Dongeng Millenial Ternyata Mengerikan

By | 27/10/2020

AsikBelajar.Com | Seperti kebiasaanku sekarang ini, setiap pagi setelah sarapan adalah membuka hp bututku untuk update informasi lewat berbagai media. Biasanya aku mulai membuka browser Chrome milik raksasa dunia maya om Google, sehingga sering juga disebut Google Chrome. Alasannya sederhana, karena browser tersebut memiliki sajian tampilan muka yang sangat mudah untuk dilihat. Begitu aku buka, langsung terlihat informasi dari berbagai media online. Jadi bagiku membuka browser Google Chrome adalah sarapan keduaku.

Setelah membaca informasi-informasi yang aku pilih, biasanya aku lanjutkan membuka media sosial (medsos) yang bernama IG atau Instagram. Nah, disinilah cerita yang menurut aku “sangat penting” dan perlu untuk ditulis buat postingan blogku tercinta.
Bagaimana tidak, salah seorang teman dunia mayaku membuat tulisan “kadang dongeng tidak dimulai dengan “pada suatu hari” tetapi dengan “jika saya terpilih nanti, saya berjanji akan…..” persisnya seperti dalam gambar di bawah ini.

Dongeng millenial

Apa yang terpikir dalam benakku yang awam ini? Menurutku, negara ini dalam keadaan yang tidak normal dalam menjalankan demokrasinya. Bisa jadi negara ini dalam keadaan sakit, dan kondisi anak bangsa dengan pemerintahannya (mungkin juga terhadap pejabatnya) sudah tidak ada lagi rasa saling percaya. Analogiku langsung berandai-andai kedalam sebuah keluarga antara suami dan istri. Lalu pikiran berkhayal: bagaimana bila istri atau suami tidak ada kepercayaan dengan pasangannya? Dapat dipastikan jalannya rumah tangga tersebut tidak dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan untuk mendapatkan keluarga SaMaWa alias Sakinah, Mawadah, dan Warohmah. Bisa jadi jika diantara keduanya tidak ada yang menggalah atau kompromi kata perceraian hanya menunggu waktu saja.

Lalu bagaimana dengan kehidupan berbangsa dan bernegara di era revolusi 4.0 ini? Artinya suara anggota dewan yang duduk di parlemen sekarang tidak signifikan merupakan wakil dari rakyat atau konstituen dari masyarakat yang ada. Generasi millenial beranggapan, bisa jadi ada “permainan terselubung” sehingga mereka tidak mempercayai pemerintahan dan anggota dewan tersebut. Ucapan anggota dewan dan/atau calon eksekutif dalam hal ini mulai dari bupati/walikota, gubernur sampai presiden (baca: politikus) bila mereka berkampanye tidak lagi mereka dengar. Kaum millenial menganggap kata-kata yang keluar dari mereka tidak lebih dari dongeng pengantar tidur dikala mereka kecil. Artinya, kata-kata yang terucap di saat kampanye dianggap mereka banyak bohongnya saja.

Lalu, kalau dalam keluarga tinggal menunggu perceraian, nah kalau berdemokrasi tinggal menunggu revolusi saja. Wah ngerikan? Semoga negara yang kita cintai ini terhindar dari segala marabahaya yang menyengsarakan bangsa & negara. Aamiin YRA. Imho.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *