Pengaruh Behaviorisme dan Konstruktivisme dalam Pendidikan

AsikBelajar.Com | Dalam bidang pendidikan, pengaruh behaviorisme ini jelas sekali. Misalnya, untuk mencapai tujuan pembelajaran, seorang pengajar mengkodisikan lingkungan sedemikian rupa agar pebelajar berperilaku sesuai dengan tujuan tersebut. Sebagai contoh, seorang pengajar menggunakan berbagai metode dan media sehubungan dengan upaya pengkodisian tersebut. Tujuan pengajaran akan tercapai lebih efektif apabila pengajar juga memberikan penguat tertentu. Dengan menggunakan perspektif behaviorisme ini, pengajar dapat memberikan penguat (reinforcement) kepada pebelajarnya. …25

Sementara itu, pengaruh konstruktivisme kini semakin meluas, mulai dari metode inkuiri dalam pembelajaran, pembelajaran kooperatif, pem. belajaran kontekstual, pembelajaran cepat, bahkan sampai ke penelitian pendidikan. Dalam metode inkuiri, siswa diminta untuk mengadakan penelitian sendiri tentang suatu fenomena, yang terdiri dari perumusan masalah, hipotesis, pengumpulan data, dan penarikan kesimpulan oleh mereka sendiri. Dalam hal ini guru hanya bertindak sebagai pengarah dan fasilitator. Sedangkan pembelajaran kooperaif (cooperative learning) berkembang menjadi berbagai-bagai metode yang bervariasi, misalnya Student Teams-Achivement Divisions (STAD), Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC), dan metode Jigsaw (Sharan, 1999). Sementara itu, Contextual Teaching and Learning ( CTL) akhir-akhir ini banyak diterapkan di Indonesia. CTL adalah proses pembelajaran untuk membantu siswa dalam memahami materi pembelajaran secara utuh, dengan cara mengasosiasikan pada konteks kehidupan mereka sehari-hari. Dalam hal ini, siswa dapat mengkonstruksi pemahaman materi pembelajaran secara aktif oleh mereka sendiri. Dan pembelajaran cepat (accelerated learning) adalah teknik belajar yang tepat menurut potensi dan gaya belajar yang dipilih dan sesuai dengan karakteristik pebelajar sendiri, sehingga kompetensinya dapat diperoleh secara lebih cepat.

Berkenaan dengan penelitian pendidikan, Mertens (2010) memaparkan metode penelitian yang berdasarkan paradigma konstruktivisme. baik pada tataran aksiologi, epistemologi, maupun ontologinya. Mertens memberikan suatu contoh penelitian tentang bagaimana mengatasi kesulitan anak belajar, karena mereka menghadapi masalah-masalah kemiskinan, serta perbedaan kelas sosial, ras, agama, bahasa, dan jender. Dalam studi ini digunakan pendekatan fenomenologi yang difokuskan pada bagaimana guru melaksanakan pembelajaran secara efektif pada konteks dan kelompok yang spesifik.

Di muka telah diuraikan berbagai teori dari perspektif behaviorisme dan konstruktivisme beserta contohcontoh penerapan dalam pendidikarI dan pembelajaran. Pertanyaannya “perspektif mana yang tepat untuk pendidikan dan pembelajaran, apa behaviorisme atau konstruktivisme?” Penulis berpendapat bahwa keduanya dapat digunakan secara efektif …26

dan saling melengkapi, tergantung dari konteks, tahapan, dan kematangan siswa. Sebagai contoh, untuk pembelajaran agama dalam aspek penanaman kepercayaan terhadap Allah Swt (tauhid), siswa tidak dapat mencari sendiri jawabannya. Begitu pula, untuk pembelajaran ritual (cara ibadah), siswa tidak boleh menemukan cara sendiri untuk melakukan. Di sini perlu diajarkan oleh guru secara langsung serta disediakan sarana dan lingkungan yang menunjang. Sementara itu, pada tahap permulaan kegiatan pembelajaran, anak harus diarahkan dan “dikonstruksi” oleh guru; setelah itu, untuk tahap selanjutnya mereka dapat mengkonstruksi pemahamannya oleh mereka sendiri. Misalkan pada praktik permesinan, tahap awal siswa harus diberi arahan dan rambu-rambu tentang prosedur kerja, baik secara lisan maupun dalam bentuk job-sheet, serta disediakan sarana dan prasarana yang lengkap untuk menjamin agar siswa bisa bekerja dalam suasana serius, nyaman dan aman. Setelah siswa memahami benar-benar tugas apa dan bagaimana yang harus dikerjakan, siswa dipersilahkan mengerjakan tugasnya sendiri secara aktif. Kematangan siswa juga menjadi pertimbangan dalam memilih pendekatan dalam pembelajaran. Siswa yang belum matang memerlukan bantuan dan pengendalian yang lebih banyak dalam memahami materi pembelajaran, sedang siswa yang sudah matang dapat “dilepas” untuk melakukan analisis dan sintesis sendiri.

Behaviorisme dan konstuktifisme tidak perlu dipertentangkan. Yang penting, bagaimana menggunakan pendekatan dan teknik yang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan berbagai cara. Dalam pandangan penulis, sekarang “tidak ada behaviorisme murni” dan “tidak ada konstuktivisme murni”. Watson dan Skinner (dua orang behavioris) mengakui adanya “pengalaman dalam” (inner experience) pada diri manusia, sedangkan Bruner (seorang konstruktivis sejati) memandang penting peran guru, yaitu membantu proses transformasi informasi yang dipelajari oleh siswa dalam bentuk suatu format tertentu. Pandangan penulis ini ternyata sejalan dengan pendapat Jonassen (2006) yang menyatakan bahwa penerapan kontekstualisme fungsional (“neobehaviorisme”) dalam pembelajaran harus didukung oleh metode tes empiris, yang selama ini menjadi andalan dari konstruktivisme. …27

Sumber:
Sohandji, Ahmad.  2012. Manusia, Teknologi, Dan Pendidikan Menuju Peradaban Baru.  Malang: Universitas Negeri Malang. Hal.25-27.

Keyword terkait:
penjelasan behavioristik dan konstruktivisme, teori behavioristik dan konstruktivisme, perbedaan teori behavioristik dan konstruktivisme, teori perkembangan behavioristik dan konstruktivisme, perbandingan paradigma behaviorisme dan konstruktivisme dalam pembelajaran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Captcha loading...