Fungsi dan Jenis Lingkungan Sekolah - AsikBelajar.Com

Fungsi dan Jenis Lingkungan Sekolah

AsikBelajar.Com | Ada tiga bahasan pokok yang membahas tentang Fungsi dan Jenis lingkungan Sekolah dalam artikel ini, yaitu: 1) Pengertian Dan Fungsi Lingkungan Pendidikan, 2) Tripusat Pendidikan, dan 3) Pengaruh Timbal Balik Tripusat Pendidikan Terhadap Perkembangan anak, dengan uraian bahasan lengkap seperti di bawah ini:

1. Pengertian Dan Fungsi Lingkungan Pendidikan
Manusia selama hidupnya selalu akan mendapat pengaruh dari keluarga Sekolah, dan masyarakat luas. Ketiga lingkungan itu sering disebut sebagai tripusat pendidikan, yang akan mempengaruhi manusia secara berfariasi. Seperti diketahui, setiap bayi manusia dilahirkan dalam lingkungan keluarga tertentu, yang merupakan lingkungan pendidikan terpenting sampai anak masuk taman kanak-kanak ataupun sekolah. Oleh karena itu keluarga sering dipandang sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama. Makin berambah usia manusia, peranan sekolah dan masyarakat luas makin penting, namun peran kelurga tidak terputus.

Manusia memiliki sejumlah kemampuan yang dapat dikembangkan melalui pengalaman. Pengalaman itu terjadi karena interaksi manusia dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial manusia secara efisien dan efektif itulah yang disebut pendidikan. Dan latar tempat berlangsungnya pendidikan itu disebut lingkungan pendidikan, khususnya pada tiga lingkungan utama yakni keluarga sekolah dan masyarakat (Tirtaraharja & Sulo, 2005). Seperti diketahui, lingkungan pendidikan pertama dan utama keluarga. Makin bertambah usia seseorang, peranan lingkungan pendidikan lainnya (yakni sekolah dan masyarakat) semakin penting meskipun pengaruh lingkungan keluarga masih tetap berlanjut.

Berdasarkan perbedaan ciri-ciri penyelenggaraan pendidikan pada ketiga pendidikan itu, maka ketiganya sering dibedakan sebagai pendidikan informal, pendidikan formal, dan pendidikan nonformal. Pendidikan yang terjadi dalam lingkungan keluarga berlangsung secara alamiah dan wajar serta disebut pendidikan informal. Sebaiknya, pendidikan di sekolah adalah pendidikan yang secara sengaja dirancang dan dilaksanakan dengan aturan-aturan yang ketat, seperti harus berjenjang dan berkesinambungan sehingga disebut pendidikan formal. #61

Sedangkan pendidikan di lingkungan masyarakat (umpamanya kursus dan kelompok belajar) tidak dipensyaratkan berjenjang dan berkesinambungan, serta dengan aturan-aturan yang lebih longar sehingga disebut pendidikan nonformal. Pendidikan informal, formal, dan nonformal itu sering dipandang sebagai subsistem dari sistem pendidikan (Tirtarahardja & Sulo, 2005). Sebagai pelaksana pasal 3l Ayat 2 dari UUD 1945, telah ditetapkan UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas (beserta peraturan pelaksanaanya) yang menata kembali pendidikan di Indonesia, termasuk lingkungan pendidikan. Sisdiknas itu membedakan dua jalur pendidikan, yakni jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikaan luar sekolah.

Jalur pendidikan sekolah adalah pendidikan yang diselenggarakan disekolah melalui kegiatan belajar-mengajar yang berjenjang dan berkesinambungan, mulai dari pendidikan prasekolah (taman kanak- kanak) pendidikan dasar (SD dan SLTP), pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Sedangkan jalur pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah melalui kegiatan belajar mengajar yang harus berjenjang dan berkesinambungan, baik yang dilembagakan maupun tidak, yang meliputi pendidikan keluarga, pendidikan prasekolah (seperti kelompok bermain dan penitipan anak), kursus, kelompok belajar, dan sebagainya.

Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya (fisik, sosial, dan budaya), utamanya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat dicapai tujuan pendidikan yang optimal. Penataan lingkungan pendidikan itu terutama dimaksudkan agar proses pendidikan dapat berkembang efisien dan efektif. Seperti diketahui, proses pertumbuhan dan perkembangan manusia sebagai akibat interaksi dengan lingkungannya akan berlangsung secara alamiah dengan konskuensi bahwa tumbuh berkembang itu mungkin berlangsung lambat dan menyimpang dari tujuan pendidikan.

Oleh karena itu, diperlukan berbagai usaha sadar untuk mengatur dan mengendalikan lingkungan itu sedimikian rupa agar dapat diperoleh peluang pencapaian tujuan secara optimal. Dan dalam waktu serta dengan daya atau dana yang seminimal mungkin. Dengan demikian, diharapkan mutu sumber daya manusia makin lama semakin meningkat. Hal itu hanya dapat diwujudkan apabila setiap lingkungan pendidikan tersebut dapat melaksanakan fungsi sebagaimana mestinya. #62

Masyarakat akan dapat berfungsi dengan sebaik-baiknya jika setiap individu belajar berbagai hal, baik pola-pola tingkah laku umum maupun peranan yang berbeda-beda. Untuk itu proses pendidikan harus berfungsi untuk mengajarkan tingkah laku umum dan untuk menyeleksi atau mempersiapkan individu untuk peranan-peranan tertentu. Sehubungan dengan fungsi yang kedua ini pendidikan bertugas untuk mengajarkan berbagai macam keterampilan dan keahlian.

Meskipun pendidikan informal juga berperan melaksanakan kedua fungsi tersebut, tetapi Sangat terbatas, khususnya dilaksanakan oleh masyarakat yang masih primitif. Pada masyarakat yang sudah maju, fungsi yang kedua dari pendidikan itu hampir sepenuhnya diambil alih oleh lembaga pendidikan formal. Pendidikan formal berfungsi untk mengajarkan pengetahuan umum dan pengetahuan-pengaahuan yang bersifat, khusus dalam rangka mempersiapkan anak untuk pekerjaan- pekerjaan tertentu.

Program umum yang diberikan oleh pendidikan formal didasarkan pada asumsi bahwa setiap anak harus memiliki pengetahuan umum seperti, pengetahuan membaca, menulis, dan berhitung. Di samping itu, program umum perlu dilakukan untuk memberikan dasar kebudayaan umum perlu dilakukan untuk memberikan dasar kebudayaan yang kuat demi kelangsungan hidup dan perkembangan masyarakat karena perkembangan industri yang membuat spesialisasi kemampuan dan keterampilan, maka pendidikan formal memberikan program yang berbeda-beda. Program pendidikan yang berbeda-beda yang mempersiapkan individu untuk berbagai posisi di dalam masyarakat amat menentukan peranan pendidikan untuk mengalokasikan individu-individu di berbagai posisi dalam masyarakat (Mudyohardjo, 1992).

Kemajuan masyarakat perkembangan ipteks yang semakin cepat, serta makin menguatnya era globalisasi akan mempengaruhi peranan dan fungsi ketiga lingkungan pendidikan itu Di samping terjadinya pergeseran peran seperti telah tampak pada keluarga modern, dituntut pula suatu peningkatan kualitas dari peran itu, sebagai contoh, di masa depan yang dekat, manusia Indonesia akan dihadapkan pada ”tiga budaya’’ antara lain budaya Indonesia dan budaya dunia. Oleh karena itu pemantapan jati diri setiap manusia Indonesia merupakan kunci keberhasilannya dalam memilih pengaruh’’tiga budaya” itu. #63

Pemantapan ketiga sisi tujuan pendidikan itu yakni manusia yang sadar akan harkat dan martabatnya menguasai ilmu pengetahuan dan memiliki suatu spesialisasi atau keterampilan tertentu yang disebut sebagai manusia seutuhnya. Di masa depan, ketiga sisi tersebut semakin penting karena harus mampu menyesuaikan diri dengm era globalisasisi dan kemajuan ipteks dan dari segi lain, harus mampu memenangkan persaingan yang semakin ketat dan tampil sebagai yang unggul dalam bidang spesialisasinya. Karena itu penigkatan fungsi ketiga lingkungan pendidikan, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama akan sangat penting dalam mewujudkan sumber daya manusia yang bermutu.

2. Tripusat Pendidikan
Manusia sepanjang hidupnya selalu akan menerima pengaruh dari tiga lingkungan pendidikan yang utama yakni keluarga, sekolah dan masyarakat, dan ketiganya disebut tripusat pendidikan. Lingkungan yang mula-mula tetap terpenting adalah keluarga. Pada masyarakat yang masih sederhana dengan struktur sosial yang belum kompleks, cakrawala anak sebagian besar masih terbatas pada keluarga. Pada masyarakat tersebut keluarga mempunyai dua fungsi: fungsi produksi dan fungsi konsumsi. Kedua fungsi ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap anak. Kehidupan masa depan anak pada masyarakat tradisional umumnya tidak jauh berbeda dengan kehidupan orang tuanya. Pada masyarakat tersebut, orang tua yang mengajar pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk hidup, orang tua pula yang melatih dan memberi petunjuk tentang berbagai aspek kehidupan, sampai anak menjadi usia dewasa dan berdiri sendiri.

Tetapi pada masyarakat modern di mana industrialisasi semakin berkembang dan memerlukan spesialisasi maka pendidikan yang semula menjadi tanggung jawab keluarga itu kini sebagian besar diambil alih oleh sekolah dan lembaga-lembaga sosial lainnya Pada tingkat paling permulaan fungsi ibu sebagian sudah diambil alih oleh sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Bahkan fungsi pembetukan watak dan sikap mental pada masyarakat modern berangsur-ansur diambil alih oleh sekolah dan organisasi sosial lainya, seperti perkumpulan pemuda dan pramuka, lembaga – lembaga keagamaan, media massa, dan sebagainya.

Meskipun keluarga kehilangan sejumlah fungsi yang semula menjadi tanggungjawabnya, namun keluarga masih tetap merupakan lembaga #64

yang paling dalam proses sosialisasi anak, karena keluarga yang memberikan tuntunan dan contoh-contoh semenjak masa anak sampai dewasa dan berdiri sendiri. Adanya perubahan fungsi keluarga mempunyai pengaruh besar terhadap proses pendidikan pada umumnya termasuk pendidikan formal. Dalam keluarga pada masyarakat yang belum maju, orang tua menerapakan sumber dan keterampilan yang diwariskan atau diajarkan kepada anak-anaknya.

Dalam keluarga semacam ini orang tua memegang otoritas sepenuhnya. Sebaliknya, dalam masyarakat modern orang tua harus membagi otoritas dengan orang lain, terutama guru dan pemuka masyarakat, bahkan dengan anak mereka sendiri yang memperoleh pengetahuan baru dari luar keluarga. Hubungan keluarga pun berubah dari hubungan yang besifat otoritatif menjadi hubungan yang bersifat kolegial. Dalam keluarga ini lebih dapat ditumbuhkan perasaan aman, saling menyayangi, dan sifat demokratis pada diri anak sebab keputusan yang diambil selalu dibicarakan bersama oleh seluruh anggota keluarga (Mudyohardojo, 1992).

Dalam peraturan Dasar Perguruan Nasional Taman Siswa (Putusan Kongres X tanggal 5 -6 Desember 1966) pasal 15 ditetapkan bahwa:
a. Untuk mencapai tujuan pendidikannya Taman siswa melaksanakan kerjasama yang harmonis antara ketiga pusat pendidikan yaitu:
1) Lingkungan keluarga
2) Lingkungan perguruan.
3) Lingkungan masyarakat/pemuda

b. Sistem pendidikan tersebut dinamakan sistem “Tripusat”. Bagi taman siswa, di samping siswa yang tetap tinggal di lingkungan keluarga sebagai siswa tinggal di asrama (Wisna Priya dan Wisnu Rini) yang dikelola secara kekeluargaan dengan menerapkan Sistem Among. Sedangkan pada lingkungan masyarakat, menerapkan penekanan pemupukan semangat kebangsaan (Suparlan, 1984).

3. Pengaruh Timbal Balik Tripusat Pendidikan Terhadap Perkembangan anak
Seperti diketahui tumbuh-kembang anak pada umumya, dipengaruhi oleh berbagai faktor yakni hereditas, lingkungan proses perkembangan dan anugerah khusus untuk faktor lingkungan, peranan tripusat pedidikan itulah yang paling menentukan, baik secara sendiri-sendirai ataupun secara bersama-sama. Dikaitkan dengan tiga poros kegiatan #65

utama pendidikan (membimbing, mengajar, dan melatih), peranan ketiga tripusat pendidikan itu bervariasi meskipun ketiganya melakukan tiga kegiatan pokok dalam pendidikan tersebut.

Kaitan antara tripusat pendidikan dengan tiga kegiatan pendidikan untuk mewujudkan jati diri yang mantap penguasaan pengetahuan dan kemahiran keterampilan. Setiap pusat pendidikan dapat berpeluang memberi kontribusi yang besar dalam ketiga kegiatan pendidikan yakni:
a. Pembimbingan dalam upaya pemantapan pribadi yang berbudaya.
b. Pengajaran dalam upaya penguasaan pengetahuan.
c. Pelatihan dalam upaya pemahiran keterampilan.

Konstribusi itu akan berada bukan hanya antar individu, tetapi juga faktor pusat pendidikan itu sendiri yang bervariasi di seluruh wilayah Nusantara. Namun kecenderungan umum, utamanya pada masyarakat modern, konstribusi keluarga pada aspek penguasaan pengetahuan dan pemahiran keterampilan makin mengecil dibandingkan dengan konstribusi sekolah dan masyarakat.

Selain peningkatan kontribusi setiap pusat pendidikan terbadap perkembangan anak, diprasyaratkan pula keserasian kontribusi itu, serta kerja sama yang erat dan harmonis antar pusat tersebut. Berbagai upaya dilakukan agar program-program pendidikan dari setiap pusat pendidikan tersebut saling mendukung dan mernperkuat antara satu dengan yang lainnya. Di lingkungan keluarga telah diupayakan berbagai hal (perbaikan gizi, permainan eduktif, dan sebagainya) yang dapat menjadi landasan perkembangan selanjutnya di sekolah dan masyarakat.

Lingkungan sekolah mengupayakan berbagai hal yang lebih mendekatkan sekolah dengan orang tua siswa (organisasi orang tua siswa, kunjungan rumah oleh personel sekolah dan sebagainya). Selanjutnya sekolah juga mengupayakan agar programnya berkaitan erat dengan masyarakat di sekitarnya (siswa ke masyarakat, narasumber dari masyarakat kesekolah dan sebagainya). Akhirnya lingkungan masyarakat mengusahakan berbagai kegiatan atau program yang menunjang atau melengkapi program keluarga dan sekolah. Dengan kontribusi tripusat pendidikan yang saling memperkuat dan saling melengkapi itu akan memberi peluang mewujudkan sumber daya manusia terdidik yang bermutu.

Di samping isi kurikulum, muatan lokal juga dapat berkaitan dengan cara penyampaian isi kurikulum tersebut. Cara penyampaian itu meliputi baik kegiatan intra-kurikuler, maupun ko-kurikuler ataupun ekstra- #66

kurikuler. Dalam cara penyampaian kurikulum, muatan lokal itu akan sangat meningkatkan kadar relevansi kurikulum dengan situasi dan kebutuhan setempat pemilihan atau metode atau teknik belajar mengajar, sumber belajar (termasuk narasumber), serta sarana pendukung lainya yang tersedia di sekitar siswa akan sangat bermanfaat mendekatkan siswa dengan lingkunganya, mengakrabkan dengan bidang-bidang keterampilan yang ada di sekitarnya, serta memahami daerahnya.

Dari segi lain perlu pula dikemukakan bahwa muatan lokal kurikulum memerlukan kajian secara cermat agar aspek kebhinnekaan itu tetap dalam latar memantapkan atau memperkaya ketunggalikaan. Muatan lokal didalam kurikulum tidak boleh menghambat mobilitas anak, baik secara horizontal maupun vertikal. Dengan kata lain, muatan lokal di dalam kurikulum harus diupayakan sedimikian rupa sehingga menghasilkan bukannya ”manusia lokal” akan tetapi “manusia nasional’’ di suatu lokal tertentu, yakni manusia lndonesia yang akrab dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, sebagai pribadi dengan jati diri Indonesia yang terintegrasi dengan masyarakat sekitarnya serta mampu mengembangkan minat dan kemampuannya yang khas untuk disumbangkan pada masyarakat.

Dalam petunjuk penerapan muatan lokal kurikulum dikemukakan beberapa tujuan yang lebih rinci dari muatan lokal tersebut yang dapat dikategorikan dalam beberapa kelompok, sebagai berikut:
a. Tujuan-tujuan yang segera dapat dicapai, yakni:
1) Bahan pengajarannya mudah diserap oleh murid.
2) Sumber belajar di daerah dapat lebih dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan.
3) Murid dapat menerapkan pengetahuan untuk memecahkan masalah yang ditemuinya di sekitarnya.
4) Murid lebih mengenal kondisi alam, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya terdapat di daerahnya.

b. Tujuan yang memerlukan waktu yang relatif lama untuk mencapainya, yakni:
1) Murid dapat meningkatkan pengetahuan mengenai daerahnya.

2) Murid diharapkan dapat menolong orang tuanya dan menolong dirinya sendiri, dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. #67

3) Murid menjadi akrab dengan lingkungannya dan terhindar dari keterasingan terhadap lingkungan sendiri.
Muatan lokal kurikulum tersebut seyogyanya makin diperluas atau ditingkatkan, agar dapat terlaksana dengan semestinya, berdasarkan tujuan muatan lokal, perluasan dan peningkatan muatan lokal dilakukan dengan memperhatikan:
a. GBPP/Silabus yang berlaku.
b. Sumberdaya yang tersedia.
c. Kekhasan lingkungan (alam, sosial, dan budaya) dan kebutuhan daerah.
d. Mobilitas murid.
e. Perkembangan dan kemampuan murid. Dengan demikian pendidikan akan mampu melaksanakan secara serentak fungsi pelestarian kebudayaan dan fungsi pengembangan dari kebudayaan yang diembannya itu. Sering dengan itu, sekolah sebagai pusat pendidikan akan lebih dekat dengan pusat-pusat lainya yakni keluarga dan masyarakat. Dengan demikian, tripusat pendidikan itu diharapkan dapat menunaikan tugasnya untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya dan membangun seluruh masyarakat Indonesia. #68

Sumber:
Husamah dkk. 2015. Pengantar Pendidikan. Malang: Universitas Muhamadiyah. Hal. 61-68.

Related Posts

AsikBelajar.Com

Blogger biasa yang berdomisili di Banjarmasin dan berharap blog ini bermanfaat buat pelajar, mahasiswa & masyarakat umum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2022 AsikBelajar.Com - Theme by WPEnjoy · Powered by WordPress