Demokrasi Kita: Tidak Mau Belajar Sejarah?

AsikBelajar.Com | Negara yang kita cintai Indonesia ibarat manusia, ia adalah sosok yang sudah memasuki umur / usia senja alias sudah tua. Harusnya, manusia seumur Indonesia tentunya sudah banyak pengalaman yang dilewati dalam hidupnya. Sayangnya, Indonesia adalah sebuah negara, sehingga ia tidak dapat “belajar” dari pengalamannya. Indonesia seperti dibelenggu oleh rantai kehidupan yang tak nampak oleh mata biasa. Indonesia sepertinya dipertahankan hanya menjadi pasar bagi “penjajah ekonomi” dunia global.

Demokrasi kita

Apa fakta yang tidak terbantahkan bahwa negara Indonesia tercinta tidak mampu belajar? Jawabannya adalah: masalah Demokrasi kita yang menganut sistem multi partai.
Sejarah membuktikan bahwa era presiden pertama Soekarno pernah seperti sekarang alias banyak partai. Multi partai adalah sistem kepartaian yang dianut pada masa awal kemerdekaan. Kemungkinan tujuan multi partai awal kemerdekaan adalah untuk mengakomodir suara rakyat yang begitu beragam. Memang multi partai ada segi positif dan negatif nya. Namun banyak negatifnya. Dan hasilnya ricuh, bahkan kelompok komunis bisa berkembang subur. Kerusuhan terjadi dimana-mana. Beban biaya yang ditanggung negara untuk menyelenggarakan pemilu begitu besar. Akhirnya, disaat kelahiran orde baru dikatakan bahwa sistem multi partai dinyatakan gagal. Dan Indonesia hanya mempunyai 3 partai.

Jadi, sejarah sudah membuktikan bahwa sistem multi partai yang diterapkan oleh negara kita tercinta bernama Indonesia sudah pernah ada dan GAGAL. Sejak reformasi tahun 1998 sampai sekarang, di era millenial 4.0 (bahkan sudah ada negara memasuki era 4.5 & 5.0) Indonesia masih saja menganut sistem multi partai dimana mahalnya biaya yang ditanggung negara untuk yang kita sebut DEMOKRASI. Padahal dari biaya mahal tersebut hasilnya sangat tidak sebanding dengan kualitas SDM dan hasilnya yang dihasilkan dari pemilu dan pilkada tersebut. Sudah jadi rahasi umum bahwa, politikus hanya berbakti pada partainya bukan konstituennya. Korupsi berjamaah menjadi trend pilihan partai-partai untuk menompang biaya akibat demokrasi tadi. Bahkan ada indikasi bahwa negara kita Indonesia sudah dikuasai kelompok mafia bisnis yang sangat kuat. Jika kenyataan ini tidak diantisipasi oleh pemerintah yang akan datang dan melanjutkan “gaya” seperti yang ada, maka sudah menjadi cara alamiah dalam kehidupan untuk mencari jalannya agar hiduo tetap survive, cara realnya? Mungkin pembaca dapat memprediksinya apa yang akan dilakukan rakyat bila kehidupannya tidak ada lagi pilihan untuk hidup.

Semoga artikel ini dapat memberikan inspirasi bagi kita semua dan sama-sama untuk beristiqfar saling meminta maaf kepada Illahi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *