Anak dan Kehidupan Sekolah ala Djamarah

By | 14/08/2020

sikBelajar.Com | Artikel ini adalah bagian dari bab V yang berjudul pertumbuhan dan perkembangan anak serta pengaruhnya dalam belajar, dengan isi sebagai berikut:

Permulaan anak memasuki lingkungan sekolah, maka pada waktu itulah permulaan anak mengenal sekolah. Anak akan mengenal sekolah sebagai tempat berkumpulnya anak-anak dari berbagai latar belakang kehidupan. Anak yang pada mulanya belum saling mengenal antara yang satu dengan yang lainnya, beberapa hari kemudian sudah saling mengenal dalam ruang lingkup pergaulan yang terbatas. Hanya anak-anak tertentu yang dikenal oleh anak, terutama anak-anak sekelasnya. Rasa kesendirian mulai menjauhi anak dan berubah menjadi kehidupan sekolah yang menyenangkan. Begitula perubahan pergaulan sosial anak di sekolah.

Tidak seperti anak yang pernah mengenyam pendidikan di taman kanak-kanak, anak yang tidak pernah dididik di lembaga prasekolah ini, kemampuan beradaptasinya berjalan lambat. Karena …99

anak belum terbiasa bergaul dalam lingkungan sekolah. Rasa malu, rasa takut. dan tidak ingin berpisah dengan orang tuanya, membuat anak menjadi orang yang pendiam dan sukar diajak bicara. Menjauhi pergaulan tidak jarang dilakukan anak. Ketika di sekolah anak lebih banyak sebagai penonton daripada berbuat kreatif.

Pada permulaan sekolah lebih banyak menuntut anak untuk mengembangkan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Anak hams pandai beradaptasi dengan anak-anak lain, anak harus beradaptasi dengan ruang belajarnya, anak harus mengenal gurunya sebagai figur yang wajib digugu, ditiru, dan dihormati sampai kapanpun juga. Sistem sosial di sekolah yang terbentuk dan perangkat tata tertib dan peraturan sekolah adalah sistem nilai yang mengikat dan mengendalikan perilaku anak, yang menuntut kepada anak untuk tunduk dan mentaatinya. Hukuman berupa sanksilah bagi anak yang melanggamya.

Tidak seperti di rumah dengan pendidikan yang berjalan secara kodrati dan alamiah berdasarkan hubungan darah, di sekolah semua kegiatan diatur dengan sebuah rencana yang sistematis dan terpadu. Pulang pergi anak, keluar masuk guru, pergantian jam pelajaran, waktu istirahat, dan lama tidaknya pemberian bahan pelajaran oleh guru, dan sebagainya diatur dengan mempertimbangkan berbagai segi dan untung ruginya. Anak tidak bisa masuk dan pulang sesuka hatinya. Juga tidak dibenarkan mengabaikan tugas yang diberikan oleh guru. Berbicara sesuka hati ketika menerima pelajaran adalah perilaku anak yang harus dikendalikan. Oleh karena itu, sistem sosial dan tata tertib/peraturan sekolah harus sudah diketahui dan diperkenalkan kepada anak ketika pemberian materi tentang Wawasan “Wiyatamandala” pada permulaan anak masuk sekolah. Ini penting agar anak lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan sekolah secara keseluruhan dalam waktu relatif singkat.

Suatu hal yang sangat penting dan harus dilakukan oleh guru sedini mungkin pada permulaan anak sekolah adalah menanamkan dan menumbuhkan dasar pendidikan moral, sosial, susila, etika, dan agama, dalam setiap pribadi anak. Semua nilai ini sangat diperlukan …100

dalam pembentukan kepribadian anak dan sangat berguna bagi kehidupan anak di kemudian hari.

Di tengah kehidupan sekarang, di mana orang tertentu mulai tidak mengindahkan masalah nilai ”kesopanan” dan ”kehormatan”, kesopanan bahasa kian terkikis dan karena tercemar perilaku. kebarat-baratan rasa hormat anak kepada guru semakin memudar, adalah nilai-nilai sosial-budaya yang sangat tidak sesuai dengan adat ketimuran dan bahkan norma agama. Semua nilai itu harus tidak tertanam pada permulaan anak sekolah. Karena yang ingin dilahirkan adalah anak yang berbudaya yang implementasinya dalam bentuk kesopanan dan kehormatan dalam bersikap dan berperilaku kepada sesama insani, terutama terhadap orang tua dan guru.

Budaya malu berbuat yang tidak baik harus sudah ditanamkan dalam diri anak sejak permulaan sekolah. Hal ini penting, karena dengan adanya rasa malu bagi anak ada filter di dalam dirinya untuk menyeleksi mana perbuatan tercela dan mana perbuatan yang terpuji. Kemampuan anak untuk dapat membedakan baik tidaknya suatu perbuatan sangat penting dan bermanfaat dalam kehidupan sosial di masyarakat yang terkadang tidak bersahabat. Jika di dalam diri anak ada rasa malu berbuat kejahiliyahan, maka itulah yang dikatakan anak yang berbudi pekerti yang luhur. …101

Sumber:
Djamarah, Syaiful Bahri, 2000. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 99-101.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *