Pengaruh Aliran Klasik Terhadap Dunia Pendidikan Indonensia - AsikBelajar.Com

Pengaruh Aliran Klasik Terhadap Dunia Pendidikan Indonensia

AsikBelajar.Com | Awalnya atau sebelum sistem persekolahan ‘modern’ seperti yang semula diperkenalkan oleh kolonialis Belanda, terdapat berbagai ‘institusi’ pendidikan dalam lingkup masyarakat-masyarakat tradisional, baik dalam keterkaitannya dengan berbagai kebudayaan etnik maupun dengan berbagai sistem pemerintahan tradisional yang dalam banyak hal juga sedikit-banyak terkait dengan etnisitas (Tim Paradigma Pendidikan BSNP, 2010). Pendidikan di Nusantara sebenarnya telah ada sebelum pemerintah colonial Belanda mencetuskan trias politika. Ketika pengaruh Hindu-Buda masih kental di Nusantara, pendidikan dikenal dengan istilah padepokan, kemudian pada saat pengaruh Islam masuk, pendidikan dikenal dengan pesantren. Kedua model pendidikan tersebut merupakan pendidikan agama. Pendidikan disampaikan secara tradisional dan belum memiliki kurikulum formal. Sebelum abad ke-20 umat Islam Indonesia hanya mengenal satu jenis lembaga pendidikan #91

yang disebut “lembaga pengajaran asli”, pengajaran ini dalam berbagai bentuk,1 yaitu pendidikan di langgar dan di pesantren (Poerbakawatja, 1970).

Awalnya pendidikan di Indonesia terutama diselenggarakan oleh keluarga dan masyarakat, misalnya kelompok belajar/padepokan, lembaga keagamaan/pesantren, dan lain-lain. Pendidikan oleh keluarga dan masyarakat dalam konteks ini diasosiasikan dengan pendidikan di pondok pesantren (sistem asrama). Hal ini karena pada umumnya, pondok pesantren adalah milik kyai atau sekelompok keluarga. Tak jarang pondok pesantren didirikan atas prakarsa penguasa, raja-raja, atau orang kaya lain. Pondok pesantren sebagai lembaga bagi pendidikan dan penyebaran agama Islam lahir dan berkembang semenjak masa- masa permulaan kedatangan Islam di Indonesia.

Aliran-aliran pendidikan klasik mulai di kenal di Indonesia melalui upaya-upaya pendidikan, utamanya persekolahan, dari penguasa penjajah Belanda dan kemudian disusul oleh adanya orang-orang Indonesia yang belajar di negeri Belanda. Dunia pendidikan Indonesia dikelola secara modern baru dikenal setelah kedatangan bangsa Barat, terutama setelah pemerintah Hindia Belanda melaksanakan kebijakan baru dalam politiknya yang dibuktikan dengan diterapkannya politik etis di Indonesia pada awal abad ke-20. Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk memperbaiki taraf hidup rakyat Indonesia, salah satu cara untuk mencapai sasaran tersebut adalah dengan memberikan pendidikan pada rakyat Indonesia. Selain itu alasan pemerintah Hindia Belanda adalah untuk mempertahankan posisinya sebagai penguasa dan dapat memenuhi kebutuhan dalam pemerintahnya. Selanjutnya, menurut Tirtarahardja & Sulo (2005) pasca kemerdekaan, gagasan-gagasan dari aliran-aliran pendidikan itu masuk ke Indonesia melalui orang-orang Indonesia yang belajar di berbagai Negara di Eropa, Amerika, dan lain- lain. Seperti diketahui, sistem persekolahan diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda di Indonesia.

Penjajah Belanda pada masa itu tidak hanya menghegemoni secara langsung melalui kebijakannya namun juga melalui buku bacaan, koran, dan sejenisnya. Seiring waktu berlalu, persebaran media cetak dan hubungan internasional oleh pemerintahan yang terjadi dengan negara- negara di Eropa dan Amerika kemudian menjadi acuan dalam penetapan kebijakan di bidang pendidikan di Indonesia. Salah satu organisasi massa keagaaman yang cepat merespon dan kemudian mengembangkan sistem persekolahan itu adalah Muhammadiyah. #92

Semua aliran klasik pendidikan pada dasarnya telah mempengaruhi dunia pendidikan di Indonesia. Keempat aliran klasik tersebut banyak diadopsi dalam mengatur sistem pendidikan di sekolah-sekolah di berbagai negara termasuk Indonesia. Aliran-aliran tersebut memiliki kecenderungan untuk mengemukakan satu faktor dominan saja dalam mengembangkan manusia. Sebagai hasilnya, penganut aliran klasik, sebagaimana kebanyakan sekolah formal yang ada di Indonesia, belum mampu untuk mensinergikan yang dididik dengan lingkungannya serta memposisikan yang dididik menjadi subyek pendidik juga, sebagaimana yang dilakukan oleh penganut aliran baru dalam pendidikan.

Aliran empirisme misalnya, menurut Suyitno (2009) pada perkembangnnya spirit empirisme telah banyak mempengaruhi pendidikan. Empirisme menganjurkan agar kita kembali ke alam untuk mendapatkan pengetahuan. Menurut mereka pengetahuan ini tidak ada secara apriori di benak kita, melainkan harus diperoleh dari pengalaman. Berkembanglah pola berpikir empiris, yang semula berasal dari sarjana- sarjana Islam dan kemudian terkenal di dunia Barat lewat tulisan Francis Bacon (1561-1626) dalam bukunya Novum Organum. Rasionalisme dikenal oleh ahli-ahli fikir Barat lewat hasil-hasil karya filosof Islam terhadap filsafat Yunani, yaitu oleh Al-Kindi (809 – 873), Al-Farabi (881- 961), Ibnu Sina (980-1037), dan Ibnu Rusyd (1126-1198). Al-Khawarizmi sebagai ilmuwan Islam, telah mengembangkan aljabar, Al-Batani menemukan goniometri dan angka desimal. Dunia Timur lainnya seperti India telah menemukan matematika dan angka nol, sementara Cina telah menemukan kompas, mesiu, mesin cetak dan kertas. Semua hal itu kini telah berkembang pesat dan mewarnai kehidupan bangsa Indonesia, tak terkecuali dunia pendidikan Indonesia.

Sementara itu, menurut Darajat (2005) dalam perspektif aliran konvergensi pendidik yang mempunyai tugas untuk mendidik dan mengarahkan anak didik seharusnya mengetahui dan sadar akan potensi yang telah dibawa oleh anak sejak lahir (nativisme dan naturalisme), sehingga dalam mengarahkan akan menjadi lebih mudah (empirisme). Akan tetapi dalam kenyataan, kebanyakan para pendidik dalam mengasuh anak didik sering sekali mengabaikan potensi yang ada pada anak didik, sehingga menghambat perkembangan dan menjadikan matinya bakat yang telah dibawa sejak lahir. Usaha-usaha tersebut di atas diharapkan dapat membantu perkembangan potensi (pembawaan) yang telah ada pada diri anak sejak anak itu dilahirkan demi tercapainya tujuan dan keberhasilan pendidikan. Dengan demikian implikasi aliran #93

konvergensi dalam pendidikan memberikan kemungkinan bagi pendidik untuk dapat membantu perkembangan individu sesuai dengan apa yang diharapkan, namun demikian pelaksanaan harus tetap memperhatikan faktor-faktor hereditas peserta didik, kematangan, bakat, kemampuan, keadaan mental dan sebagainya.

Menurut Pramudia (2006) dalam perkembangannya aliran-aliran tersebut telah mengilhami pelaku pendidikan di Indonesia bahwa pendidikan berarti suatu proses humanisasi, oleh sebab itu hak-hak asasi manusia perlu dihormati. Anak didik bukanlah robot tetapi manusia yang harus dibantu di dalam proses pendewasaannya agar dia dapat mandiri dan berpikir kristis. Selain itu pendidikan merupakan hak asasi manusia, oleh karena itu pemerataan pendidikan haruslah dilaksanakan secara konsekuen. #94

Sumber:
Husamah dkk. 2015. Pengantar Pendidikan. Malang: Universitas Muhamadiyah. Hal. 91-94

Related Posts

AsikBelajar.Com

Blogger biasa yang berdomisili di Banjarmasin dan berharap blog ini bermanfaat buat pelajar, mahasiswa & masyarakat umum

Leave a Reply

Your email address will not be published.

© 2022 AsikBelajar.Com - Theme by WPEnjoy · Powered by WordPress