Anak Berbakat dan Intervensi Dini

By | 19/08/2020

AsikBelajar.Com | Secara umum, bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Dengan demikian, sebetulnya setiap orang pasti memiliki bakat (aptitude) dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ke tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing. Jadi, secara global bakat itu mirip dengan inteligensi. Itulah sebabnya seorang anak yang berinteligensi sangat cerdas (superior) atau cerdas luar biasa (very superior) disebut juga sebagai talented child, yakni anak berbakat.

Dalam perkembangan selanjutnya, bakat diartikan sebagai kemampuan individu untuk memperlakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung kepada upaya pendidikan dan latihan. Seorang anak yang berbakat dalam bidang ekektro, misalnya, akan jauh lebih mudah #104

menyerap informasi, pengetahuan, dan keterampilan yang berhubungan dengan bidang tersebut dibanding dengan anak lainnya Inilah yang kemudian disebut bakat khusus (specific aptitude), yang konon tak dapat dipelajari, karena merupakan karunia yang dibawa sejak lahir.

Tak dapat disangkal bahwa bakat dapat mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar anak pada bidang-bidang studi tertentu. Oleh karena itu, tidak bijaksana jika orang tua memaksakan kehendaknya untuk menyekolahkan anaknya pada jurusan keahlian tertentu tanpa mengetahui terlebih dahulu bakat yang dimiliki oleh anaknya itu. Pemaksaan kehendak terhadap anak, dan karena ketidaksadaran anak terhadap bakatnya sendiri, sehingga ia memilih jurusan keahlian yang sebenamya bukan bakatnya, (mungkin karena bujukan teman) akan berpengaruh terhadap prestasi belajarnya.

Di sekolah dengan sistem klasikal, di antara anak yang mayoritas berinteligensi normal, mungkin ada satu atau dua orang anak sangat cerdas dan anak sangat berbakat (IQ 140 ke atas). Mungkin juga ada anak yang berkecerdasan di bawah batas rata-rata anak yang berlainan kapasitas inteligensi ini tentu saja tidak sama.

Setiap guru yang profesional sepantasnya menyadari bahwa keluarbiasaan inteligensi anak, baik yang positif seperti ”superior” maupun yang negatif seperti ”borderline”, lazimnya menimbulkan kesulitan belajar bagi anak yang bersangkutan. Gejala yang tampak adalah sukarnya anak beradaptasi dengan lingkungan kelas. Di satu sisi, anak yang cerdas sekali akan merasa tidak mendapatkan perhatian yang memadai dari sekolah karena pelajaran yang disajikan terlampau mudah baginya. Akibatnya, ia menjadi bosan dan frustasi karena tuntutan kebutuhan keingintahuannya (curiosity) merasa dibendung secara tidak adil. Di sisi lain, anak yang bodoh sekali akan merasa sangat payah mengikuti sajian pelajaran karena terlalu sukar baginya. Karenanya anak itu sangat tertekan, dan akhirnya merasa bosan dan frustasi seperti yang dialami rekannya yang luar biasa positif tadi. #105

Untuk menolong anak yang berbakat, sebaiknya guru menaikkan kelasnya setingkat lebih tinggi dari kelasnya sekarang. Kelak, apabila ternyata di kelas barunya itu dia masih merasa terlalu mudah juga, anak tersebut dapat dinaikkan setingkat lebih tinggi lagi. Begitu seterusnya, hingga dia mendapatkan kelas yang tingkat kesulitan mata pelajarannya sesuai dengan tingkat inteligensinya. Bila cara tersebut sulit ditempuh, altematif lain dapat diambil, misalnya dengan cara menyerahkan anak tersebut ke lembaga pendidikan khusus untuk para anak berbakat.

Sebaliknya, untuk menolong anak yang mempunyai kecerdasan di bawah normal, dapat dibantu dengan cara menurunkan ke kelas yang lebih rendah. Konsekuensinya, dapat menimbulkan masalah baru yang bersifat psikososial, yang tidak hanya mengganggu anak itu sendiri, tetapi juga mengganggu ”adik-adik” barunya. Tetapi yang terbaik dan tindakan yang dipandang lebih bijaksana adalah dengan cara memindahkan anak penyandang inteligensi rendah tersebut ke lembaga pendidikan khusus untuk anak-anak penyandang ”kemalangan” IQ. Sayangnya, lembaga pendidikan khusus anak-anak malang dah lembaga pendidikan khusus anak-anak cemerlang di negara kita baru ada di kota-kota tertentu saja dan masih sangat sedikit sekali. #106

Sumber:
Djamarah, Syaiful Bahri, 2000. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 104-106.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *