Contoh Aplikasi Konstruktivisme dalam Pembelajaran Diklat

By | 14/05/2020

AsikBelajar.Com | Salah satu model pembelajaran yang memiliki karakter tersebut adalah model 5Es. Model 5Es dikembangkan oleh sebuah lembaga pengembangan kurikulum dan pembelajaran biologi (Biological science curriculum study (BSCS) yang dipimpin Roger Bybee di Amerika Serikat. Disebut 5Es karena nama setiap langkah dalam model pembelajaran tersebut diawali dengan huruf E, yaitu Engage, Explore, Explain, Elaborate, dan Evaluate.

Teori konstruktivisme

lstilah SEs merupakan singkatan dari lima langkah pembelajaran yang setiap langkahnya berawalan huruf E. Lima Iangkah pembelajaran tersebut dijelaskan seperti berikut ini. …193

A. Engage (Iibatkan). Pada tahap pertama, peserta diklat diberi stimulan untuk masuk ke dalam suasana misteri yang merangsang rasa penasaran dan diharapkan merumuskan pertanyaan, merumuskan masalah, dan mencoba menghubungkan potongan-potongan pengetahuan yang dimilikinya untuk merumuskan hipotesis. Dalam tahap ini, peserta diklat juga boleh merancang sebuah rencana inquiri untuk menjawab pertanyaan yang telah dirumuskan. Harus diyakinkan bahwa dalam tahap awal ini, semua peserta diklat telah terlibat secara Iangsung, sehingga bisa memasuki dan mengidentifikasi tugas-tugas instruksional. Sebagai analogi, langkah engage Iayaknya seperti kegiatan pemasaran sebuah produk. Pembeli tidak akan pernah membeli barang yang ditawarkan ketika mereka tidak tertarik.

B. Explore (gali). Dalam langkah ini, para peserta diklat diberi kesempatan untuk terlibat langsung berinteraksi dengan fenomena yang menjadi tema belajar untuk mengumpulkan data dan pengalaman baru. Mereka mencari tahu sebanyak mungkin apa yang ingin mereka ketahui secara langsung melalui sebuah kerja tim. Kegiatan bisa berupa eksperimen, demonstrasi, wawancara, studi pustaka, observasi lapangan dan lainnya.

C. Explain (jelaskan). Pada langkah ketiga, peserta diklat melakukan kegiatan penting yaitu membuat abstraksi …194

pengalaman yang diperoleh dalam proses eksplorasi ke dalam sebuah tampilan yang dapat dikomunikasikan. Bahasa menjadi alat dalam menampilkan hasil eksplorasi menjadi paparan yang logis dan sistematik. Dalam kegiatan ini, terjadi komunikasi di antara teman, peserta diklat dengan fasilitator, antara kelompok dan dalam diri peserta diklat sendiri.

Melalui diskusi dalam tim dan antar tim mereka, peserta diklat saling mendukung, saling memberi informasi dan saling menjelaskan. Bisa juga terjadi debat karena mereka memperoleh pengalaman yang berbeda. Pada akhirnya, setiap orang akan membangun pemahaman masing-masing sesuai dengan pengalaman yang diperolehnya.

Pada proses ini, digunakan bahasa sebagai alat berpikir dan menjelaskan hubungan-hubungan antara kejadian satu dengan lainnya. Setiap kejadian diberi label dan masing-masing diberi penjelasan, lalu dihubungkan sehingga menjadi konsep yang utuh. Misalnya, penggunaan istilah magnet dengan fenomena sebuah logam yang dapat menarik logam lain. Label ”magnet” untuk logam yang dapat menarik logam lain merupakan fungsi dari bahasa yang terekam dalam struktur kognitif menjadi sebuah pengetahuan baru. Bahasa tersebut menyatukan pemahaman antara peserta diklat satu dengan peserta diklat Iain dalam bentuk share understanding. …195

D. Elaborate (padukan). Pada langkah keempat, peserta diklat melebarkan konsep yang mereka telah kuasai, membuat hubungan dengan konsep lain dan mengaitkannya dalam pengalaman sehari-hari.

E. Evaluate (menilai). Langkah kelima merupakan on-going diagnostic (diagnose berkelanjutan). Pada tahap ini, fasilitator mengukur apakah para peserta diklat telah menguasai pengetahuan dan pemahaman yang diharapkan. Evaluasi dan pengukuran dapat terjadi dalam setiap saat selama pembelajaran berlangsung. Beberapa alat yang dapat digunakan di antaranya rubrik, observasi dengan cheklis, wawancara peserta diklat, portofolio dengan tujuan tertentu, proyek, produk pemecahan masalah dan embedded assessment. Bukti pengalaman Iangsung ini lebih berharga sebagai alat komunikasi antara peserta diklat dengan fasilitator.

Model pembelajaran 5Es dibangun di atas landasan bahwa mempelajari sesuatu yang baru atau mencoba memahami sesuatu yang telah dikenal namun ingin lebih dalam, bukan sebuah proses linear melainkan sebuah proses yang kompleks. Berdasarkan prinsip tersebut, maka fasilitas yang harus diberikan harus tepat agar peserta diklat belajar melalui langkah yang sistematis. Dalam proses ini, terjadi sebuah reproduksi pengetahuan dan pemahaman baru melalui proses asimilasi atau akomodasi. …196

Proses asimilasi terjadi ketika pengalaman baru hasil eksplorasi sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman lama yang sudah dimiliki dan terbentuk bangunan pengetahuan baru yang lebih baik. Akomodasi terjadi ketika pengalaman baru tidak sejalan dengan pengetahuan dan pemahaman lama. Proses ini melibatkan ketidakseimbangan intelektual. Akan terbangun pengetahuan baru ketika berhasil mengubah pengetahuan dan pemahaman yang sudah diyakininya dan disesuaikan dengan fakta yang diperoleh dari pengalaman baru.

Para konstruktivis menganggap bahwa sebenarnya setiap orang telah memiliki jawaban atas pertanyaan yang mereka ajukan. Jawaban-jawaban tersebut diperoleh dengan cara mereproduksi pengalaman dan pengetahuan lama yang telah dimilikinya. Namun, itu belum meyakinkan sehingga diperlukan sebuah eksplorasi yang dapat memberi mereka pengalaman dan fakta-fakta baru yang lebih meyakinkan sehingga akan menjadikan jawaban lebih masuk akal.

Untuk mendapatkan pengalaman baru ini, para peserta diklat harus difasilitasi untuk memperolehnya. Dalam model ini, fasilitator mendorong peserta diklat untuk menyelidiki, mencari, dan menggali fenomena hingga misteri terungkap. Hasil eksplorasi tersebut akan disatukan dengan potonganpotongan pengetahuan melalui proses asimilasi atau akomodasi. Potongan demi potongan yang kita miliki dikait-kaitkan dan dibangun menjadi sebuah bangunan …197

pengetahuan baru. Sering terjadi ada potongan-potongan yang tidak sesuai sehingga harus dibuang dan diganti dengan potongan baru.

Proses merekonstruksi tersebut dilakukan melalui diskusit kolaborasi, refleksi, dan upaya yang kreatif. Penggunaan kata-kata, istilah, dan label sangat penting dalam proses ini, karena akan menentukan kualitas pemahaman yang akan diperoleh. Proses ini sangat individual namun terjadi melalui proses interaksi dengan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, pengetahuan dan pemahaman yang terbangun tidak sama antara satu peserta dengan lainnya. …198

Sumber:
Cahyo, Agus N. 2013. Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar Teraktual dan Terpopuler. Diva Press: Yogyakarta. Hal.193-198.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *