Aplikasi Pembelajaran Berbasis Masalah

By | 13/07/2020

AsikBelajar.Com |  Pembelajaran berdasarkan masalah (problem based learning/PBL) adalah suatu model pembelajaran yang didasarkan pada prinsip menggunakan masalah sebagai titik awal akuisisi dan integrasi pengetahuan baru. Model pembelajaran ini pada dasarnya mengacu kepada pembelajaran-pembelajaran mutakhir lainnya, seperti pembelajaran berdasar proyek (project based instruction), pembelajaran berdasarkan pengalaman (experience based instruction), pembelajaran autentik (authentic instruction), dan pembelajaran bermakna.

Menurut Ibrahim dan Nur (2000), model pembelajaran ini berbeda dengan pembelajaran penemuan (inkuiridiscovery) yang lebih menekankan pada masalah akademik. Dalam pembelajaran berbasis masalah, pemecahan masalah didefinisikan sebagai proses atau upaya untuk mendapatkan suatu penyelesaian tugas atau situasi yang benar-benar nyata sebagai masalah dengan menggunakan aturan-aturan yang sudah diketahui. Jadi, pembelajaran berdasarkan masalah lebih memfokuskan pada masalah kehidupan nyata yang bermakna bagi siswa.

1. Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah
Menurut Ibrahim & Nur (2000), pembelajaran berdasarkan masalah memiliki beberapa ciri dan karakteristik sebagai berikut: …283

a . Pembelajaran berpusat pada siswa. Meskipun siswa dipandu oleh tutor, mereka harus bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri, mengidentifikasi apa yang mereka perlu ketahui untuk mengelola masalah dan di mana mencari informasi.
b. Belajar terjadi dalam kelompok kecil siswa. Pada akhir setiap unit kurikuler, siswa secara acak dikondisikan dalam kelompok baru.
c. Guru adalah fasilitator (atau pemandu). Peran fasilitator adalah tidak memberikan pembelajaran atau informasi faktual, tetapi hanya mengarahkan para siswa agar berupaya mencari langsung ke sumber. Fasilitator harus meminta para siswa agar bertanya pada diri sendiri untuk memahami dan mengelola masalah.
d. Masalah membentuk fokus pengaturan dan stimulus pada pembelajaran. Suatu masalah dapat disajikan dalam format yang berbeda (kasus tertulis, rekaman video, simulasi komputer) dan itu merupakan tantangan bagi para siswa dalam menghadapi praktik, memberikan relevansi dan motivasi untuk belajar. Jadi, masalah memberi siswa fokus pada pengintegrasian informasi, yang dapat memfasilitasi kemudian mengingat dan aplikasi untuk masalah masa depan.
e. Masalah adalah wahana pengembangan keterampiian dalam memecahkan masalah. Masalah terbaik adalah menarik, kontemporer, dan autentik. Masalah adalah …284
cermin dari apa yang akan siswa temukan dalam kehidupan nyata.
f. Masalah adalah struktur kacau dan ranah khas. Dalam kehidupan nyata, kita jarang menghadapi masa|ah yang rapi dan terstruktur dengan baik. Siswa perlu mengembangkan kemampuan untuk menangani ambiguitas, situasi tidak jelas dan memahaminya. Namun, penting untuk dicatat bahwa pemecahan masa|ahjuga ranah yang khas. Pemecahan masalah dalam bidang sains memerlukan keterampilan yang berbeda dari memecahkan masa|ah dalam bidang sosial. Intinya adalah untuk melibatkan para siswa dalam membangun atau menggunakan ranah yang sesuai dengan kapakarannya.
g. Informasi baru diperoleh melalui belajar mandiri. Para siswa diharapkan belajar dan mengumpulkan keahlian berdasarkan penyelidikan dan penelitian mereka sendiri seperti para profesional melakukannya. Selama ini pembelajaran mandiri, siswa bekerja bersama-sama, membahas, membandingkan, meninjau, dan berdebat apa yang mereka pelajari.

2. Keunggulan Pembelajaran Berbasis Masalah
Menurut Ibrahim & Nur (2000), pembelajaran berbasis masa|ah memiliki beberapa keunggulan, di antaranya:
a. Siswa Iebih memahami konsep yang diajarkan, sebab mereka sendiri yang menemukan konsep tersebut. …285
b. elibatkan secara aktif memecahkan masalah dan menuntut keterampilan berpikir siswa yang lebih tinggi.
c. Pengetahuan tertanam berdasarkan skemata yang dimiliki siswa sehingga pembelajaran lebih bermakna.
d. Siswa dapat merasakan manfaat pembelajaran, sebab masalah-masalah yang diselesaikan Iangsung dikaitkan dengan kehidupan nyata, hal ini dapat meningkatkan motivasi dan ketertarikan siswa terhadap bahan yang dipelajari.
e. Menjadikan siswa lebih mandiri dan dewasa, mampu memberi aspirasi dan menerima pendapat orang Iain, menanamkan sikap sosial yang positif di antara siswa.
f. Pengondisian siswa dalam belajar kelompok yang saling berinteraksi terhadap pembelajar dan temannya, sehingga pencapaian ketuntasan belajar siswa dapat diharapkan.

Selain itu, pembelajaran berbasis masalah dapat menumbuhkan-kembangkan kemampuan kreativitas siswa, baik secara individual maupun secara kelompok, karena hampir setiap langkah menuntut adanya keaktifan siswa. Karena itu, keberhasilan model pembelajaran ini sangat tergantung pada ketersediaan sumber belajar bagi siswa dan alat-alat untuk menguji jawaban atau dugaan. Selain itu, adanya perlengkapan praktekum juga sangat membantu menyingkat waktu yang dibutuhkan. Dan, faktor yang tak …286

kalah pentingnya adalah kemampuan guru dalam mengangkat dan merumuskan masalah.

Dalam model pembelajaran ini, guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator, pembimbing, dan motivator. Guru mengajak siswa pada permasalahan nyata (real world), memfasilitasi/membimbing (scaffolding) dalam proses penyelidikan, memfasilitasi dialog antara siswa, menyediakan bahan ajar, serta memberikan dukungan dalam upaya meningkatkan temuan dan perkembangan intelektual siswa.

3. Langkah-Langkah Pembelajaran Berbasis Masalah
Pengelolaan pembelajaran berbasis masalah sebenarnya memiliki lima langkah utama, sebagaimana yang telah kita singgung pada bab sebelumnya, yaitu mengorientasikan siswa pada masalah, mengorganisasikan siswa untuk belajar, memandu menyelidiki secara mandiri atau kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil kerja, serta menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah. Gambaran rinci kelima langkah tersebut dapat diaplikasikan dalam langkah-langkah praktis berikut.

a. Pertama-tama, masalah diajukan kepada siswa.
b. Siswa mendiskusikan masalah tersebut dalam tutorial PBL (pembelajaran berbasis masalah) kelompok kecil. Mereka mengklarifikasi fakta dari kasus, menentukan apa masalahnya, kemudian mengembangkan ide-ide …287
dengan brainstorming berdasarkan pengetahuan sebelumnya. Mereka mengidentifikasi apa yang mereka perlu pelajari untuk bekerja pada masalah, memberikan alasan tentang masalah tersebut, dan menentukan rencana aksi untuk bekerja pada masalah.
c. Siswa terlibat dalam penyelidikari tentang isu-isu yang mereka pelajari di luar tutorial. Hal ini dapat meliputi perpustakaan, database, web, narasumber, dan pengamatan.
d. Mereka kembali pada tutorial PBL, berbagi informasi, mengajar sebaya (peer teaching), dan bekerja bersamasama menyikapi masalah.
e. Siswa menyajikan penyelesaian untuk masalah.
f. Siswa meninjau apa yang telah mereka pelajari dari masalah. Semua yang berpartisipasi dalam proses terlibat dalam pengamatan diri, rekan, dan tutor dari proses PBL dan refleksi pada setiap orang yang berkontribusi terhadap proses tersebut. …288

Sumber:
Cahyo, Agus N. 2013. Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar Teraktual dan Terpopuler. Diva Press: Yogyakarta. Hal.283-288.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *