Cara Mempelajari Moralitas Anak

By | 01/02/2021

AsikBelajar.Com | Pada saat dilahirkan, tidak ada anak yang memiliki hati nurani atau skala nilai. Akibatnya, tiap bayi yang baru lahir dapat dianggap amoral atau nonmoral. Dan tidak seorang anak pun dapat diharapkan mengembangkan kode moral sendiri. Sebaliknya, tiap anak harus diajarkan standar kelompok tentang sesuatu yang benar dan yang salah (Hurlock, 1993).

Belajar berperilaku dengan cara yang disetujui masyarakat merupakan proses yang panjang dan lama dan terus berlanjut hingga masa remaja. Belajar berperilaku merupakan salah satu tugas perkembangan yang penting di masa kanak-kanak. Sebelum anak masuk sekolah, mereka diharapkan #8.9

mampu membedakan yang benar dan yang salah dalam situasi sederhana dan meletakkan dasar perkembangan hati nurani. Sebelum masa kanak-kanak berakhir, anak diharapkan mengembangkan skala nilai dan hati nurani untuk membimbing mereka bila harus mengambil keputusan moral (Hurlock, 1993).

Dalam mempelajari sikap moral agar menjadi orang yang bermoral, terdapat empat pokok utama yang perlu dipelajari oleh seorang anak, yaitu (1) mempelajari apa yang diharapkan kelompok sosial dari anggotanya | sebagaimana dicantumkan dalam hukum, kebiasaan, dan peraturan; (2) mengembangkan hati nurani; (3) belajar mengalami perasaan bersalah dan rasa malu bila berperilaku tak sesuai dengan harapan kelompok; (4) mempunyai kesempatan untuk berinteraksi sosial sehingga dapat belajar apa saja yang diharapkan anggota kelompok (Hurlock, 1993).

Pokok pertama yang penting dalam pelajaran menjadi pribadi bermoral adalah belajar apa yang diharapkan kelompok dari anggotanya. Harapan tersebut diperinci bagi seluruh anggota kelompok dalam bentuk hukum, kebiasaan dan peraturan. Dalam setiap kelompok sosial, tindakan tertentu dianggap ‘benar’ atau ‘salah’ karena tindakan itu menunjang atau dianggap menunjang atau menghalangi kesejahteraan anggota kelompok. Kebiasaan yang paling penting dibakukan menjadi peraturan hukum sehingga akan ada hukuman tertentu bagi yang melanggarnya. Tindakan yang lainnya dianggap mengikat, menjadi kebiasaan namun tanpa hukum tertentu bagi yang melanggarnya (Hurlock, 1993).

Sebagai contoh, seseorang yang mengambil barang atau harta milik orang lain dianggap pelanggaran yang cukup serius karena mengganggu kesejahteraan kelompok. Individu tersebut merupakan pelanggar dan harus diberikan hukum yang sesuai. Kebiasaan untuk tidak menggunakan barang milik orang lain tanpa sepengetahuan atau seijin dari pemilik dianggap sebagai kebiasaan. Meskipun pelanggaran terhadap kebiasaan ini tidak mendatangkan tindakan hukum, namun ketidaksetujuan sosial akan merupakan hukuman bagi yang melanggarnya apalagi bila terjadi suatu kerusakan (Hurlock, 1993).

Pembuat hukum meletakkan pola perilaku moral bagi anggota kelompok sosial. Orang tua, guru dan orang lain yang bertanggung jawab dalam membimbing anak harus membantu anak belajar menyesuaikan diri dengan pola yang disetujui. Hal ini dilakukan dengan membuat peraturan, pola yang ditentukan untuk bertingkah laku, sebagai pedoman (Hurlock, 1993). #8.10

Perbedaan antara peraturan dan hukum dalam beberapa hal yang penting, yaitu sebagai berikut (Hurlock, 1993).

1. Pertama, peraturan dibuat oleh orang yang bertanggung jawab mengasuh anak dan hukum dibuat oleh pembuat hukum yang dipilih atau ditunjuk suatu negara.

2. Kedua, hukum menentukan hukuman menurut keinginan atau tingkah orang yang mengawasi anak tersebut.

3. Ketiga, bila orang belajar tentang hukum maka mereka juga belajar tentang hukuman atas pelanggarannya. Hanya beberapa anak yang menyadari kenyataan bahwa mereka akan dihukum bila melanggar peraturan, sampai saat mereka betul-betul melanggarnya. Mereka juga tidak mengetahui dengan jelas bentuk hukumannya sampai mereka menerima hukuman atas pelanggaran yang dilakukannya.

4. Keempat, beratnya hukuman atas pelanggaran hukum bervariasi sesuai dengan beratnya tindakan yang dilakukan. Bila suatu peraturan dilanggar, beratnya hukuman bervariasi menurut perasaan orany yang memberi hukuman saat itu. Beratnya hukuman sering tidak berhubungan dengan seriusnya suatu pelanggaran.

5. Kelima, hukum lebih seragam dan konsisten dibandingkan peraturan. Hukum berlaku sama bagi seluruh warga suatu negara, kota atau kelompok. Sebagai contoh, di rumah mungkin terdapat peraturan berbeda bagi anak laki-laki dan anak perempuan, dan bagi anak yang lebih kecil dan yang lebih besar. Di sekolah, guru A mungkin akan memberikan hukuman berbeda dengan guru B terhadap bentuk pelanggaran yang sama. Peraturan permainan dan olahraga mungkin berbeda, bergantung pada pimpinan dan keinginan anggota kelompok.

Anak kecil tidak dituntut untuk tunduk pada hukum dan kebiasaan, seperti yang dituntut dari anak yang lebih besar. Tetapi setelah mencapai usia sekolah, mereka secara bertahap diajari hukum yang berlaku di masyarakat: Misalinya, tidak boleh mengambil barang di toko tanpa membell, tidak boleh merusak barang milik orang lain, tidak boleh merampas atau merebut barang orang lain, harus bertingkah dan berkata sopan dan hormat pada orang lain, apalagi pada yang lebih tua atau dapat membantu mereka yang membutuhkan atau orang yang cacat (Hurlock, 1993).

Agar terbiasa bersikap benar sejak dini maka anak kecil pun diharapkan mempelajari dan mematuhi peraturan yang diberikan orang tua dan orang lain #8.11

yang berwenang. Saat usia sekolah, mereka diharapkan mempelajari dan mematuhi peraturan sekolah dan tempat bermain. Saat bermain pun, anak diharapkan mempelajari dan mematuhi peraturan berbagai jenis permainan, misalnya permainan kelereng, bola atau lainnya. Secara bertahap anak juga belajar peraturan yang ditentukan oleh berbagai kelompok, yaitu kelompok tempat mereka mengidentifikasi diri, seperti di rumah, sekolah, dan lingkungan dan mereka diharapkan mematuhi peraturan tersebut. Kegagalan dalam mematuhi aturan akan mendatangkan hukuman atau kurangnya penerimaan sosial pada diri anak. Jadi, peraturan berfungsi sebagai pedoman perilaku anak dan sebagai sumber motivasi untuk bertindak sesuai dengan | harapan sosial, sebagaimana hukum dan kebiasaan menjadi pedoman dan sumber motivasi bagi anak remaja dan orang dewasa (Hurlock, 1993).

Pokok kedua dalam belajar menjadi orang bermoral adalah pengembangan hati nurani sebagai kendali internal bagi perilaku individu. Hati nurani adalah kemampuan untuk mengetahui apa yang benar dan yang salah. Salah satu tugas perkembangan yang penting dipelajari anak adalah belajar mengenai apa yang benar dan salah, kemudian, mereka harus belajar menggunakan hati nurani sebagai pengendali perilaku mereka (Hurlock, 1993).

Hati nurani juga dikenal dengan sebutan “cahaya dari dalam”, ”super ego” atau ”polisi internal”. Sebagai polisi internal, hati nurani tanpa henti-hentinya mengamati kegiatan individu dan memberi teguran keras apabila individu menyimpang dari aturan yang lurus. Jadi, suara hati nurani merupakan standar internal yang mengendalikan perilaku individu (Hurlock, 1993).

Pokok ketiga dalam belajar menjadi orang bermoral adalah pengembangan perasaan bersalah dan rasa malu. Perasaan tersebut akan didapat anak jika ia tidak dapat memenuhi standar yang ditetapkan hati nurani. Rasa bersalah di sini adalah sejenis evaluasi diri khusus, yang negatif dan terjadi bila seorang individu mengakui bahwa perilakunya berbeda dengan nilai moral yang dirasakannya wajib untuk dipenuhi. Anak yang merasa bersalah tentang apa yang telah dilakukannya, telah mengakui pada dirinya bahwa perilakunya jauh di bawah standar yang ditetapkannya sendiri. Namua cemikian, sebelum rasa bersalah dialami oleh anak, mereka harus mengalami dahulu empat kondisi berikut.

1. Anak harus menerima standar tertentu mengenai hal yang benar dan yang salah atau hal yang baik dan buruk sebagai standar mereka. #8.12
Lanjut halaman ke-2, Klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *