didik bukan hanya kecakapan guru mengajar di kelas, melainkan yang lebih penting adalah kepribadian guru. Kepribadian guru itulah yang turut menentukan apakah belajar di kelas merupakan suatu penderitaan atau kebahagiaan bagi anak didik. …73

Sumber:
Djamarah, Syaiful Bahri, 2000. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.Hal. 70-73.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *