Aliran Pendidikan Ruang Pendidik INS Kayutanam - AsikBelajar.Com

Aliran Pendidikan Ruang Pendidik INS Kayutanam

AsikBelajar.Com | Sumatera Barat telah melahirkan pemikir-pemikir yang memiliki jiwa-jiwa besar dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia dan memiliki peran penting di bidang pendidikan, salah satunya adalah Engku Mohammad Sjafe’i (Zubir, 2001). Mohammad Sjafe’i lahir di Matan, Kalimantan Barat tahun 1895 (Tirtarahardja & Sulo, 2005). Mohammad Sjafe’i, seorang anak yatim yang ditinggalkan Ayahnya semasa kecil dan diasuh ibunya bernama Sjafia, buta huruf yang pekerjaannya membuat kue untuk dijajakan Sjafe’i. Ibu Sjafe’i tidak dapat menentukan hari dan #113

tanggal lahir anaknya, namun dapat diperkirakan tanggal 31 Oktober 1893 (Baihaqi, 2007). Mohammad Sjafe’i dijadikan anak angkat oleh Ibrahim Mara Sutan (seorang guru negeri yang berpindah tugas ke beberapa tempat di Sumatera, kemudian juga ke Pontianak, Kalimantan Barat) dan Andung Chalidjah (Navis, 1996; Zed, 2012).
Mohammad Sjafe’i mendirikan Ruang Pendidik INS Kayutanam pada tanggal 31 Oktober 1926 di Kabupaten Padang Pariaman Sumater Barat. INS Kayutanam adalah satu sekolah modern bercorak nasional yang peranannya cukup besar pada perkembangan dunia pendidikan Indonesia, khususnya di Sumatera Barat (Halimah, 2012). Setidaknya ada 3 alasan mengapa kita memberikan perhatian khusus pada pemikiran pendidikan Mohammad Sjafe’i, yaitu (1) tak diragukan lagi ia termasuk salah seorang di antara sedikit tokoh pemikir besar dan praktisi di bidang pendidikan bangsa yang telah menunjukkan reputasinya di masa lalu lewat ”ruang pendidikan INS” yang dibinanya sejak tahun 1926; (2) ia telah menanam dan buah pendidikan yang dihasilkannya tidak hanya melahirkan orang-orang ber-keahlian di bidangnya masing- masing, melainkan juga menelorkan generasi terpelajar yang telah tercerahkan dan mencerahkan kesadaran kebangsaan di zaman penjajahan; (3) buah pendidikan para pendahulu ini, pada gilirannya telah menjadi bagian dari mata-rantai center of excellence (”pusat keunggulan”) yang diperlukan bangsa Indonesia dalam membangun harga diri bangsa, lewat “pendidikan yang memerdekakan” (Zed, 2012).

Pendidikan ini berkembang beriringan dengan perjuangan pendidikan Muhammadiyah maupun Taman Siswa. Pendidikan INS Kayu Taman ini berpengaruh secara signifikan terhadap pola pikir masyarakat pada saat itu. INS Kayutanam pada mulanya dipimpin oleh ayah angkatnya, kemudian diambil alih oleh Mohammad Sjafe’i (Rahardja, 2008). Terletak di atas lahan erfpacht seluas 18 ha, komplek INS mulanya sangat sederhana. Saat pertama kali dibuka, minggu 31 Oktober 1926, yakni satu tahun setelah Sjafe’i pulang dari pendidikan di Belanda, bangunan sekolah itu masih menggunakan rumah penduduk yang disewa, terletak di tengah-tengah Nagari Kayutanam, tidak jauh dari stasiun kereta api. Murid angkatan pertama berjumlah 79 orang. Mereka datang dari berbagai daerah. Gurunya hanya Sjafe’i seorang, sehingga murid dibagi dalam 2 kelas, belajar berganti hari. Waktu itu belum punya bangku dan meja dalam ruangan. Para murid belajar di lantai beralas tikar, sedangkan papan tulis disandarkan pada kursi (Zed, 2012). #114
Lihat Halaman Selanjutnya [Klik Disini]

Related Posts

AsikBelajar.Com

Blogger biasa yang berdomisili di Banjarmasin dan berharap blog ini bermanfaat buat pelajar, mahasiswa & masyarakat umum

Leave a Reply

Your email address will not be published.

© 2022 AsikBelajar.Com - Theme by WPEnjoy · Powered by WordPress