Anak Didik dan Proses Belajar Dalam Psikologi Belajar

AsikBelajar.Com | Anak didik adalah subjek utama dalam pendidikan. Dialah yang belajar setiap saat. Belajar anak didik tidak mesti harus selalu berinteraksi dengan guru dalam proses interaksi edukatif. Dia bisa juga belajar mandiri tanpa harus menerima pelajaran dari guru di sekolah. Bagi anak didik belajar seorang diri merupakan kegiatan yang dominan. Setelah pulang sekolah anak didik harus belajar di rumah. Mereka mungkin menyusun jadwal belajar pada malam, pagi dan sore hari. Demikianlah anak didik setelah belajar dengan jadwal belajar yang malah diprogramkan.

Psikologi belajar

Tokoh-Iokoh aliran behaviorisme beranggapan bahwa anak didik yang melakukan aktivitas belajar seperti membaca buku mendengarkan penjelasan guru, mengarahkan pandangan kepada seorang guru yang menjelaskan di depan kelas, termasuk ke dalam kategori belajar. Meteka tidak melihat ke dalam fenomena psikologis anak didik. Apakah anak didik menguasai buku yang telah dibaca, apakah sudah betul-belul menguasai dan menguasai penjelasan guru, bukanlah masalah bagi para penganut aliran behaviorisme.Yang penting bagi mereka bila seseorang telah melakukan aktivitas belajar itulah belajar. Aliran ini bepegang pada realitas yang terlihat …46

dengan mata telanjang dengan mengabaikan proses mental dengan segala perubahannya sebagai akibat dari aktivitas belajar tersebut.

Oleh karena itu, aliran behaviorisme mendapat kritikan dari aliran kognitivisme. Menurut aliran ini, belajar adalah proses perubahan mental duman mempengaruhi perilaku seseorang. Membaca buku, mendengarkan penjelasan guru, mengarahkan pandangan mata kepada guru yang sedang menjelaskan bahan pelajaran, dan sebagainya adalah sejumlah aktivitas belajar, tetapi belum lentu belajar. Seorang anak didik yang terlihat sedang membaca buku, misalnya. Dia mengarahkan pandangan mata ke buku yang telah dlbukanya pada halaman buku itu. Dia sedang asyik memandang halaman buku itu. Kita pasti beranggapan bahwa dia belajar. Padahal belum tentu. Siapa tahu pandangan matanya saja yang diarahkan ke halaman buku itu, tetapi alam pikirannya jauh menerawang ke dunia Iain yang lebih menarik dari kata dan kalimat yang tentera di halaman buku itu. Alhasil, dia hanya membuka halaman buku itu, tetapi tidak membaca. Atau boleh jadi anak didik telah membaca buku itu tetapi tidak ada sedikit pun kesan-kesan baru yang masuk ke dalam pikirannya, juga bukanlah belajar.

Jadi, menurut aliran kognitivisme keberhasilan belajar itu ditentukan oleh perubahan mental dengan masuknya sejumlah kesan yang baru dan pada akhirnya mempengaruhi perilaku. Berbeda dengan aliran behaviorisme yang hanya melihat fenomena perilaku saja, aliran kognitivisme jauh melihat ke dalam fenomena psikologis.

Di sekolah, anak didik belajar menurut gaya mereka masing-masing. Perilaku anak didik bemacam-macam dalam menerima pelajaran dari guru. Seorang anak didik dengan tekun dan penuh konsentrasi menerima pelajaran dari guru dengan cara mendengarkan penjelasan guru alau mengerjakan tugas yang telah diberikan. Anak didik yang lain di seIa-sela penjelasan guru, mengambil kesempatan membicarakan hal-hal lain yang terlepas dari masalah pelajaran. Di waktu yang lain ada anak didik yang duduk malamun yang terlepas dari pengamatan guru. …47

Dalam waktu yang hampir bersamaan, ada anak didik yang berteriak histeris mengejutkan anak didik yang lain yang sedang mendengarkan penjelasan guru. Kelas menjadi gaduh. Jalan pelajaran terhenti. Semua anak didik dan guru mengarahkan perhatian mereka ke arah sumber suara. Anak ini berteriak histeris bukan karena kejatuhan cecak, tetapi karena himpitan persoalan hidup yang berat yang tak tahan disandang akibat keluarga yang broken home. Padahal anak itu datang ke sekolah untuk belajar bersama teman-temannya di kelas. Oleh karena ini, dalam kegiatan belajar mengajar, permasalahan yang timbul dari perilaku anak didik bermacam-macam ketika pelajaran sedang berlangsung di kelas. Karenanya, anak didik selalu menjadi persoalan dalam proses pendidikan. …48

Sumber:
Djamarah, Syaiful Bahri, 2000. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.Hal.46-48.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *