Belajar Berdasarkan Prinsip Pengendapan

AsikBelajar.Com | Belajar terus menerus selama berjam-jam adalah suatu kegiatan belajar yang kurang menguntungkan. Karena terlalu lama belajar tanpa istirahat akan menimbulkan kelelahan. Konsentrasi belajar pun akhirnya terpecah-pecah. Yang sudah dibaca berlalu begitu saja melewati tempat penampungan kesan. Rasa kantuk yang menyelinap di sela-sela membaca sebagai pertanda kelelahan. Itu artinya jiwa raga tidak siap lagi untuk menerima pengalaman baru. Istirahat beberapa menit merupakan kebijakan terbaik untuk memulihkan kesegaran jiwa-raga. …66

Selama belajar perlu juga ada istirahat untuk pengendapan terhadap sejumlah kesan yang sudah diterima dari kegiatan membaca buku. Satu pokok bahasan sudah habis dibaca diperlukan istirahat sesaat untuk pengendapan kesan-kesan guna mendapatkan pengertian dari apa yang telah dibaca. Menghubungkan apa yang telah dipelajari dengan ilmu pengetahuan yang telah dimiliki adalah penting, agar ilmu pengetahuan yang telah dimiliki itu tidak berkotak-kotak, tetapi dirasakan saling berhubungan. Juga agar sejumlah kesan yang telah didapat tidak berdesak-desakan, sehingga tidak mudah terlupakan; Dengan begitu, maka waktu, tenaga, dan pikiran tak terbuang dengan percuma.

Belajar tidak perlu diproses habis-habisan tanpa mengenal lelah. Lima belas menit atau setengah jam istirahat lebih baik, sehingga sejumlah kesan yang telah didapat dengan mudah diorganisir di dalamotak. Bila pengertian telah didapat terhadap apa yang telah dipelajari, dapat dilanjutkan ke bahan bacaan yang lain. Demikianlah, betapa besar peranan istirahat pegendapan untuk mendapatkan pengertian dari apa yang telah dipelajari.

Akhirnya, istirahat pengendapan ibarat air keruh yang diendapkan untuk mendapatkan air yang jernih, sejernih kesan-kesan yang diendapkan ketika belajar. Oleh karena itu, kejernihan pengertian dari sejumlah kesan yang didapat dari kegiatan belajar merupakan ilmu pengetahuan yang tak ternilai harganya. …67

Sumber:
Djamarah, Syaiful Bahri, 2000. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.Hal.66-67.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *