Dimensi Kesejarahan (Historis) pada Manusia - AsikBelajar.Com

Dimensi Kesejarahan (Historis) pada Manusia

AsikBelajar.Com| Dunia manusia bukan sekedar suatu dunia vital seperti pada hewan- hewan. Manusia tidak identik dengan sebuah organisme. Kehidupannya lebih dari sekedar peristiwa biologis semata. Berbeda dengan kehidupan hewan, manusia menghayati hidup ini sebagai “hidupku” dan “hidupmu”- sebagai tugas bagi sang aku dalam masyarakat tertentu pada kurun sejarah tertentu. Keunikan hidup manusia ini tercermin dalam keunikan setiap biografi dan sejarah.

Dimensi kesejarahan ini bertolak dari pandangan bahwa manusia adalah makhluk historis, makhluk yang mampu menghayati hidup di masa lampau, masa kini, dan mampu membuat rencana-rencana kegiatan-kegiatan di masa yang akan datang.

Dengan kata lain, manusia adalah makhluk yang menyejarah (Tirtarahardja & Sulo, 2005). Manusia dan sejarah tidak dapat dipisahkan, sejarah tanpa manusia adalah khayal. Manusia dan sejarah merupakan kesatuan dengan manusia sebagai subyek dan obyek sejarah. Bila manusia dipisahkan dari sejarah maka ia bukan manusia lagi, tetapi sejenis mahluk biasa, seperti hewan (Ali, 2005).

Keberadaan manusia pada saat ini terpaut kepada masa lalunya, ia belum selesai mewujudkan dirinya sebagai manusia, ia mengarah ke masa depan untuk mencapai tujuan hidupnya. Sementara itu menurut Nata (2002) manusia adalah makhluk yang historis. Hakikat manusia sendiri adalah suatu sejarah, suatu peristiwa yang bukan semata-mata datum. Hakikat manusia hanya dapat di lihat dalama perjalanan sejarahnya, dalam sejarah bangsa manusia. Apa yang di peroleh dari pengamatan atas pengalaman manusia adalah suatu rangkaian #17

anthropological constants yaitu dorongan-dorongan dan orientasi yang tetap. Anthropological constants yang dapat ditarik dari pengalaman sejarah umat manusia, yaitu (1) relasi manusia dengan kejasmanian, alam, dan lingkungan ekologis; (2) keterlibatan dengan sesama; (3) keterikatan dengan struktur sosial dan institusional; (4) ketergantungan masyarakat dan kebudayaan pada waktu dan tempat; (5) hubungan timbal balik antara teori dan praktis; (6) kesadaran religius dan parareligius. Keenam anthropological constants ini merupakan suatu sintesis dan masing-masing saling berpanguruh satu dengan lainnya. #18

Sumber:
Husamah dkk. 2015. Pengantar Pendidikan. Malang: Universitas Muhamadiyah. Hal. 17-18.

Related Posts

AsikBelajar.Com

Blogger biasa yang berdomisili di Banjarmasin dan berharap blog ini bermanfaat buat pelajar, mahasiswa & masyarakat umum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 AsikBelajar.Com - Theme by WPEnjoy · Powered by WordPress